HEADLINNEWS.ID – Materialisme historis berpijak pada sebuah pernyataan tentang realitas. Sesuatu yang real adalah segala yang berkaitan dengan objek materi. Materialisme historis berfokus pada sejarah manusia selalu berkait pada hubungan produksi dan distribusi objek materi.
Realitas manusia yang sesungguhnya secara historis adalah menuju pada kondisi ekonomi tertentu yaitu susunan masyarakat komunisme, dimana masyarakat tidak lagi mengadopsi kepemilikan pribadi melainkan kepemilikan secara kolektif (Fuadi, 2015).
Karl Marx sebagai penggagas pemikiran ini mengadopsi pemikiran Hegel tentang kesadaran dialektika yang difahami dalam bentuk rangkaian tesis – antitesis – sintesis. Sebuah pernyataan (tesis), selalu akan memunculkan negasi (anti tesis), yang pada ujungnya akan menimbulkan kompromi atau titik temu di antara keduanya berbentuk sintesis.
Karl Marx menjawab penderitaan-penderitaan manusia melalui dialektika Hegel. Kesadaran manusia harus dimunculkan bahwa penderitaan yang dirasakan manusia adalah antitesis dari adanya sebuah sistem ekonomi kapitalis yang menindas (tesis).
Hubungan antar manusia bagi Marx bukanlah sekedar relasi moralitas, tetapi lebih dari relasi materi.
Sistem kapitalisme membuktikan pula bahwa ada kebutuhan mendasar manusia yang harus dipenuhi yaitu kehendak atas penguasaan materi ekonomi.
Manusia melakukan relasi akibat adanya kebutuhan tersebut sebagai sebuah kebutuhan yang sangat mendasar. Ketika semua kosmologi manusia dimaknai sebagai sebuah relasi materi, maka kebenaran materi mendominasi segala hal. Maka wajar jika agama bagi Marx adalah candu dalam relasi sosial manusia.
Agama menurut Marx adalah ketidakpedulian terhadap penderitaan manusia sebagai antitesis atas hadirnya tesis sistem ekonomi kapitalistik yang menindas manusia.
Penderitaan manusia timbul karena adanya penguasaan sekaligus pelipatgandaan faktor-faktor produksi oleh segelintir kaum kapitalis.
Sebagian besar manusia yang tak memiliki akses atas penguasaan produksi (khususnya tanah) akan tergantung padanya dan menjadi budak-budak yang terhisap dalam sistem kapitalisme.
Distribusi kesejahteraan tidak akan menyentuh lapisan masyarakat bawah. Masyarakat lapisan atas (suprastruktur) dengan mudah menindas masyarakat yang berada di lapisan bawah.
Melalui sistem kapitalisme ini terciptalah dua kubu kelompok sosial manusia yang berhadapan: kelompok suprastruktur kapitalis pemilik modal versus kelompok masyarakat lapisan bawah yang terhisap dan tertindas (proletar).
Untuk menghilangkan penindasan kaum kapitalis ini, maka seluruh kaum proletar harus bersatu dalam satu kekuatan untuk menghancurkan kaum kapitalis.
Revolusi kaum proletar harus dilancarkan untuk meniadakan kelas sosial yang memunculkan penderitaan kaum proletar. Masyarakat proletar harus membangun sebuah konsep masyarakat tanpa kelas sebagai sintesis. Ketika tidak ada lagi kelas sosial dalam masyarakat maka akan tercipta masyarakat sosialis tanpa kelas (Hendriwani, 2020).
Materialisme Historis Marx dan Dehumanisasi
Pemikiran Marx dibawa ke Rusia oleh Vladimir Lenin dan diaplikasikan dalam bentuk yang nyata yaitu Komunisme. Ide Marx tentang masyarakat sosial tanpa kelas membakar semangat Lenin dan Stalin untuk mengobarkan Revolusi Bolshevik di Rusia pada Tahun 1917.
Revolusi ini dilancarkan untuk menggulingkan kekuasaan Kaisar Tzar Rusia yang dianggap memperkaya diri dan melupakan adanya penderitaan Rakyatnya sendiri.
