HEADLINNEWS.ID – Sejak awal Agustus ini warga kampung saya di pesisir laut selatan mempunyai kebiasaan baru. Malam hari seusai mereka bekerja di sawah atau tegalan, mereka berkumpul di rumah salah satu warga untuk berlatih musik bambu. Kegiatan ini dalam rangka memeriahkan perayaan 17 Agustus.
Selain berlatih warga juga makin rajin melakukan kerja bakti untuk memperindah gang-gang di sekitaran rumahnya: memasang umbul-umbul, mengecat pagar dan memasang lampu LED warna merah putih yang berkedip-kedip.
Kebersamaan warga yang mengharukan. Mereka bergotong royong memperindah desanya dengan cara iuran bahkan ada yang menyediakan makanan dan minuman gratis.
Mereka merayakan kemerdekaan tanpa pernah mempertanyakan merdeka dari apa dan merdeka dari siapa? Ironi memang, warga merayakan kemerdekaan karena mereka mendapatkan perintah dari pemerintah desa setempat, bukan karena keinginannya sendiri.
Tak hanya warga desa saja yang sebenarnya tidak menyadari bahwa sebenarnya kita tak pernah benar-benar merdeka.
Kemerdekaan hanya dimaknai sebagai merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang yang datang berbondong-bondong dengan kapal dan senjata. Mereka tampak nyata dan mudah dikenali sebagai musuh yang harus dilawan.
Hari ini penjajah itu bisa datang melalui layar kecil di hape yang kita genggam setiap hari, setiap minggu dan setiap bulan. Kita merasa bebas memilih apa yang ingin ditonton, dibaca, dan dipercaya. Tetapi warga jarang yang menyadari bahwa pilihan-pilihan kita itu sebenarnya sudah dipilihkan dan diarahkan oleh algoritme.
Salah satu contoh konkretnya ketika kita mencari dan mengklik salah satu iklan atau berita pemilihan kepala desa, otomatis algoritme akan mencatatkan bahwa sang user (kita) ini menyukai info seputar calon kepala desa, detailnya salah satu calon.
Sehingga algoritme akan melakukan tugasnya: mencari dan mengumpulkan data soal kepala desa A dari jutaan data yang berserak di internet lalu menyarankan, menyodor-nyodorkan ke user (kita) agar diklik.
Akibat ulah algoritme ini, user atau kita tak pernah mendapatkan notice soal apa pun yang menyangkut calon kepala desa B. Kita akhirnya menjadi katak dalam tempurung, hanya menikmati echo chamber yang dipantulkan oleh informasi seputar calon kepala desa A saja.
Informasi yang kita konsumsi menjadi tidak lagi murni, melainkan telah dikurasi oleh sistem yang bekerja secara tak kasat mata. Shoshana Zuboff, profesor emeritasi Universitas Harvard mengatakan, “Kita dibentuk menjadi konsumen pasif yang perilakunya diprediksi dan dipola demi keuntungan mereka.”
Kondisi ini makin diperparah dengan terciptanya gelembung filter (filter bubble). Menurut data penelitian dari Pew Research Center, sebagian besar pengguna internet tidak menyadari bahwa hasil pencarian dan lini masa mereka disesuaikan berdasarkan jejak digital masa lalu.
Kita merayakan “kemerdekaan berpendapat” di media sosial, padahal realitasnya pikiran kita sedang disandera. Warga desa yang lugu mungkin terbebas dari fisik kompeni, namun tanpa disadari, kemerdekaan berpikir mereka kini tergadaikan oleh jemari dan algoritme yang mendikte masa depan mereka.
Penjajahan bentuk baru ini berjalan amat halus karena tidak menghantam tubuh, melainkan mengikis daya kritis. Kita dibiarkan merasa berkuasa atas gawai di genggaman, padahal setiap ketukan jari hanyalah pasokan bahan bakar bagi mesin untuk memperpanjang usianya.
Media sosial dan mesin pencari menciptakan illusion of choice—sebuah ilusi seolah-olah kita merdeka memilih, padahal batas-batas pilihan itu telah dipagari secara presisi.
