HEADLINNEWS.ID – Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Senin (15/6/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk meredakan konflik di Timur Tengah. Kesepakatan tersebut menekan harga minyak dunia dan mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko, terutama saham teknologi.
Indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan kenaikan 795,10 poin atau 3,07% ke level 26.683,94. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 468,77 poin atau 0,92% menjadi 51.671,03 dan mencetak rekor penutupan tertinggi baru.
Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 122,83 poin atau 1,65% ke posisi 7.554,29.
Menurut laporan Reuters, kerangka kesepakatan antara AS dan Iran diperkirakan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat pekan ini. Kesepakatan tersebut berfokus pada penghentian eskalasi konflik regional, namun belum mencakup program nuklir Iran maupun konflik Israel-Lebanon.
Respons pasar langsung terlihat pada sektor energi. Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat turun 4,9% dan menyentuh level terendah sejak Maret 2026.
Penurunan harga minyak mengurangi kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan inflasi. Kondisi tersebut mendorong pembelian saham-saham teknologi yang sebelumnya tertekan oleh ekspektasi suku bunga tinggi.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor teknologi mencatat kenaikan terbesar sebesar 3,4%. Sebaliknya, sektor energi menjadi sektor dengan kinerja terburuk setelah turun 3,6%.
Penguatan Wall Street juga menjadi kenaikan harian ketiga berturut-turut bagi tiga indeks utama Amerika Serikat setelah beberapa pekan sebelumnya dibebani ketegangan geopolitik Timur Tengah dan aksi jual saham kecerdasan buatan.
Pelaku pasar kini menunggu hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu waktu setempat.
Pertemuan tersebut menjadi rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh setelah menggantikan Jerome Powell bulan lalu.
Data CME FedWatch menunjukkan mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026 masih berada di kisaran 42%.
Di sektor teknologi, saham perusahaan antariksa SpaceX melonjak 19,6% pada hari kedua perdagangan setelah penawaran umum perdana (IPO). Saham perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu ditutup di level US$192,46, jauh di atas harga IPO sebesar US$135 per saham.
Kenaikan SpaceX meningkatkan optimisme investor terhadap rencana IPO sejumlah perusahaan teknologi besar lainnya, termasuk OpenAI dan Anthropic yang diperkirakan masuk bursa sebelum akhir tahun.
Saham perusahaan semikonduktor juga mencatat penguatan signifikan. Nvidia naik 3,5%, sedangkan Micron Technology melonjak 10,5% setelah sejumlah perusahaan pialang menaikkan target harga saham kedua emiten tersebut.
Di sektor transportasi, United Airlines menguat 3,9% karena ekspektasi biaya bahan bakar yang lebih rendah. Norwegian Cruise naik 3,7%, sementara Carnival Corp bertambah 3,2%.
Sebaliknya, saham Fox anjlok 16,8% setelah perusahaan mengumumkan akuisisi Roku senilai US$22 miliar. Saham Roku turut melemah 1,9%.
Volume perdagangan di seluruh bursa Amerika Serikat mencapai 21,29 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 20 sesi terakhir yang berada di level 20,82 miliar saham.
Di New York Stock Exchange (NYSE), jumlah saham yang naik mengungguli saham yang turun dengan rasio 1,77 banding 1. Sebanyak 502 saham mencetak rekor tertinggi baru dalam 52 minggu, sementara 90 saham menyentuh rekor terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 3.034 saham menguat dan 1.900 saham melemah. Bursa teknologi tersebut mencatat 202 rekor tertinggi baru dan 89 rekor terendah baru dalam periode yang sama.
Menurut analisis Lukman Hqeem yang dikutip HEADLINNEWS, pasar saat ini merespons dua faktor utama secara bersamaan, yakni meredanya risiko geopolitik dan turunnya harga energi.
Penurunan harga minyak sebesar 4,9% mengurangi risiko inflasi global dalam jangka pendek. Dampaknya langsung terasa pada saham-saham teknologi yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Namun, sentimen positif tersebut masih bergantung pada implementasi kesepakatan AS-Iran yang hingga kini belum ditandatangani secara resmi. Kegagalan proses diplomatik berpotensi mengembalikan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Faktor kedua adalah arah kebijakan Federal Reserve di bawah Kevin Warsh. Jika The Fed mempertahankan suku bunga dan tekanan inflasi terus mereda, valuasi saham teknologi berpotensi kembali menguat pada semester kedua 2026.
Sebaliknya, jika inflasi kembali meningkat atau bank sentral mengisyaratkan pengetatan kebijakan moneter, reli Wall Street yang terjadi saat ini berisiko kehilangan momentum.

