HEADLINNEWS.ID – Ada pepatah lama, mungkin sudah usang, jadi tidak perlu dianggap, alias diabaikan, yakni ‘Tong Kosong Berbunyi Nyaring.”
Ada lagi, ‘Air Beriak Tanda Tak Dalam.” Ahh (maaf) taek, itu mah jadul, kuno, ketinggalan zaman. Karena sekarang yang berlaku, siapa vokal, siapa nyinyir, siapa kontroversial malah akan didengar. Pukul dulu, hajar, urusan belakangan.
‘’Ya, ya setuju, saya suka itu. Teriak (hajar) dulu, urusan belakang,’’ ujar Kang Sosro, pagi-pagi bersungut-sungut begitu lihat berita di Tivi, (Rocky) Gerung jadi Wantimpres. Apa sih hebatnya Gerung (Rocky Gerung maksudnya) kok bisa-bisanya Presiden Prabowo kasih dia kepercayaan seperti itu (jadi Wantimpres).
Buat saya, kata Kang Sosro lagi, tapi maaf ya, maaf ini pendapat pribadi, Gerung nggak pas, juga nggak pantas di situ (Wantimpres). ‘’Maaf, sekali lagi maaf, dia itu kompetensinya apa, mahakarya Gerung itu apa. Doktor kagak, Profesor apalagi,’’ tambah Kang Sosro.
Ya, ini fair-fair saja, kalau jadi Wantimpres pertimbangannya adalah untuk melakban, istilah lain membungkam pernyataan-pernyataannya yang nakal, usul, jahil, meski tak berisi, kok primitif banget bangsa ini. Karena kritik adalah threatmen atas kondisi sungsang yang mesti dikoreksi.
‘’Saya menaruh hormat, respek pada Faizal Basri (Alm), beliau konsisten, teguh, penuh dedikasi,’’ begitu Sosro bersemangat mempertahankan pendapat.
Sangkar Emas
Makanya, kembali ke pokok persoalan, apa tujuan Prabowo merekrut Gerung jadi Wantimpres. Kalau pertimbangannya adalah tak terus berolok-olok, matilah spirit demokrasi kita. Ya, apa boleh dikata Wantimpres akan sekadar menjadi kandang segala macam burung oceh-ocehan bernyanyi di sana.
Silakan bernyanyi, silakan bersuara, apa saja, sekeras-kerasnya, toh tak akan ke mana-mana. Mereka akan nyanyi, bicara sampai ‘ngedhen’ pun juga hanya di dalam sangkar.
Nah, kalau Wantimpres dirancang seperti itu saya usul sejumlah nama, Dedy Corbuzier, Butet Kertarajasa, Tio Ardiyanto jangan sampai kelewatan. Bukannya saya (Kang Sosro) menambahkan, tidak menghargai, apalagi tidak mengakui kehebatan mereka (Dedy Corbuzier, Tio Ardiyanto, ataupun Butet).
Hebat iya, tapi pinter nggak aahh. Jujur, saat pertama atau awal-awal Tio nongol sempat kepo, ‘’Keren juga,’’ begitu gumamku, kala itu. Sekarang mah, overdosis!
‘’To the point aja, sekadar ngelihat pun udah eneg, apalagi dengar dia ngomong, mendingan matiin itu Tivi, atau tutup telinga.’’
Kesan yang saya tangkap dan menjadi insight adalah, ini orang cari sensasi. Ya macam-macam lah cara orang cari makan.
‘’Boleh kan saya punya penilaian seperti ini, sama kayak sampean menilai pendekar-pendekar, pemimpin negeri ini asal njeplak aja,’’ kembali Kang Sosro meradang.
Kang Sosro, meski udah pensiun dari wartawan, juga manol-manolan tetap nggak respek sama Butet.
Pentolan Teater Gandrik asal Yogyakarta itu pinter apa sih. Monolognya nggak lucu-lucu amat, cuma menirukan suara tokoh, siapa pun bisa, itu kan seperti burung beo, kalau si empunya rajin melatih, wow luar biasa.
‘’Apa itu yang dimaksudkan sebagai daripada orang pinter,’’ ujar Kang Sosro menirukan logat Butet.
‘’Kamu (Kang Sosro) kok sirik, kok senewen terus dari tadi kenapa, ada apa?’’ begitu Pujo dengan melembut menyela.
