Ekspedisi Cicatih Elpala Tuntas, Arungi Sungai 20 Kilometer

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
5 Min Read

HEADLINNEWS.IDSUKABUMI, Ekspedisi Cicatih Elpala berakhir di Pelabuhanratu pada Jumat (10/7/2026) setelah menyusuri aliran Sungai Cicatih dari Leuwi Lalay, Sukabumi, Jawa Barat. Perjalanan ini menjadi etape terakhir ekspedisi yang dimulai dari hulu Sungai Cimelati sekaligus penutup proses pengambilan gambar film dokumenter.

Ekspedisi yang berlangsung pada 4–10 Juli 2026 itu mengusung semangat petualangan, konservasi, dan regenerasi generasi muda pencinta alam. Kegiatan ini digagas Rumah Elpala, wadah alumni Elpala SMA Negeri 68 Jakarta, bersama anggota aktif Elpala SMA Negeri 68 Jakarta, sekaligus menjadi bagian dari produksi film dokumenter yang merekam perjalanan melintasi hutan hujan tropis Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) hingga pengarungan Sungai Cicatih.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Boogie, PMBC (Pickup Mini Bus Community), Kementerian Kehutanan, serta organisasi pencinta alam Wanadri. Selama enam hari, peserta menjalani trekking, mendirikan camp, pendakian, rappelling air terjun, hingga pengarungan sungai sambil mendokumentasikan keanekaragaman hayati dan menyampaikan pesan konservasi.

Sebelum memasuki etape pengarungan sungai, tim bergerak dari base camp Cimelati menuju kawasan TNGHS. Mereka menempuh jalur pendakian hingga Pos 5, melintasi lembah hutan primer, kemudian menuju Sungai Cicatih untuk memulai pengarungan bersama tim Wanadri.

Saat menyusuri Sungai Cicatih, tim juga menemukan debit air sungai menurun akibat musim kemarau. Permukaan air diperkirakan turun sekitar satu meter dibandingkan kondisi normal.

Kondisi tersebut disampaikan salah seorang warga setempat, Rio, yang ditemui tim saat menyusuri Sungai Cicatih. Menurutnya, perubahan debit air cukup terasa akibat musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

“Sekarang kondisi Sungai Cicatih memang mengalami penurunan air. Kalau dibandingkan biasanya, permukaan air turun sekitar satu meter akibat kemarau,” ujar Rio.

Temuan itu menjadi bagian dari catatan perjalanan ekspedisi sekaligus dokumentasi mengenai kondisi ekosistem sungai. Tim menilai fenomena tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kawasan hutan yang berperan sebagai penyangga sumber air.

Setelah melewati berbagai tantangan medan, Ekspedisi Cicatih Elpala mencapai garis finis di Pelabuhanratu pada Jumat (10/7/2026) sore. Tim menyelesaikan pengarungan Sungai Cicatih sejauh kurang lebih 20 kilometer dalam waktu sekitar delapan jam.

Kedatangan tim di lokasi akhir disambut Danramil 2202/Palabuhanratu Kapten Chk Agus Hermansyah, Kepala Desa Jayanti Nandang, serta tokoh masyarakat Haji Dasim. Penyambutan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap perjalanan edukatif yang mengedepankan nilai petualangan, keselamatan, dan konservasi lingkungan.

Pendiri Elpala Dar Edi Yoga mengatakan keberhasilan ekspedisi ini menunjukkan bahwa kegiatan pencinta alam tidak hanya berkaitan dengan menempuh medan, tetapi juga membangun karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Ekspedisi Cicatih Elpala bukan sekadar perjalanan fisik dari hulu hingga hilir sungai, tetapi perjalanan nilai. Di alam, generasi muda belajar tentang disiplin, kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan,” ujar Dar Edi Yoga.

Menurutnya, film dokumenter yang diproduksi dalam ekspedisi ini diharapkan tidak hanya menjadi catatan perjalanan, tetapi juga media edukasi mengenai pentingnya menjaga kawasan konservasi.

“Kami ingin dokumenter ini menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai alam Indonesia dan memahami bahwa menjaga hutan serta sungai adalah tanggung jawab bersama,” tambahnya.

Sementara itu, sutradara film dokumenter Ekspedisi Cicatih Elpala yang juga pendiri Elpala, Eka Bama Putra, menjelaskan karya tersebut tidak hanya merekam sisi petualangan, tetapi juga nilai perjuangan, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan alam.

“Film ini ingin bercerita tentang hubungan manusia dengan alam. Ada nilai perjuangan, persaudaraan, nasionalisme, dan bagaimana alam membentuk karakter seseorang. Setiap perjalanan memiliki cerita, dan setiap tantangan memberikan pelajaran,” ujar Eka Bama Putra.

Ia menegaskan setiap kegiatan ekspedisi harus mengutamakan persiapan dan keselamatan agar memberikan manfaat bagi pelaku maupun lingkungan.

“Petualangan harus dilakukan dengan persiapan matang, kemampuan yang sesuai, dan tetap mengutamakan keselamatan. Dari sanalah sebuah ekspedisi dapat memberikan manfaat, bukan hanya bagi pelakunya tetapi juga bagi masyarakat dan alam,” katanya.

Tim inti ekspedisi diperkuat Muhammad Nabil, Galuh Parto Legawa, Tiffany Sheena, dan Muhamad Sabil. Mereka didukung tim lapangan Ahmad Farel, A. Wirara Jagatraya, Gibran Ramadhan, Muhammad Rasha Arda Pratama, Joko Purnomo Aji, dan Habibie Teguh Zaelani.

Operasional base camp dikendalikan Raihana Hayatunufus, Syahira Putria Adantie, dan Akmal Kurniawan yang memastikan kebutuhan logistik, komunikasi, serta koordinasi berjalan baik. Sementara tim pendukung Rumah Elpala terdiri atas Wina Maria, Mohammad Farish, Surya Pagi Asa, Hendrata Yudha, Susan Indahwati, Hizkia Mandagie, Onaria Fransisca, dan Tomi Budiarto.

Berakhirnya Ekspedisi Cicatih Elpala di Pelabuhanratu menandai selesainya perjalanan yang memadukan petualangan, pendidikan karakter, dokumentasi alam, dan pesan konservasi. Perjalanan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi pencinta alam Indonesia untuk terus menjaga hutan, sungai, dan lingkungan.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!