HEADLINNEWS.ID – Brebes – Bawang Merah Brebes Festival 2026 kembali menjadi panggung untuk memperkenalkan potensi pertanian, budaya, dan ekonomi lokal Kabupaten Brebes. Festival yang berlangsung selama tiga hari itu memadukan pawai hasil pertanian, karnaval, hiburan, kegiatan promosi, hingga pelepasan ekspor bawang merah.
Salah satu rangkaian utama berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026. Puluhan peserta mengikuti pawai dari Kodim 0713 Brebes menuju Alun-Alun Brebes dengan membawa gunungan bawang merah dan hasil bumi.
Pawai dimulai pukul 07.00 WIB. Sebanyak 30 peserta ambil bagian dalam parade yang terdiri atas gunungan bawang merah dari sejumlah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), drumband, serta parade Custom Carnival.
Rombongan melintasi kawasan pusat kota sebelum berakhir di Alun-Alun Brebes. Berbagai atraksi ditampilkan sepanjang rute hingga di depan panggung kehormatan yang dihadiri Sekretaris Daerah Brebes Tahroni, kepala organisasi perangkat daerah, dan tamu undangan.
Gunungan hasil panen menjadi salah satu simbol utama festival. Setelah dipawai keliling kota, hasil bumi yang dibawa dalam gunungan kemudian dibagikan kepada masyarakat yang memadati kawasan Alun-Alun Brebes.
Atraksi tersebut sekaligus mempertemukan unsur pertanian dan budaya dalam satu perayaan. Bawang merah yang selama ini menjadi komoditas utama Brebes tidak hanya ditampilkan sebagai hasil produksi pertanian, tetapi juga diolah menjadi bagian dari identitas dan atraksi festival.
Opening Ceremony Bawang Merah Brebes Festival 2026 dilakukan Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Zulkifli Hasan. Ia mengapresiasi penyelenggaraan festival yang tahun ini memasuki tahun keempat.
Festival dinilai menjadi ruang untuk memperkenalkan bawang merah Brebes sekaligus memperkuat perhatian terhadap sektor pertanian dan pangan.
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mengatakan festival harus memberikan manfaat lebih luas daripada sekadar menghadirkan kemeriahan. Menurut dia, setiap kegiatan dalam festival perlu ikut memperkuat posisi petani sekaligus memperkenalkan potensi Brebes kepada masyarakat yang lebih luas.
“Di balik satu siung bawang, ada tanah yang digarap, ada keringat petani, ada keluarga yang menunggu hasil panen, dan ada harapan agar kehidupan mereka semakin baik,” kata Paramitha.
Karena itu, Paramitha ingin Bawang Merah Brebes Festival menjadi momentum untuk mendorong peningkatan produksi dan kualitas bawang merah, penggunaan teknologi pertanian, sekaligus memperkuat akses petani terhadap pasar.
“Saya ingin festival ini menjadi momentum untuk memperkuat posisi petani kita. Produksi harus semakin baik, kualitas harus semakin tinggi, teknologi harus semakin masuk ke pertanian, dan yang paling penting, petani harus mendapatkan harga dan pasar yang memberikan kepastian,” jelasnya.
Rangkaian festival juga diisi pelepasan ekspor bawang merah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengenalan bawang merah Brebes sekaligus menunjukkan peluang komoditas itu menembus pasar yang lebih luas.
Paramitha mengatakan perluasan pasar harus diikuti peningkatan kualitas produk, penguatan kelembagaan petani, hilirisasi, serta kerja sama pemasaran.
“Hari ini kita juga melakukan pelepasan ekspor bawang merah. Ini kabar baik karena bawang dari Brebes memiliki ruang untuk bersaing lebih jauh. Tetapi pekerjaan kita masih panjang. Kita harus terus membuka pasar, memperkuat kelembagaan petani, mendorong hilirisasi, dan membangun kerja sama yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutur Bupati Brebes itu.
Selain pertanian, festival menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas dan kekayaan budaya lokal. Parade Custom Carnival dan berbagai hiburan selama festival mempertemukan unsur pertanian dengan seni pertunjukan serta kreativitas masyarakat.
Aspek ekonomi lokal juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Festival membuka ruang promosi bagi produk dan potensi usaha masyarakat sehingga kehadiran warga tidak hanya menciptakan kemeriahan, tetapi juga berpeluang menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi acara.
Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Dian Alex Chandra mengatakan festival semestinya menjadi momentum memperkuat keberpihakan terhadap petani. Menurut dia, petani tetap berproduksi meski harga komoditas tidak selalu berada dalam kondisi yang menguntungkan.
“Kami tetap semangat tanam, menjaga stabilitas harga pangan, menjaga swasembada pangan. Tapi balik lagi, apalah artinya kalau masyarakat petaninya tidak sejahtera,” kata Dian.
Ia berharap festival tidak berhenti sebagai agenda hiburan tahunan. Perayaan bawang merah, menurut Dian, perlu diikuti kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani.
“Acaranya ini bukan sekadar hiburan, tapi kami berharap ada keberpihakan dari pemerintah,” tegasnya.
Salah satu daya tarik lain dalam Bawang Merah Brebes Festival 2026 adalah gunungan bawang merah setinggi delapan meter. Gunungan tersebut mendapat penghargaan dari Original Rekor Indonesia (ORI) sebagai gunungan bawang merah tertinggi di Indonesia.
Penghargaan itu menambah nilai promosi festival sekaligus memperkuat identitas bawang merah sebagai salah satu ikon Kabupaten Brebes.
Dengan pawai, karnaval, pertunjukan, promosi produk lokal, pelepasan ekspor, dan pencatatan rekor ORI, Bawang Merah Brebes Festival 2026 tidak hanya menawarkan hiburan kepada masyarakat. Festival ini menjadi ruang untuk memperkenalkan hasil pertanian, mengangkat kreativitas warga, dan memperluas promosi potensi ekonomi Brebes.
Pada akhirnya, keberhasilan festival tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung atau meriahnya panggung. Nilai yang lebih penting adalah sejauh mana bawang merah dan potensi lokal Brebes semakin dikenal, pasar semakin terbuka, dan manfaat kegiatan dapat dirasakan masyarakat.

