HEADLINNEWS.ID – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 39 poin atau 0,22% ke level Rp17.843 per dolar AS pada perdagangan Senin (22/6/2026). Pergerakan rupiah tertekan sentimen global, terutama perkembangan konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran serta perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen utama yang memengaruhi rupiah berasal dari dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi global. Menurut dia, pasar merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi aksi militer tambahan terhadap Iran.
“Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran tentang potensi aksi militer tambahan, kecuali Iran mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah yang beroperasi di Lebanon,” kata Ibrahim, Senin (22/6/2026).
Di sisi lain, Ibrahim menjelaskan ketegangan pasar mulai mereda setelah pembicaraan antara AS dan Iran di Swiss menghasilkan kesepakatan awal terkait perpanjangan gencatan senjata.
“Pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global dan menekan harga minyak mentah,” ujar Ibrahim.
Selain konflik geopolitik, indeks dolar AS atau DXY tercatat menguat 0,14% ke level 100,98. Penguatan dolar tersebut ikut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ibrahim menyebut pasar kini menunggu sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat, termasuk data ekonomi kuartal I 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti atau Core PCE.
Data Core PCE menjadi perhatian karena menjadi salah satu indikator yang dipertimbangkan oleh Federal Reserve System dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan inflasi Indonesia. Salah satu faktor yang diperhatikan adalah dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi terhadap inflasi nasional.
Bank Indonesia memperkirakan kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo, dapat memberikan tekanan terhadap inflasi melalui kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices.
Selain kenaikan harga energi, Ibrahim menyoroti risiko imported inflation akibat perubahan harga minyak dan komoditas global yang dapat diteruskan ke harga domestik.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah potensi gangguan cuaca akibat fenomena El Nino. Ibrahim memperkirakan kondisi tersebut dapat terjadi mulai akhir Juni hingga Oktober atau November 2026 dan berpotensi menekan harga pangan bergejolak.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Ia memproyeksikan rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.890 per dolar AS.
Pelemahan rupiah saat ini menunjukkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Dari sisi global, penguatan dolar AS dan risiko geopolitik menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan rupiah.
Dari sisi domestik, risiko inflasi akibat penyesuaian harga BBM dan gangguan pasokan pangan menjadi tantangan bagi stabilitas harga. Jika tekanan inflasi meningkat, ruang kebijakan moneter Bank Indonesia dapat semakin terbatas.
Pasar masih akan mencermati perkembangan hubungan AS-Iran, data inflasi Amerika Serikat, serta kebijakan bank sentral global sebelum menentukan arah pergerakan rupiah berikutnya.

