Oleh: Sudadi, Ka Pustak DPP LVRI
Dalam dunia modern, otak manusia sekarang seperti tidak pernah benar-benar istirahat.
Jari sibuk menggulir layar, mata menatap tanpa berkedip, sementara pikiran ikut diseret ke sana kemari. Di media sosial orang menyebutnya scrolling.
Saya kadang berpikir, jangan-jangan yang sebenarnya sedang di-scroll bukan cuma layar hape, tapi juga isi kepala kita.
Pagi bangun tidur, sebelum kaki turun dari tempat tidur, tangan sudah meraba hape.
Buka satu aplikasi, pindah ke aplikasi lain. Lihat berita, video lucu, gosip artis, perang di negeri jauh, resep panjang umur, orang joget, motivasi hidup, lalu tiba-tiba iklan herbal pencegah nyeri sendi .
Semua lewat begitu saja seperti kendaraan di jalan raya.
Otak dipaksa ikut berlari.
Kadang kita sendiri tidak tahu sedang mencari apa.
Masuk ke media sosial hanya “sebentar”, eh tahu-tahu satu jam hilang. Seperti orang masuk pasar malam tanpa tujuan.
Lampunya ramai, suaranya gaduh, semua menarik perhatian. Akhirnya pulang cuma membawa kepala penuh suara.
Lucunya, manusia modern sekarang sulit menikmati sepi. Lima menit tanpa hape terasa gelisah. Saat menunggu kopi datang, buka hape. Di warung makan buka hape. Bahkan saat ngobrol dengan teman, mata masih melirik layar.
Dunia di genggaman itu seperti punya magnet yang terus menarik perhatian kita.
Dulu orang kalau duduk di teras rumah memandang jalan, melihat anak-anak main layangan, mendengar suara burung sore hari.
Sekarang kepala menunduk semua. Yang lewat bukan lagi tetangga, tapi video-video pendek yang datang tanpa diundang.
Yang lebih berat sebenarnya bukan mata yang lelah, tapi otak yang terus dijejali macam-macam informasi.
Hari ini kita bisa tertawa karena video lucu, lima menit kemudian marah membaca berita politik, lalu sedih melihat bencana, lalu iri melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar.
Emosi diputar seperti mesin blender.
Kadang saya membayangkan otak manusia modern seperti becak yang dinaiki terlalu banyak penumpang.
Semua ingin cepat sampai. Semua minta perhatian.
Ironisnya, semakin banyak yang kita lihat, kadang semakin kosong yang kita rasakan.
Karena scrolling sering bukan pencarian jawaban, melainkan pelarian dari kesunyian. Kita takut diam. Takut sendirian dengan pikiran sendiri.
Padahal hidup tidak selalu harus bergerak cepat seperti layar media sosial. Ada kalanya otak perlu berhenti sebentar.
Duduk santai. Ngobrol sungguhan dengan orang di sebelah. Mendengar suara hujan tanpa direkam. Menikmati kopi tanpa sambil melihat video orang lain minum kopi.
Hape memang benda kecil.
Tapi diam-diam dia sudah menjadi pengendali ritme hidup manusia modern.
Dan tanpa sadar, sekarang bukan kita yang memegang hape. Kadang justru hape yang memegang kita.

