Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Seperempat Abad Kemudian, The Rain Memilih Pulang Lewat “Semoga Dia Bahagia”

Feby Ferdian
By
Feby Ferdian
Feby Ferdian mengawali karier jurnalistik pada 2012 sebagai reporter di Liputan6.com sebelum mengembangkan kiprahnya di bidang editorial dan manajemen redaksi. Dalam perjalanan profesionalnya, Feby pernah bergabung...
4 Min Read

HEADLINNEWS.IDDi industri musik yang terbiasa melihat band datang dan pergi, bertahan selama 25 tahun dengan formasi utuh terdengar nyaris seperti anomali.

Namun, itulah yang dilakukan The Rain. Sejak berdiri pada 2001, Indra Prasta, Iwan Tanda, Ipul Bahri, dan Aang Anggoro masih memainkan lagu yang sama, di atas panggung yang berbeda, dengan chemistry yang nyaris mustahil direplikasi.

Kini, menjelang perayaan seperempat abad perjalanan mereka, kuartet asal Yogyakarta itu memilih tidak merayakannya lewat album retrospektif atau konser nostalgia. Sebaliknya, mereka memperkenalkan sebuah lagu baru berjudul “Semoga Dia Bahagia”, yang rilis resmi pada 17 Juni 2026 lalu.

Hal ini cukup menarik, karena di saat banyak band seusia mereka sibuk mengenang masa lalu, The Rain justru menunjukkan bahwa cara terbaik merayakan usia adalah dengan terus menciptakan karya.

Tak hanya itu, lagu Semoga Dia Bahagia juga bukan terdengar seperti upaya mengejar tren, melainkan seperti membuka kembali album foto lama.

Denting gitar yang ringan, harmoni vokal yang hangat, melodi yang mudah melekat di kepala, hingga lirik yang sederhana tetapi menyimpan emosi besar, menjadi pengingat akan identitas musikal yang telah mereka bangun sejak awal 2000-an.

“Karena bagi kami, lagu ini seperti membawa kembali ke masa-masa awal berjuang,” kata sang basis, Ipul Bahri mengenang perjalanan mereka.

Perasaan “pulang” itu memang disengaja. The Rain mengaku kembali menengok akar musikal yang membentuk mereka pada era 1990-an.

“Lagu-lagu band seperti Gin Blossoms atau Counting Crows memang banyak memengaruhi kami sejak dulu,” ujar Aang Anggoro, yang bahkan sempat memainkan lagu-lagu Counting Crows ketika masih menjadi drummer Crossbottom sebelum bergabung dengan The Rain.

Secara tematik, Semoga Dia Bahagia juga menunjukkan kedewasaan cara bercerita The Rain. Lagu ini tidak berbicara tentang memiliki seseorang, melainkan tentang menerima kemungkinan paling pahit, yakni mencintai tanpa harus memiliki.

Pada bagian reff, The Rain merangkum perasaan itu dalam satu kalimat yang sederhana tetapi menghantam.

“Tapi jika itu tak terwujudkan, sungguh ku tak mengapa, semoga dia bahagia.”

Kalimat tersebut terasa seperti benang merah perjalanan The Rain selama ini, yakni jujur, apa adanya, dan tidak berusaha menjadi lebih dramatis daripada yang diperlukan.

Menariknya lagi, Semoga Dia Bahagia bukan lagu yang sudah lama disiapkan sebagai single utama. Justru lagu ini muncul belakangan ketika The Rain tengah mengerjakan beberapa materi lain di studio. Begitu Indra Prasta selaku vokalis memperdengarkannya kepada personel lain, keputusan diambil dengan cepat.

“Begitu aransemen dasarnya selesai kami kerjakan bersama, kami langsung sepakat lagu ini yang harus keluar lebih dulu,” kenang Ipul.

Keputusan itu menjadi simbol lain dari hubungan empat personel yang telah berjalan selama 25 tahun. Tidak banyak band Indonesia yang mampu mempertahankan formasi asli selama dua setengah dekade, apalagi tetap relevan di tengah perubahan lanskap industri musik digital.

Tercatat, hingga saat ini, lagu-lagu The Rain masih terus meraup jutaan pendengar bulanan di Spotify, sementara audiens yang memenuhi panggung mereka juga mulai datang dari dua generasi berbeda, dari yang tumbuh bersama “Terlalu Indah,” hingga pendengar baru yang menemukan The Rain melalui platform digital.

Pada akhirnya, alih-alih terdengar seperti band yang sedang bernostalgia, Semoga Dia Bahagia justru membuktikan bahwa identitas musikal The Rain masih memiliki ruang di tengah musik Indonesia hari ini.

Bisa dibilang, 25 tahun kemudian, mereka tidak sedang mencoba menjadi band yang berbeda, hanya mengingatkan kembali siapa diri mereka sebenarnya.

Editor: HL-News
Share This Article
Follow:
Feby Ferdian mengawali karier jurnalistik pada 2012 sebagai reporter di Liputan6.com sebelum mengembangkan kiprahnya di bidang editorial dan manajemen redaksi. Dalam perjalanan profesionalnya, Feby pernah bergabung dengan media internasional Coconuts Media (kini https://sf.gazetteer.co), serta mendampingi berbagai lembaga & organisasi dalam mengembangkan kemampuan menulis, komunikasi publik, dan penyampaian informasi melalui berbagai platform. Di luar aktivitas profesionalnya, ia kini aktif melayani dalam bidang kerohanian Kristen melalui media digital.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!