Oleh: DR. Prasetyo Utomo
Mengapa seorang gubernur perlu mengangkat kearifan lokal dalam rekonstruksi budaya?. Tentu karena begitu banyak agen budaya yang tumbuh di daerah, menggerakkan rekonstruksi budaya bagi masyarakat sekitar, bahkan ke tingkat nasional dan dunia.
Kita takjub pada Ahmad Tohari di daerah Banyumas. Kita memiliki Tanto di daerah Mendut. Kita mengenal Gus Mus di Rembang dan Mas Ton Lingkar di Semarang.
Kearifan lokal yang mereka kembangkan berfungsi sebagai pandangan hidup, identitas budaya, Kearifan lokal mencakup aspek tradisi, adat istiadat, seni, dan ritual lokal.
Kearifan lokal dapat pula berupa nilai sosial, yang meliputi nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, solidaritas dan tata krama.
Lebih menarik lagi, kearifan lokal merambah pencarian tradisi, praktik pertanian adat, dan pengelolaan ekonomi lokal. Yang menarik, kearifan lokal meliputi juga kepercayaan, nilai-nilai moral, dan pandangan hidup yang terkait dengan alam semesta.
Jawa Tengah pernah memiliki gubernur yang gigih mengembangkan kearifan lokal sebagai identitas budaya.
Gubernur Ismail (1983-1993) suka sekali turun ke desa-desa, sambil memperkenalkan identitas budaya yang cocok untuk masyarakatnya.
Konstruksi bangunan, gaya hidup, dan seni yang berlawanan dengan identitas budaya ditolaknya.
Pada masa beliau memimpin Jawa Tengah, identitas Jawa Tengah merupakan narasi besar yang gencar dipertahankan. Ia sering mengadakan pertunjukkan wayang kulit untuk mengisi acara penting,
Dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari melakukan rekonstruksi kearifan lokal daerah Banyumas ke dalam bentuk teks fiksi yang menerima hadiah sastra SEA Write Award 1995.
Novel ini difilmkan dengan judul Sang Penari dan telah membuka inspirasi bahwa kearifan lokal membuka peluang untuk memasuki industri buku dan film.
Sampai hari ini, ia dihormati sebagai tokoh di daerah Banyumas, yang menjadi panutan para seniman untuk melakukan rekonstruksi kearifan lokal. Ia telah berhadapan dengan narasi besar oposisi binner: pusat-daerah.
Begitu juga dengan Tanto Mendut, pemimpin Komunitas Lima Gunung. Saat ia menyelenggarakan Festival Lima Gunung yang berskala internasional menandai kegairan tari dari lereng gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh untuk menemukan ekspresi kearifan lokal.
Pertama, mereka ingin mengembangkan identitas budaya mereka. Kedua, selalu berkembang manajemen gotong royong di antara para penari. Ketiga, mereka menghidupkan spiritualitas masyarakat gunung. Keempat, mereka memiliki gerakan masyarakat seniman gunung, yang tak pernah disusutkan seni modern.
Keberadaan Gus Mus di Rembang menjadi potret baru kaum ulama yang mengambil jarak dengan kekuasaan, melancarkan satire dan kritik terhadap pemerintah melalui puisi.
Puisi-puisi Gus Mus ingin mengembalikan demokrasi, kesadaran religiusitas, dan masyarakat yang tak dibayangi ketakutan terhadap penguasa.
Kehadiran Gus Mus dengan pembacaan puisi-puisinya yang disebut “puisi balsem” telah memperoleh ruang untuk melakukan rekonstruksi budaya, di tengah zaman gelap.
Puisi-puisi itu telah menjadi katarsis, yang membasuh debu peradaban yang lekat di hati para penguasa.
Kehadiran Teater Lingkar yang dipimpin Mas Ton juga menjadi simbol rekonstruksi budaya yang tak menyerah dengan gempuran budaya asing.
Mas Ton tetap kukuh mementaskan teater, dan menyelenggarakan pergelaran wayang kulit untuk mengukuhkan identitas budaya.
Begitu banyak grup teater mengalami kebangkrutan, tetapi Mas Ton tetap kokoh dengan grup teater yang dipimpinnya.
Sesungguhnya gerakan rekonstruksi budaya yang dilakukan para sastrawan, seniman, ulama, dan dramawan ini meretas hegemoni pusat, yang membatasi ruang gerak kreativitas.
Mereka mencipta sebuah ruang yang memungkinkan tasiran-tafsiran baru seni budaya terus terbuka luas.
Apa yang pernah dilakukan Gubernur Ismail, mendorong dinamika dan produktivitas seni yang berpijak pada kearifan lokal.
Ia menolak untuk menutup pintu bagi kreativitas dan produktivitas pelaku seni, Kehadiran kesenian dengan kearifan lokal tak terbayangkan para pelaku seni dari pusat.
Kearifan lokal berperan membongkar logosentrisme dalam bidang seni dan budaya.
Sudah selayaknya bila gubernur baru memberi makna pada rekonstruksi budaya untuk membentangkan tafsiran-tafsiran baru seni budaya yang membawa kegairahan penataan ulang bersama konvensi seni budaya.
Seorang gubernur hendaknya memberikan makna seni budaya yang memancarkan kearifan lokal itu. Jangan sampai seni budaya mengalami degradasi, keusangan, atau krisis, karena terjebak sebagai propaganda politik.

