CATATAN SEORANG VETERAN

Dadik
By
Dadik
4 Min Read
Oleh: Dadik

HEADLINNEWS.IDAda Apa dengan Aceh?

Saya menulis catatan ini bukan sebagai orang Jakarta. Saya juga tidak ingin tindakan sekelompok orang dipandang sebagai cermin sikap seluruh rakyat Aceh.

Saya menulisnya sebagai seorang veteran yang merasa prihatin melihat sebuah peristiwa yang menyentuh simbol-simbol negara.

Kabar tentang Merah Putih yang diturunkan, lambang Garuda Pancasila yang diperlakukan tidak semestinya, kemudian munculnya bendera Bulan Bintang, tentu mengundang pertanyaan.

Bukan untuk memperbesar persoalan.

Bukan pula untuk menuding Aceh.

Tetapi sebagai anak bangsa, kita patut bertanya dengan kepala dingin:

Ada apa sebenarnya?

Aceh memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Indonesia. Aceh juga pernah menjadi bagian penting dalam mempertahankan Republik ketika Indonesia berada dalam keadaan yang sangat sulit.

Karena itu, peristiwa yang menyentuh simbol-simbol negara seperti ini tentu patut kita lihat secara lebih jernih.

Kita perlu membedakan antara Aceh sebagai daerah dan rakyatnya dengan tindakan sekelompok orang.

Jangan sampai sebuah tindakan oleh segelintir orang kemudian dipersepsikan sebagai suara seluruh masyarakat Aceh.

Sebaliknya, jangan pula persoalan ini ditutup begitu saja tanpa mencari tahu apa yang melatarbelakanginya.

Perdamaian Aceh telah berjalan cukup panjang.

Namun perdamaian bukan hanya tentang berhentinya konflik dan tidak terdengarnya lagi suara senjata.

Perdamaian juga membutuhkan kepercayaan, rasa keadilan, penghormatan terhadap kesepakatan, serta keyakinan bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan melalui jalan dialog.

Karena itu, kalau masih ada kegelisahan di tengah masyarakat, mari kita dengarkan.

Kalau ada persoalan yang belum selesai, mari kita bicarakan.

Kalau ada ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, sampaikan melalui ruang demokrasi.

Tetapi pada saat yang sama, kita juga harus memiliki batas yang jelas.

Merah Putih adalah bendera negara.
Garuda Pancasila adalah lambang negara.

Keduanya bukan milik pemerintah yang sedang berkuasa.

Bukan milik partai politik.

Bukan milik kelompok tertentu.

Keduanya adalah simbol yang menaungi seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Aceh.

Sebagai veteran, saya tidak ingin melihat persoalan hari ini membawa kita kembali kepada suasana yang pernah kita alami di masa lalu.

Saya sudah cukup memahami betapa mahal harga sebuah konflik.

Yang kehilangan bukan hanya mereka yang berada di garis depan.

Keluarga kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Anak-anak kehilangan masa depannya.

Dan masyarakat harus menanggung luka yang kadang membutuhkan waktu sangat panjang untuk sembuh.

Karena itu, saya memilih untuk melihat peristiwa ini dengan tenang.

Tegas terhadap tindakan yang merendahkan simbol negara, tetapi tidak tergesa-gesa menilai seluruh masyarakat Aceh.

Negara harus hadir dengan ketegasan hukum.

Tetapi negara juga perlu hadir dengan kemampuan mendengar.

Dan masyarakat pun perlu menjaga agar perbedaan pendapat tidak berkembang menjadi pertentangan antarsesama anak bangsa.

Saya percaya Aceh tidak membutuhkan kecurigaan.

Aceh membutuhkan perhatian, penghormatan dan dialog yang jujur.

Begitu pula Indonesia tidak membutuhkan konflik baru.

Kita membutuhkan kedewasaan untuk menyelesaikan persoalan tanpa membuka kembali luka lama.

Saya menulis ini bukan karena ingin mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

Saya menulis karena sebagai veteran, saya masih memiliki satu harapan sederhana:

Jangan biarkan anak-anak bangsa kembali saling berhadapan hanya karena kita gagal menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.

Aceh tetap bagian penting dari perjalanan panjang Indonesia.

Dan Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun oleh pengorbanan begitu banyak anak bangsa.

Rumah itu tentu tidak sempurna.

Masih banyak yang harus diperbaiki.

Tetapi memperbaiki rumah bersama jauh lebih baik daripada membiarkan perbedaan membuat kita kembali saling menjauh.

Catatan seorang veteran perdamaian

Penulis adalah Wartawan Senior, Mantan Pasukan Perdamaian PBB/UNEF Middle East 1978 Garuda VIII, sebagai Veteran Perdamaian, aktif di Kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran RI (DPP LVRI) dan menjadi Pemimpin Perusahaan Headlinenews.id

Editor: Michael Ivan
Share This Article
error: Content is protected !!