Dari Bocah Penjual Es hingga Juragan Bakso: Awal Perjalanan Hadi Mulyono

HL-News
By
HL-News
4 Min Read
Oleh: HL-News

HEADLINNEWS.ID – Di tengah keramaian Pasar Babadan, terdapat sebuah warung yang sudah lama dikenal para penikmat bakso dan mie ayam. Di sanalah Bapak Ngadimin, atau yang kini lebih populer dengan nama Hadi Bakso, membangun salah satu jejak panjang perjalanan hidupnya.

Hampir setiap hari warung tersebut ramai oleh pengunjung. Sebagian merupakan pelanggan yang sudah datang berulang kali, sementara lainnya datang setelah mendapat informasi tentang kuliner yang berada di kawasan Babadan, Ungaran, tersebut.

Menariknya, tak hanya sekedar tentang rasa di lidah, warung ini juga masih menyimpan rekaman kerja keras sang pemilik, yang bahkan telah dimulai sejak usia yang masih muda.

Berikut sedikit jejaknya, yang akan kita mulai dengan bab pertama, yakni sebelum dirinya dikenal sebagai Hadi Bakso.

Ya! Pria itu adalah Ngadimin, seorang anak dari keluarga sederhana di wilayah Gemolong, Sragen.

Pada usia sekitar 13 tahun, kehidupannya mulai bersentuhan langsung dengan dunia kerja. Sekitar 1986-1987, ia merantau ke Kabupaten Demak dan berjualan es kado keliling di sekitar Pasar Sayung.

Dagangan tersebut diambil dari juragan untuk kemudian dijual kembali. Dari satu tempat ke tempat lain, Hadi kecil berkeliling menawarkan es kepada pembeli.

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, Hadi merasa berkewajiban membantu perekonomian keluarganya. Keadaan keluarganya yang tengah dalam kondisi sulit memaksanya untuk bergerak mencari penghasilan sendiri, hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang pedagang.

Dalam perjalanannya, Hadi bertemu dengan banyak orang. Ia menawarkan dagangan, menghadapi pembeli, dan tentu saja menghitung hasil yang diperoleh setiap hari.

Semua terasa seperti rutinitas, yang tak pernah ia sangka bahwa pengalaman tersebut, rupanya akan menjadi bekal penting ketika dirinya memasuki dunia kuliner.

Setelah beberapa waktu berjualan es, Hadi kemudian bekerja ikut orang yang menjalankan usaha bakso. Dari pekerjaan itulah, dirinya mulai mempelajari seluk-beluk usaha yang nantinya justru menjadi jalan hidupnya.

Hadi belajar membuat dan menjual bakso, mengenal bahan-bahan, melayani pelanggan, sekaligus memahami bagaimana sebuah usaha kuliner dijalankan dari bawah.

Perjalanan mencari pengalaman bahkan membawanya hingga ke Kalimantan, sebelum akhirnya memiliki keinginan untuk berdiri sendiri.

Awal 1991, ia memutuskan kembali ke Jawa. Saat itu usianya sekitar 18 tahun.

Rencananya, Hadi ingin membuat gerobak sendiri dan mulai berjualan bakso dengan usahanya sendiri. Ia pulang ke rumah dengan harapan mendapatkan doa dan restu keluarga sebelum memulai kehidupan barunya sebagai pedagang.

Tetapi, kepulangannya membawa keadaan yang berbeda.

Ayahnya, yang sehari-harinya juga berjualan bakso di sekitar Pasar Babadan, sedang sakit. Gerobak yang biasa digunakan sang Ayah untuk berjualan kini dititipkan di sebuah los milik warga di kawasan pasar.

Mendapati kenyataan itu, Hadi akhirnya tidak jadi membuat gerobak baru, melainkan meneruskan usaha bakso milik ayahnya.

Dengan gerobak lama itulah, Hadi mulai menjalani kehidupannya sebagai pedagang bakso mandiri.

Sayangnya, baru sekitar tiga bulan menjalani usaha tersebut, sebuah kabar duka datang.

Pada 29 April 1991, ayahnya meninggal dunia.

Sejak saat itu lah, perjalanan Hadi berubah.

Ia bukan lagi sekadar anak muda yang sedang mencoba membangun usaha sendiri. Sebagai anak sulung, ada keluarga yang harus ikut dipikirkannya.

Dan dari sebuah gerobak tua di kawasan Pasar Babadan tersebut, perjalanan panjang yang kelak membawa nama Hadi Bakso dikenal banyak orang benar-benar dimulai.

(Bersambung)

Editor: HL-News
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!