HEADLINNEWS.ID – Sejumlah mahasiswa menggelar aksi demonstrasi bertajuk Menuju Indonesia Bangkrut di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (12/06). Dalam aksi tersebut, massa meminta pengendara yang melintas membunyikan klakson sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai membebani masyarakat melalui pajak.
Aksi berlangsung di salah satu titik lalu lintas padat ibu kota. Massa membawa poster bertuliskan “KLAKSON KALO KALIAN CAPEK BAYAR PAJAK MAHAL” sambil mengajak pengendara memberikan respons melalui bunyi klakson kendaraan.
Sejumlah pengendara terlihat merespons seruan tersebut dengan membunyikan klakson saat melintas. Setiap bunyi klakson disambut sorakan peserta aksi yang berdiri di tepi jalan.
Dalam orasinya, salah satu peserta aksi menyampaikan kritik terhadap penggunaan uang pajak oleh pemerintah. Ia menyebut masyarakat telah menanggung beban pajak yang tinggi, sementara penggunaan anggaran negara dinilai tidak berpihak kepada kepentingan publik.
Momen yang menarik perhatian terjadi ketika massa menghentikan sebuah mobil berpelat nomor TNI yang melintas di lokasi. Para demonstran meminta pengemudi kendaraan tersebut turut membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan terhadap tuntutan mereka.
Setelah kendaraan tersebut membunyikan klakson, massa langsung bersorak. Sejumlah peserta aksi terdengar meneriakkan, “Hore, TNI juga capek”, yang kemudian disambut tepuk tangan peserta lainnya.
Berdasarkan pantauan KoMiC News di lokasi, aksi berlangsung dalam pengawasan aparat keamanan. Arus lalu lintas di sekitar Bundaran HI tetap bergerak meski sempat melambat akibat konsentrasi massa di tepi jalan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah terkait tuntutan yang disuarakan dalam aksi tersebut. Pihak penyelenggara juga belum mengumumkan agenda lanjutan maupun jumlah peserta yang mengikuti demonstrasi.
Aksi ini menunjukkan upaya mahasiswa mengubah pengguna jalan menjadi bagian dari ekspresi protes publik melalui simbol sederhana berupa bunyi klakson. Metode tersebut memungkinkan peserta mengukur respons spontan masyarakat terhadap isu yang mereka angkat.
Di sisi lain, tuntutan mengenai pajak dan penggunaan anggaran negara menyentuh isu yang sensitif karena berkaitan langsung dengan beban ekonomi masyarakat. Namun, hingga saat ini belum terdapat data yang dipublikasikan penyelenggara aksi untuk mendukung klaim mengenai tingginya beban pajak maupun tudingan penggunaan anggaran yang menjadi sasaran kritik mereka.
Respons pemerintah dan data pendukung dari kedua pihak akan menjadi faktor penting untuk menilai substansi tuntutan yang disampaikan dalam demonstrasi tersebut.

