Nulung Mentung: Saat Menolong Justru Menyakiti

HL-News
2 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Pepatah petiti merupakan bagian dari kearifan lokal dalam falsafah Jawa yang sarat makna dan pelajaran hidup.

Nilai-nilainya tidak hanya berlaku bagi masyarakat Jawa, tetapi juga relevan bagi siapa pun yang ingin menjalani hidup dengan lebih selaras, tenang, dan bijaksana.

Pada kesempatan kali ini, kita membahas salah satu ungkapan Jawa, yaitu Nulung Mentung.

Dalam perbincangan bersama Prof. Dr. Ir. Sri Puryono, seorang pemerhati falsafah Jawa sekaligus Guru Besar Sekolah Pascasarjana Undip Semarang, dijelaskan bahwa Nulung berarti menolong, dan Mentung berarti memukul atau menyakiti.

Sehingga, Nulung Mentung menggambarkan kondisi di mana seseorang menolong, tetapi justru di balik itu ada tindakan yang menyakiti atau merugikan orang yang ditolong.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena ini masih sering kita temui di masyarakat, misalnya:

Memberi pinjaman uang, tetapi dengan bunga tinggi yang memberatkan (praktik rentenir).

Membantu mempromosikan usaha orang lain, namun meminta imbalan berlebihan.

Memberi bantuan dengan syarat yang tidak pantas atau merugikan pihak lain.

Secara lahir terlihat membantu, tetapi sejatinya justru menekan dan menyulitkan.

Ungkapan Serupa: Nulung Kepentung

Selain Nulung Mentung, ada juga istilah Nulung Kepentung, yaitu kondisi di mana orang yang menolong justru terkena dampak buruk.

Contohnya:

Menolong orang di jalan, tetapi malah dimanfaatkan atau dirugikan.

Membantu tanpa pertimbangan, lalu justru mendapat masalah.

Pesan Bijak

Dari kedua ungkapan tersebut, ada pelajaran penting:

1. Menolong harus dengan niat tulus dan ikhlas

Tanpa pamrih, tanpa mengharapkan keuntungan pribadi.

2. Tetap gunakan kebijaksanaan dan kewaspadaan

Tidak semua orang yang meminta bantuan memiliki niat baik.

3. Hindari bantuan yang merugikan

 Jangan sampai niat menolong berubah menjadi tindakan yang menekan atau menyakiti.

4. Bangun kepedulian sosial sejak dini

Terutama bagi generasi muda, agar tidak menjadi pribadi yang acuh terhadap lingkungan.

Penutup

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Tolong-menolong adalah bagian dari kehidupan. Namun, pastikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar meringankan, bukan justru menambah beban.

Ingat:

*Menolonglah dengan hati yang tulus, bukan dengan maksud tersembunyi.”

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!