Merdeka yang sejati seharusnya dimulai dari kemerdekaan merawat kesadaran. Ketika warga desa bersatu dalam dentang musik bambu dan riuh kerja bakti, di sanalah tersisa kehangatan kebersamaan yang nyata—sebuah ruang fisik yang belum sepenuhnya terjamah oleh dominasi digital.
Namun, jika ruang pikir dan kehendak politik mereka terus dikendalikan oleh algoritmik yang bekerja dalam senyap, maka perayaan 17 Agustus setiap tahunnya akan selalu menyisakan tanya: apakah kita benar-benar telah merdeka, atau sekadar menjadi tawanan yang menikmati rantai yang mengikatnya sendiri?
Ketika dunia digital kita hanya berisi hal-hal yang familiar dan kita sukai, ruang untuk belajar dan memahami sudut pandang lain runtuh.
Hal ini diperparah jika seseorang yang kecanduan menikmati video-video pendek yang lucu. Otak mereka tidak dipakai sehingga lama-lama akan mengalami brain rot atau pembusukan otak.
Fenomena lain yang lebih lucu di era digital saat ini terangkum dalam sebuah tombol kecil berwarna hijau di layar gawai kita: “Unduh Gratis”.
Kebanyakan warga tanpa pikir panjang lagi berbondong-bondong mengunduh aplikasi-aplikasi yang mereka butuhkan mulai dari aplikasi edit foto, permainan sederhana, pembersih memori, hingga aplikasi lain tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Kita merasa telah diuntungkan oleh kebaikan para pengembang perangkat lunak. Padahal, dalam ekonomi digital, tidak ada hal yang benar-benar gratis.
Ketidaksadaran ini sejatinya merupakan pintu masuk dari bentuk eksploitasi baru. Ada sebuah kalimat legendaris di dunia teknologi yang populer: Jika Anda tidak membayar untuk sebuah produk, maka Andalah produknya.
Ketika sebuah aplikasi tidak meminta uang dari kita, ia akan meminta bayaran dalam bentuk lain yang jauh lebih berharga: yakni data pribadi, perhatian, dan privasi kita.
Banyak warga tidak curiga ketika mengunduh aplikasi “edit foto” atau “Kalkulator”, tetapi aplikasi tersebut meminta izin akses ke kontak, lokasi GPS, galeri foto, hingga mikrofon.
Data lokasi dan kebiasaan harian ini kemudian dikumpulkan dan dijual kepada pialang data (data brokers) untuk memetakan profil konsumen. Tak heran kan kalau sekarang ini banyak nomor telepon tak dikenal bermunculan menelepon kita, sebaiknya diabaikan saja.
Contoh aplikasi permainan gratis dirancang untuk memicu kecanduan. Pengguna dibiarkan bermain gratis hingga level tertentu, sebelum akhirnya dipaksa menonton iklan berulang kali atau didorong melakukan pembelian dalam aplikasi (in-app purchase) demi melanjutkan permainan.
Aplikasi gratisan menyita komoditas paling langka dari manusia: waktu dan perhatian. Laporan riset Data.ai mencatat bahwa rata-rata orang menghabiskan lebih dari 4 hingga 5 jam sehari hanya untuk menatap layar ponsel.
Setiap detik yang kita habiskan di aplikasi gratisan tersebut dikonversi menjadi rupiah melalui tayangan iklan yang disodorkan tanpa henti.
Pada akhirnya, kita mengira telah menghemat uang dengan mengunduh aplikasi tanpa bayar. Namun tanpa disadari, kita sedang membayar harga yang jauh lebih mahal: menyerahkan data personal, menjual waktu luang, dan membiarkan perilaku kita dipetakan serta dijual kepada penawar tertinggi.
Kemerdekaan kita sebagai konsumen telah ditukar dengan kemudahan semu bertuliskan “gratis”.
Akankah kita bisa terbebas dari penjajahan digital?

Karmin Winata adalah pegiat media yang memiliki ketertarikan pada isu sosial, masyarakat, budaya, serta perkembangan dunia digital.
Ia mengawali karier sebagai Social Media Strategist di detik.com pada 2010–2012, kemudian bergabung dengan AsiaPR dan Liputan6.com, sebelum menjadi Editor di Trubus.id.
Saat ini, Karmin Winata sedang menjalani slow living di kampung halaman.

