HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Harga minyak mentah yang berpotensi bertahan di atas USD100 per barel hingga akhir Juli mendorong perubahan sentimen pasar global ke arah risk-off. Investor kini meningkatkan kepemilikan aset safe haven di tengah risiko inflasi, ketegangan geopolitik, kebijakan tarif baru Amerika Serikat, serta penantian sejumlah data ekonomi penting dari Eropa dan Inggris.
Risiko gangguan pasokan energi global masih tinggi selama konflik di Timur Tengah belum mereda. Kondisi itu menjaga harga minyak tetap tinggi sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap munculnya tekanan inflasi baru yang dapat membatasi ruang Federal Reserve memangkas suku bunga.
“Selama harga minyak tetap tinggi akibat faktor geopolitik, pasar akan kembali mempertanyakan seberapa cepat bank sentral dapat mulai melonggarkan kebijakan moneternya. Inflasi energi merupakan salah satu faktor yang paling cepat memengaruhi ekspektasi suku bunga.”
Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama turut memperkuat sikap hati-hati pelaku pasar. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang tetap tinggi juga menopang penguatan dolar AS.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan tarif impor baru sebesar 10 persen hingga 12,5 persen terhadap sekitar 60 mitra dagang, termasuk Uni Eropa. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian perdagangan global apabila direspons dengan tarif balasan.
Perubahan sentimen membuat investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dinilai lebih aman. Emas, yen Jepang, dan obligasi pemerintah Amerika Serikat diperkirakan tetap menjadi tujuan utama aliran dana selama ketidakpastian masih berlangsung.
Penguatan Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) juga memperkuat pola risk-off. Dolar yang menguat membuat aset berbasis mata uang AS lebih menarik dibandingkan sebagian aset berisiko maupun komoditas.
Di pasar valuta asing, perhatian investor juga tertuju pada kemungkinan intervensi Bank of Japan apabila pergerakan yen dinilai terlalu ekstrem. Jika langkah tersebut dilakukan, pasangan USD/JPY, EUR/JPY, GBP/JPY, dan AUD/JPY diperkirakan mengalami volatilitas lebih tinggi.
Sementara itu, indeks saham Amerika Serikat seperti Nasdaq dan S&P 500 berpotensi menghadapi tekanan lanjutan akibat aksi ambil untung, terutama pada saham-saham teknologi yang sebelumnya mencatat kenaikan signifikan.
Pada perdagangan hari ini, investor juga mencermati rilis data Retail Sales Inggris pukul 13.00 WIB serta Flash PMI Prancis, Jerman, dan Inggris pada pukul 14.15 hingga 15.30 WIB. Deviasi signifikan dari proyeksi pasar diperkirakan memengaruhi pergerakan EUR/USD, GBP/USD, maupun indeks dolar AS.
Di pasar komoditas, emas diperkirakan tetap memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan aset lindung nilai. Namun, potensi penguatannya masih dipengaruhi arah imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Menurut analis Komunitas Jago FX, rangkaian faktor yang muncul secara bersamaan, mulai dari harga minyak yang berpotensi bertahan di atas USD100 per barel, risiko inflasi, penguatan dolar AS, kebijakan tarif baru Amerika Serikat, hingga ketidakpastian geopolitik yang mendorong perubahan sentimen pasar ke arah risk-off. Dalam kondisi tersebut, volatilitas diperkirakan tetap tinggi di pasar valuta asing, komoditas, dan saham global, sementara permintaan terhadap aset safe haven berpotensi bertahan selama belum muncul faktor yang mampu meredakan ketidakpastian tersebut.

