HEADLINNEWS.ID – Setiap bulan Agustus, Indonesia kembali bergairah menyambut hari kemerdekaan.
Merah Putih berkibar di setiap sudut negeri. Jalan-jalan dihiasi umbul-umbul. Lapangan kampung dipenuhi berbagai perlombaan. Ada panjat pinang, balap karung, tarik tambang, jalan sehat dan berbagai kegiatan yang menghadirkan kegembiraan.
Semua itu baik. Itulah ekspresi rakyat dalam mensyukuri kemerdekaan.
Namun, di tengah kemeriahan itu, ada sesuatu yang perlahan-lahan terasa hilang: kehadiran para pejuang kemerdekaan.
Mereka yang dahulu mempertaruhkan jiwa dan raganya agar Merah Putih dapat berkibar, kini semakin sedikit jumlahnya. Usia telah membuat langkah mereka tidak lagi setegap dahulu. Sebagian bahkan harus menjalani hari-hari dalam kesunyian, sementara masyarakat sibuk merayakan kemerdekaan.
Ironisnya, kita masih rutin mengadakan berbagai lomba setiap tahun. Tahun depan lomba itu bisa diadakan kembali. Tetapi kesempatan untuk mendengarkan langsung kisah seorang pejuang mungkin tidak akan pernah terulang.
Karena itu, memperingati kemerdekaan seharusnya bukan hanya soal memasang bendera dan menyelenggarakan pesta rakyat.
Datanglah kepada para veteran. Dengarkan kisah mereka. Biarkan generasi muda bertanya langsung kepada orang yang pernah mengalami pahit getirnya perjuangan.
Sebab sejarah tidak hanya tersimpan di dalam buku. Sebagian sejarah masih hidup dalam ingatan para pejuang.
Sebagai Veteran Pembela, saya tidak sedang meminta penghormatan yang berlebihan. Kami hanya berharap bangsa ini tidak melupakan mereka yang pernah berdiri di garis depan ketika negeri ini membutuhkan keberanian.
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukan hadiah.
Ia dibayar dengan pengorbanan.
Maka jangan sampai setiap tanggal 17 Agustus kita begitu ramai merayakan kemerdekaannya, tetapi semakin sunyi ketika harus menyapa orang-orang yang pernah memperjuangkannya.
Mungkin sudah waktunya kita menambah satu tradisi baru dalam peringatan kemerdekaan:
bukan hanya mengibarkan Merah Putih, tetapi juga mengunjungi para pejuang.
Sebab suatu hari nanti, ketika para pejuang itu telah tiada, kita mungkin baru menyadari bahwa yang telah hilang bukan sekadar seorang veteran.
Yang hilang adalah saksi hidup perjalanan bangsa.

Penulis adalah Wartawan Senior, Mantan Pasukan Perdamaian PBB/UNEF Middle East 1978 Garuda VIII, sebagai Veteran Perdamaian, aktif di Kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran RI (DPP LVRI) dan menjadi Pemimpin Perusahaan Headlinenews.id

