HEADLINNEWS.ID – Pasar keuangan global mengalihkan perhatian dari konflik Amerika Serikat dan Iran menuju kebijakan Federal Reserve (The Fed). Investor kini menunggu sinyal arah suku bunga setelah risiko geopolitik mulai mereda dan harga energi mengalami tekanan.
Wall Street mencatat penguatan pada perdagangan awal pekan. Indeks Nasdaq melonjak lebih dari 3 persen, S&P 500 naik hampir 2 persen, sementara Dow Jones mencatat rekor penutupan tertinggi baru.
Kenaikan pasar terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka sehingga aktivitas perdagangan energi dapat berangsur normal.
Perubahan situasi tersebut langsung berdampak pada pasar minyak.
Harga minyak mentah Amerika Serikat turun lebih dari 4 persen dalam dua hari perdagangan terakhir. Harga Brent juga melemah ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir karena investor mulai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global.
Penurunan harga energi memberikan tekanan lebih rendah terhadap inflasi. Kondisi tersebut menjadi faktor yang diperhatikan investor menjelang pertemuan Federal Reserve.
Pasar memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan mendatang. Namun perhatian utama investor berada pada pernyataan bank sentral mengenai peluang pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Analis pasar Lukman Hqeem menilai perubahan sentimen global membuat investor kembali fokus pada data ekonomi Amerika Serikat, terutama inflasi dan arah kebijakan moneter.
“Pasar saat ini tidak hanya melihat risiko perang, tetapi mulai menghitung peluang pemangkasan suku bunga. Namun The Fed masih membutuhkan bukti bahwa inflasi bergerak menuju target,” ujar Lukman Hqeem dalam analisisnya.
Menurut Lukman, harga minyak yang lebih rendah dapat membantu menekan inflasi, tetapi bank sentral Amerika Serikat tetap menghadapi tantangan karena inflasi inti masih bertahan dan ekonomi AS masih menunjukkan daya tahan.
Data produksi industri Amerika Serikat pada Mei menunjukkan aktivitas manufaktur masih tumbuh. Namun sektor properti mulai mendapat tekanan akibat biaya pinjaman yang tinggi.
Pembangunan rumah baru di AS turun lebih dari 15 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan tersebut menunjukkan dampak kenaikan suku bunga mulai terasa pada sektor yang sensitif terhadap biaya kredit.
Di sisi lain, data harga impor dan ekspor Amerika Serikat meningkat lebih tinggi dari perkiraan pasar. Kondisi tersebut membuat The Fed tetap berhati-hati dalam menentukan kebijakan berikutnya.
Lukman Hqeem mengatakan bank sentral harus menjaga keseimbangan antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi.
“The Fed tidak bisa terburu-buru menurunkan suku bunga karena keputusan yang terlalu cepat berisiko membuat tekanan inflasi kembali meningkat,” kata Lukman.
Dampak perubahan sentimen juga terlihat di pasar global.
Bursa Eropa bergerak menguat setelah harga energi turun. Investor menilai pelemahan biaya energi dapat membantu industri dan konsumsi masyarakat di kawasan tersebut.
Sementara itu, pasar Asia bergerak beragam. Jepang menghadapi tekanan setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam beberapa dekade untuk merespons tekanan harga.
China masih menghadapi tantangan setelah data penjualan ritel dan investasi menunjukkan pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat dari perkiraan. Pelemahan permintaan domestik China menjadi salah satu risiko terhadap pertumbuhan global.
Di pasar komoditas, emas tetap menjadi aset yang diperhatikan investor. Harga logam mulia bergerak menuju area US$4.300 per troy ounce karena sebagian investor masih mencari perlindungan terhadap risiko ekonomi dan perubahan kebijakan moneter.
Lukman Hqeem melihat penguatan emas mencerminkan kombinasi antara ekspektasi perubahan suku bunga dan ketidakpastian global yang belum sepenuhnya hilang.
“Emas masih mendapat dukungan selama pasar melihat risiko inflasi, perlambatan ekonomi, dan perubahan kebijakan bank sentral masih terbuka,” ujar Lukman.
Meredanya konflik Amerika Serikat dan Iran mengurangi tekanan pada pasar energi, tetapi tidak otomatis menghapus risiko ekonomi global.
Faktor utama yang akan menentukan arah pasar berikutnya adalah keputusan The Fed terkait suku bunga. Jika inflasi terus turun dan ekonomi mulai melambat, peluang pemangkasan suku bunga akan semakin besar.
Namun jika data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan tekanan harga, bank sentral kemungkinan mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
Bagi investor, periode berikutnya akan menjadi pengujian terhadap apakah reli pasar saat ini didukung oleh perbaikan fundamental atau hanya reaksi sementara setelah risiko geopolitik berkurang.

