Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, 14 Erupsi Strombolian Tercatat

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
4 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berstatus Level III atau Siaga hingga Jumat (11/9), dengan 14 erupsi Strombolian tercatat setelah erupsi menerus berakhir pada Minggu (6/9).

Erupsi menerus yang dimulai Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB berakhir sekitar 25 jam kemudian pada Minggu pukul 00.04 WIB. Setelah itu, aktivitas erupsi masih berlangsung dalam bentuk letusan Strombolian.

Badan Geologi mencatat gempa Low Frequency dan Hybrid/Fase Banyak yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dangkal masih berfluktuasi dengan kecenderungan menurun. Nilai perataan amplitudo RSAM yang sempat meningkat pada Sabtu (5/9) juga kembali turun sejak Minggu (6/9).

Namun, gempa yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dalam justru cenderung meningkat. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan terhadap dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau, sementara probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih dinilai tinggi.

Pada pengamatan 10-11 September 2026, Gunung Anak Krakatau terpantau dari jelas hingga tertutup kabut. Pengamatan visual menunjukkan erupsi, tetapi tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Dalam periode yang sama tercatat satu gempa erupsi, 21 gempa Low Frequency, 13 gempa Hybrid/Fase Banyak, tremor menerus, 28 gempa Vulkanik Dangkal, dan 18 gempa Vulkanik Dalam.

Potensi bahaya yang menyertai aktivitas Gunung Anak Krakatau berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Jika erupsi menerus kembali terjadi, terdapat pula potensi aliran lava.

Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak diperbolehkan memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.

Bagi wilayah yang terdampak abu vulkanik, aktivitas di luar rumah perlu dikurangi atau menggunakan masker saat berada di luar untuk menghindari gangguan pernapasan. Masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung juga diminta tidak mempercayai informasi mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau yang dikaitkan dengan potensi tsunami apabila tidak berasal dari kanal resmi.

Di tengah pemantauan aktivitas gunung, operasi pencarian terhadap delapan orang yang kehilangan kontak di perairan Selat Sunda hingga Jumat (11/9) masih berlangsung. Rombongan tersebut terdiri atas lima jurnalis, dua awak, dan satu pemandu.

Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Posisi terakhir diketahui sekitar pukul 14.42 WIB, sedangkan komunikasi terputus sekitar pukul 15.04 WIB.

Tim SAR gabungan memperluas pencarian melalui jalur laut dan udara. Area pencarian di sisi selatan Gunung Anak Krakatau diperluas hingga sekitar 20 nautical mile dari pusat aktivitas gunungapi, kemudian diperluas ke arah utara dengan mempertimbangkan arus, gelombang, dan arah angin, termasuk hingga perairan Lampung.

Pencarian udara dilakukan menggunakan helikopter dan drone untuk pemantauan visual. Dalam pencarian pada Kamis (10/9), tim belum menemukan tanda keberadaan delapan orang tersebut di daratan pulau-pulau sekitar Gunung Anak Krakatau maupun di Pulau Sertung.

Pencarian langsung di Pulau Sertung tetap mempertimbangkan keselamatan karena wilayah tersebut berada dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tim juga menemukan benda yang diduga pelampung atau jaket keselamatan, tetapi benda tersebut masih diidentifikasi dan belum dipastikan berkaitan dengan rombongan yang dicari.

Operasi melibatkan Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, BPBD Kabupaten Serang, BPBD Provinsi Banten, TNI/TNI AL, Polri/Polairud, unsur SAR Lampung, pemerintah daerah, nelayan, masyarakat, Potensi SAR, serta unsur terkait lainnya.

Hingga Jumat (11/9), keberadaan dan kondisi delapan orang tersebut belum dapat dipastikan. Operasi pencarian tim SAR gabungan masih dilakukan.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung meski periode erupsi menerus telah berakhir. Status Level III dan pembatasan radius 3 kilometer menjadi fakta utama terkait keselamatan di sekitar pusat aktivitas, sementara operasi pencarian delapan orang di Selat Sunda berlangsung dalam kondisi yang juga dipengaruhi aktivitas gunungapi.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!