Pemikiran Karl Marx sendiri kemudian terkenal dengan nama Marxism, walau Marx sendiri tidak pernah menyatakan pemikirannya dengan nama Marxism (Suseno, 1999).
Gagasan Marx dalam perspektif materialisme historis tidak luput dari adanya kelemahan secara fundamental.
Pertama, adalah konsep benturan kaum proletar versus kaum kapitalis borjuis. Kaum proletar yang umumnya adalah kaum buruh dan petani tidaklah berbenturan secara langsung dengan kaum kapitalis pemilik modal.
Terdapat kelompok sosial kelas menengah yaitu kaum professional yang tidak tergambar dalam pemikiran Marx. Kaum professional ini antara lain: guru-dosen, konsultan, advokat, manager perusahaan, kelompok kerah biru yang tidak masuk dalam kelompok kapitalis maupun buruh-tani.
Benturan antara kaum kapitalis (suprastruktur) versus buruh proletar tidak seekstrem yang digambarkan oleh Marx, karena terdapatnya kelas menengah dalam sebuah struktur sosial.
Kedua, agama sebagai candu. Marx melihat bahwa agama tidak memiliki peran dalam proses perubahan sosial. Agama menimbulkan alienasi terhadap manusia, karena manusia begitu terasing dari lingkungan sosialnya. Agama menciptakan manusia-manusia yang tidak peduli terhadap penderitaan sesama.
Marx tidak jeli menatap bagaimana peran agama dalam penciptaan kesejahteraan manusia. Agama telah mampu memberikan dorongan terhadap lahirnya perlawanan melawan penindasan kapitalisme global.
Dalam kasus penindasan atas adanya sistem penjajahan yang melanda Asia-Afrika, kemerdekaan juga didorong oleh kaum agamawan yang menggelorakan semangat nasionalisme.
Tokoh-tokoh tariqah Islam berperan dalam penciptaan kemerdekaan, seperti: Syaikh Yusuf al-Makassari di Indonesia dan Afrika Selatan, Umar Mukhtar di Libya, dan lain-lain. Agama bukan candu yang memabukkan dan melupakan manusia dari problematika sosial manusia.
Agama justru secara fakta telah menjadi jalan dari kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Jika agama dianggap sebagai candu yang melenakan, mengapa agama sejak ribuan tahun hingga kini masih diyakini kebenarannya oleh umat manusia? Eksistensi Tuhan sebagai realitas absolut juga masih diyakini oleh milyaran manusia hingga saat ini.
Ketiga, cita-cita kesejahteraan masyarakat sosial tanpa kelas secara fakta justru telah memunculkan penderitaan manusia. Gagasan pemikiran Marx yang kemudian disebut Marxisme – komunisme oleh Lenin dan Stalin di Rusia telah menciptakan penderitaan dan kekejaman di Rusia dan banyak negara di dunia yang mengikuti paham ini.
Sejak 1917-1989 korban tewas akibat pemikiran Karl Marx ini telah mencapai 120.000.000 nyawa manusia. Sedangkan hingga kini hanya sedikit negara yang masih menerapkan konsep Marx dalam bentuk ideologi komunisme (Antaranews, 2016).
Cita-cita masyarakat sosialis-komunis sebagai terapan pemikiran Marx tampaknya hanya indah dalam konsep tetapi gagal dalam penciptaan kesejahteraan umat manusia.
Penutup
Gagasan Marx yang menghilangkan kelas melalui konflik kelas ternyata justru telah menimbulkan penderitaan umat manusia di bumi.
Ide gagasan Marx hanya menjadi sebuah utopia semata, karena ide dasar untuk menghilangkan penderitaan manusia dalam bangunan kapitalisme melalui penciptaan masyarakat sosialisme tanpa kelas, justru melahirkan penderitaan hingga jutaan kematian dalam pelaksanaannya.
Ditulis oleh: Fokky Fuad Wasitaadmaja, Associate Professor, Universitas Al Azhar Indonesia

