HEADLINNEWS.ID – Penyebab empat orang yang meninggal dunia saat sedang menginap alias glamping di obyek wisata alam Posong, Temanggung menemukan titik terang dari hasil penyelidikan Polda Jawa Tengah serta Polres Temanggung.
Satu keluarga yang menjadi korban tersebut diduga mengalami keracunan gas alat pembakar dan untuk memasak makanan.
Kapolres Temanggung AKBP Zamrul Aini menjelaskan bahwa peristiwa meninggalnya satu keluarga yang berjumlah empat orang terjadi di wisata Posong pada (27/5).
Para korban ditemukan telah meninggal di dalam tenda setelah menginap semalam dan kejadian sudah dicegah pengelola setempat yang melarang untuk tidak menyalakan alat pembakaran di dalam tenda tempat penginapan.
“Keempat korban menginap di Glamping Safari Nomor 3. Sebelum insiden, petugas pengelola telah mengingatkan agar tungku tidak dinyalakan di dalam tenda karena berpotensi menimbulkan bahaya kebakaran maupun gangguan pernafasan akibat gas hasil pembakaran,” ucap dia dalam gelar perkara di Mapolda Jateng, Senin (15/6).
Petugas kawasan wisata dan para pengunjung curiga mengetahui sebuah tenda masih berdiri, sementara di lokasi sudah menunjukkan waktu check out atau batas akhir menginap. Muncul kecurigaan lagi, setelah penghuni tenda itu tidak memberikan respons saat didatangi.
Setelah tenda dibuka untuk pengecekan, ternyata empat orang wisatawan satu keluarga itu dalam kondisi tidak sadarkan diri. Kemudian, pengelola wisata menghubungi pihak kepolisian terdekat setempat guna memastikan kondisi korban dan melakukan pemeriksaan.
Korban ditemukan telah meninggal dunia. Selain mengevakuasi korban, petugas juga melaksanakan olah TKP dan menemukan dugaan kejadian dipicu oleh keracunan gas yang digunakan untuk memasak di dalam tenda.
“Penyidik Polres Temanggung dan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng menyimpulkan tidak ditemukan kekerasan pada para korban. Penyebab kematian dipastikan akibat karbon monoksida bukan keracunan makanan,” jelas AKBP Zamrul.
Proses penyelidikan termasuk juga melibatkan tim Bid Dokkes untuk memeriksa sampel makanan. Barang bukti kemudian dibawa untuk diperiksa guna investigasi di laboratorium.
Kasubbid Kimia Biologi Forensik Bidlabfor Polda Jateng AKBP Ibnu Sutarto menjelaskan pihaknya telah menguji serta melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari sumber gas karbon monoksida.
“Hasil pengujian menunjukkan diduga kuat gas karbon monoksida berasal dari pembakaran tungku di dalam tenda. Konsentrasi gas yang dihasilkan dapat mencapai 2000 ppm yang sangat berbahaya bagi manusia. Meskipun di luar dan tempat terbuka, gas yang dihasilkan tetap masih berbahaya dan berpotensi memicu keracunan di sekitar serta di dalam tenda,” katanya.
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir mengungkapkan bahwa penyidik sempat mendalami berbagai kemungkinan penyebab kematian, termasuk dugaan keracunan makanan. Selain itu, tidak ada temuan dugaan bunuh diri sehingga meninggalnya korban murni disebabkan gas monoksida.
“Kami mendalami kemungkinan keracunan makanan. Namun setelah dilakukan pemeriksaan terhadap makanan yang dibawa korban maupun sisa makanan di rumah korban yang dikonsumsi sebelum keberangkatan, tidak ditemukan zat beracun yang menjadi penyebab kematian,” jelas dia.
Temuan juga diperkuat hasil pemeriksaan autopsi para korban serta dengan pendalaman toksikologi. Menurut Kabid Dokkes Polda Jateng Kombes Pol drg. Agung Hadi Wijanarko analisa forensik menunjukkan korban yang meninggal mengalami keracunan karbon monoksida dan akhirnya mengakibatkan kematian.
“Pemeriksaan forensik terhadap korban dan sampel darahnya menunjukkan adanya tanda-tanda keracunan karbon monoksida. Kami juga tidak menemukan luka akibat kekerasan di tubuh para korban maupun kandungan zat beracun lain seperti sianida yang dapat menyebabkan kematian,” terang dia.

