HEADLINNEWS.ID – Terjadi perdebatan panjang soal apakah slow living itu semata-mata soal tempat atau mindset. Padahal keduanya hanyalah faktor pendukung. Hal utama yang paling mendesak untuk bisa menerapkan gaya hidup lambat atau slow living adalah soal uang.
Kok bisa?
Gambaran soal slow living di Instagram atau TikTok seringnya menyuguhkan pemandangan rumah asri di kaki gunung dan secangkir kopi hangat yang masih mengepul, cahaya matahari pagi, tanaman hijau, langit biru, suara-suara burung dan ayam, suara gemericik air dan seseorang yang duduk manis menikmati vibe kedamaian.
Sinematik memang. Namun sering kali hal itu menutupi kenyataan bahwa kemampuan hidup lambat sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi atau finansial seseorang.
Saya tinggal di kampung lagi setelah merantau di mamakota. Sudah beberapa tahun saya menjalani kehidupan kampung dengan segala dinamikanya.
Saya sering mengamati para tetangga saya yang berprofesi sebagai petani. Kebanyakan mereka bekerja dari pagi buta, pulang siang, terus berangkat lagi, lalu pulang sore hari.
Rata-rata mereka pemilik sawah yang sempit atau bahkan hanya penggarap atau buruh. Tantangan yang dihadapi petani saat ini sebenarnya sangat klasik. Mulai dari harga benih yang mahal dan kadang langka saat musim tanam dan harga sangat rendah saat musim panen tiba. Sehingga biaya produksi lebih besar dibanding panen yang dihasilkan. Mereka sangat tergantung pada tengkulak atau pengepul. Petani dirugikan.
Anehnya, sampai hari ini belum ada yang bisa keluar dari rutinitas masalah ini. Sebenarnya tersedia beberapa solusi mendasar yang bisa dilakukan. Namun ternyata mengubah kebiasaan dan mindset tak semudah membuat status di sosmed.
Income yang terbatas tak memungkinkan mereka menikmati waktu dengan leha-leha di teras, ngopi sambil menyimak suara burung-burung piaraan yang menang lomba.
Mungkin tubuhnya bisa, tapi pikiran tak bisa diam begitu saja ketika iuran sekolah anak, listrik, pulsa telepon atau cicilan bank yang semuanya harus dilunasi tepat waktu.
Belum lagi memikirkan kegiatan sosial, adat dan ritual yang mau tidak mau harus dilakukan. Dan itu membutuhkan biaya. Yang paling klasik adalah hajatan.
Di kampung status sosial seseorang dianggap sama. Tak ada ruang bagi siapa pun yang tidak menghadiri undangan pernikahan. Kalau sampai tak hadir, sanksi sosial menanti.
Mereka masih belum sepenuhnya mampu mengatur ritme hidupnya sendiri.
Uang memang (agak) segalanya. Dengan dukungan finansial yang cukup, kita bisa mempunyai banyak pilihan-pilihan hidup, bisa menolak semua hal yang tidak kita sukai. Kita punya daya tawar lebih tinggi dan kebebasan lebih banyak.
Misalnya di kota-kota besar, sebagai buruh kita bisa menolak kerja lembur, apalagi jika tidak dibayar. Kita bisa mengundurkan diri saat budaya perusahaan sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita punya. Kita bisa memilih menjadi freelancer agar punya waktu sendiri lebih banyak.
Kita bisa memilih menu makan malam organik di tempat yang proper, bukan pecel lele kaki lima di pinggir jalan yang minyak gorengnya sehitam aspal, tidak diganti-ganti.
Dan bisa pulang ke rumah kapan saja tanpa perlu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang bisa didelegasikan ke orang lain.
Dari media atau sosial media kita sering membaca, orang-orang yang menerapkan gaya hidup lambat atau slow living kebanyakan adalah mereka yang sudah sampai pada level financial freedom atau setidaknya mereka punya dana cadangan yang akan dipakai ketika keadaan sudah benar-benar gawat.
Misalnya mereka para konten kreator, para pensiunan atau memang keturunan orang-orang kaya.
Ada seorang ibu rumah tangga yang mencipta hutan di Megamendung, Bogor, Jawa Barat dengan tujuan bukan untuk komersial, tapi untuk sosial, agar lingkungan tidak rusak. Tanpa uang tentu ia tidak bisa menyulap 30 hektar lahan tandus menjadi hutan di lereng pegunungan.
Ada juga orang biasa, pekerja kantoran di mamakota yang merasa jenuh dan stres lalu hengkang ke pinggiran Jogja mendirikan toko rempah, ada sosok lain hengkang juga dan mengelola penginapan sekaligus budi daya pertanian organik.
Mereka itu bisa dibilang sudah tidak menggantungkan hidup sepenuhnya dari bisnis yang dikelolanya. Bagaimanapun kita masih tinggal di bumi, argo pasti jalan terus.
Semakin banyak uang yang dimiliki seseorang semakin banyak pula pilihan yang tersedia. Bahkan kita bisa menolak dogma, doktrin dan norma yang sudah expired lalu menciptakan atau membangun budaya baru yang sebelumnya tak dikenal.
Namun banyak uang juga tidak otomatis hidupnya menjadi slow, merasa penuh dan berkelimpahan.
Contoh yang terang benderang adalah perilaku para pejabat. Mereka sudah mempunyai aset miliaran, namun mereka masih mampu melakukan korupsi saat ada kesempatan.
Fenomena itu memperlihatkan bahwa lawan dari slow living bukanlah kesibukan, melainkan keserakahan. Slow living mengajarkan hidup dengan rasa cukup, sedangkan korupsi lahir dari keyakinan bahwa apa pun yang dimiliki tidak pernah bisa menghilangkan rasa dahaganya.
Karena itu, orang yang mengejar uang tanpa batas justru menjadi budak dari hartanya sendiri: pikirannya selalu gelisah, ambisinya tak pernah selesai, dan hidupnya kehilangan ruang untuk menikmati apa yang sudah dimiliki.
Paradoksnya, mereka mungkin kaya secara materi, tetapi miskin dalam ketenangan. Sebab kemewahan tidak otomatis melahirkan kedamaian; sering kali kedamaian justru lahir ketika seseorang mampu berkata, “Cukup.”
Jadi slow living ternyata tak sesederhana quote-quote atau takarir-takarir yang berseliweran di Instagram. Yang rumit mungkin bukan slow living-nya, melainkan biaya untuk bisa hidup dengan ritme yang kita kehendaki.

Karmin Winata adalah pegiat media yang memiliki ketertarikan pada isu sosial, masyarakat, budaya, serta perkembangan dunia digital.
Ia mengawali karier sebagai Social Media Strategist di detik.com pada 2010–2012, kemudian bergabung dengan AsiaPR dan Liputan6.com, sebelum menjadi Editor di Trubus.id.
Saat ini, Karmin Winata sedang menjalani slow living di kampung halaman.

