HEADLINNEWS.ID – Sentimen negatif pasar global menekan perdagangan keuangan domestik pada Senin (29/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,47 persen ke level 5.809,12, sementara harga emas dunia atau XAU/USD terkoreksi ke kisaran USD 4.059 per troi ons.
Tekanan terjadi setelah investor global melakukan aksi jual pada aset berisiko, terutama saham teknologi, serta meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.
Perdagangan IHSG sempat bergerak positif pada awal sesi. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks dibuka di level 5.932,02 dan menyentuh titik tertinggi harian 5.942,77.
Namun, tekanan jual meningkat pada paruh kedua perdagangan. IHSG akhirnya menyentuh level terendah 5.800,28 sebelum ditutup di posisi 5.809,12.
Sektor keuangan dan infrastruktur menjadi pemberat utama indeks. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar mengalami koreksi, termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Analis pasar menyebut pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen eksternal setelah bursa saham Amerika Serikat mengalami tekanan akibat aksi ambil untung pada saham teknologi. Investor mencermati risiko kenaikan biaya infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang dapat menekan valuasi perusahaan teknologi.
Selain faktor global, tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi berlanjutnya aksi jual bersih investor asing di pasar reguler domestik.
Di tengah pelemahan mayoritas saham, beberapa emiten masih mampu bertahan. Saham sektor kesehatan dan sejumlah perusahaan berbasis komoditas emas, termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), bergerak menguat tipis.
Harga emas spot XAU/USD bergerak turun ke level USD 4.059,69 per troi ons atau terkoreksi sekitar 0,67 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Menurut analis Komunitas Jago FX, A. Agustino, pelemahan emas global terjadi karena kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Pergerakan XAU/USD masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS setelah pasar kembali memperhitungkan kebijakan Federal Reserve yang cenderung hawkish. Selain itu, meredanya risiko geopolitik membuat permintaan aset safe haven berkurang,” ujar A. Agustino dalam analisis pasar XAU/USD.
Ia menilai area harga emas masih menjadi perhatian pelaku pasar karena investor menunggu data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah suku bunga The Fed.
Penurunan harga emas global turut berdampak pada harga emas batangan domestik. Harga emas Antam dilaporkan turun Rp15.000 menjadi Rp2.645.000 per gram dibanding posisi akhir pekan.
Pelaku pasar memasuki akhir semester pertama 2026 dengan sikap hati-hati. Investor menunggu sejumlah data ekonomi yang dapat memengaruhi arah pasar saham dan komoditas.
Data yang menjadi perhatian antara lain inflasi domestik Juni, indeks manufaktur PMI, serta laporan tenaga kerja Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP).
Pelemahan IHSG menunjukkan pasar domestik masih rentan terhadap perubahan sentimen global, terutama dari pergerakan saham teknologi dunia, arus modal asing, dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Sementara itu, koreksi emas memperlihatkan bahwa status aset lindung nilai belum sepenuhnya dominan ketika risiko geopolitik menurun dan dolar AS menguat.
Investor perlu mencermati keseimbangan antara tekanan eksternal dan faktor domestik. Jika arus keluar asing berlanjut, saham berkapitalisasi besar berpotensi tetap menjadi sumber tekanan utama bagi IHSG.