‘’Apa lagi ada masalah, ribut sama istri ya? Mbok yang sareh, yang sabar. Menungsa iku cinipta padha, ginaris beda (manusia itu diciptakan sama, tapi nasibnya beda-beda). Aja mbok ireni, ojo mbok mereni,’’ ucap Pujo lagi meredakan.
Sampai di titik ini renungan bergulir, kalau blek kosong bunyinya nyaring, apa iya nyaringnya kritik Gerung biar dia dilantik jadi Wantimpres. Lantas apa ya motivasi Tiyo Ardiyanto, jemaah Maiyah asal Kudus yang sempat mengorbit.
‘’Saya kalau sama Cak Nun takzimnya minta ampun, beliau tokoh hebat. Kalau Tiyo kagak bisa,’’ celetukan Sutris, tiba-tiba gatal dan ikut nimbrung.
Era disrupsi menghadirkan berupa-rupa muatan seperti air bah bergulung-gulung dari gunung nyaris tanpa kendali. Apalagi gunungnya gundul, hutannya dibabati untuk galian C, lengkap setiap kali hujan bencana mengancam.
‘’Ini seperti banjir Mangkang di Semarang, mereka itu kok ya nggak paham. Susuri saja Kali Bringin, nanti kan ketahuan biang penyebab banjirnya,’’ sergah Ronny, tokoh LSM di Kota Lumpia.
Ya pasti banjir lah, dan banjir lumpur lagi. Bagaimana tidak, tanpa dibuat talud, bukit sepanjang sungai dipotong begitu saja, lantas dibuang ke sungai. Pastilah saat hujan tanah itu jadi lembek, alias lumpur larut jadi banjir lumpur. Tapi apa mau dikata karena duit, mereka, orang Kelurahan, orang Kecamatan, pejabat di Dinas Teknis Pemerintah kena tutup mulut, akhirnya diam.
Fenomena ini mengingatkan kisah sebuah film karya Kaze Tachinu. Judul film itu The Wind Rises (angin berbisik). Pesannya janganlah pernah berhenti bersuara, kalau bisa lebih baik teriak nyaring, belajarlah kepada Gerung, Tiyo, Butet, atau pengacara-pengacara yang asal berani (omong) saja.
Untuk diketahui, pejabat pemerintahan sekarang tidak suka gaduh. Untung tokoh yang suka nyulik aktivis sudah tobat, maka mereka yang berisik dijadikan Wantimpres. Masak iya begitu, kok naif, nirlogika, kalau benar sama saja keblinger.
Oh angin, angin biasanya berembus, membawa semilir dan sepoi-sepoi, kenapa sekarang berbisik. Narasi ini saya jadi ingat budayawan Mendut, namanya Tanto yang kemudian dijuluki Tanto Mendut.
Menurut Tanto yang berkhidmat dan mendedikasikan diri dengan segudang aktivitas di Studio Mendut, sekarang ini kita mudah terpukau, terpikat, dan bahkan takut pada suara keras, apalagi kritik keras.
Kecenderungan ini disadari dimanfaatkan kalangan tertentu yang paham psikologi juga konstelasi politik.
Apalagi menghadapi pejabat yang demen onani, mencari kepuasan sendiri, mereka takut, mereka jengah mendengarkan kritik.
Jangan kaget, pengkritik, orang-orang yang suka kritik akan diberi penghargaan, setidaknya jabatan, seperti Gerung.
Atas dasar itulah pantas menyitir istilah Tanto, layak bagi Gerung mendapatkan Cocot Kencono Award. Selamat.
Jayanto Arus Adi, Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat, dan duduk sebagai Pengurus Pusat SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) dan Plt Ketua SMSI Jateng. SMSI adalah salah satu konstituen Dewan Pers.
Tahun 2025 mengikuti PPNK Lemhanas RI Angkatan 227. Selain tetap aktif sebagai praktisi media, juga berkiprah sebagai konsultan media dan komunikasi. Ikut berkontribusi di Satu Pena (organisasi penulis yang dipimpin Denny JA).
Mengajar jurnalistik di beberapa kampus, juga aktif di MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia) sebagai Ketua Umum Nasional. Saat ini tengah menempuh S3 (Program Doktoral) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bidang yang dipilih adalah Prodi Pertanian, Komunikasi Agribisnis, dan Ketahanan Pangan.
Headlinnews.id adalah media online yang didirikan dan dinahkodai langsung sebagai CEO sekaligus Pemimpin Redaksi. Dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”, media ini didedikasikan menjadi oase bagi informasi alternatif, sekaligus lokomotif penggiat civil society.

