HEADLINNEWS.ID – Nusa Tenggara Timur, Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) membuat warga di sejumlah daerah berhamburan keluar rumah. Sebagian warga bahkan bergerak menuju perbukitan untuk menghindari kemungkinan gempa susulan dan kenaikan air laut.
Di Sikka, jurnalis Arnold Welianto mengaku langsung mengevakuasi keluarganya setelah merasakan guncangan kuat. Rumah Arnold berada di kawasan pinggir pantai.
“Saya kaget dan bangun, langsung menuju ke kamar anak, langsung tarik anak keluar dari rumah, istri ikut dari belakang. Rumah kami pinggir pantai,” ujar Arnold.
Setelah berada di luar rumah, Arnold melihat banyak warga lain berlari menuju perbukitan dan memenuhi jalan raya. Menurut dia, gempa susulan masih terjadi dan air laut sempat surut cukup lama.
“Karena setelah gempa besar itu masih terjadi gempa susulan dan air laut sempat surut agak lama,” tambah Arnold.
Arnold juga melihat para pasien di puskesmas dievakuasi ke luar bangunan. Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah dihentikan sementara.
WARGA MENUJU PERBUKITAN
Situasi serupa terjadi di Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Sejumlah warga berbondong-bondong menuju perbukitan untuk mencari perlindungan setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan jurnalis Kompas.com di lapangan, warga mengungsi ke dataran yang lebih tinggi karena khawatir terjadi gempa susulan serta kenaikan air laut.
“Saya pun berlindung bersama warga di perbukitan di Kelurahan Watu Nggene, untuk menghindar dari gempa susulan dan air lain naik,” lapor jurnalis Kompas.com di lapangan.
Di Kabupaten Nagekeo, BNPB menyebut sekitar 2.000 warga melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri.
Sebagian besar warga melakukan evakuasi menyusul guncangan kuat dan peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa utama.
GEMPA TERASA HINGGA NTB
Guncangan gempa tidak hanya dirasakan di NTT. Wilayah yang dilaporkan merasakan gempa antara lain Kabupaten Nagekeo, Sikka, dan Manggarai Barat di NTT; Kota Bima dan Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB); serta Kabupaten Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros di Sulawesi Selatan.
Di Kota Mataram, NTB, sejumlah warga yang sedang beraktivitas juga langsung berhamburan ke tengah jalan.
“Gempa itu bikin kaget karena terjadi saat jam sibuk menyiapkan anak ke sekolah,” kata salah seorang warga bernama Veronika saat ditemui di Mataram, NTB, Sabtu.
Warga Lombok lainnya, Adam, mengatakan benda-benda di kamarnya bergoyang ketika gempa terjadi.
“Tadi saat lagi tidur tiba-tiba semua benda di kamar bergoyang, ternyata itu gempa bumi. Semoga tidak terjadi hal buruk di daerah pusat gempa,” ucap Adam.
PERINGATAN TSUNAMI
Evakuasi warga terjadi setelah gempa utama dan peringatan dini tsunami yang dikeluarkan BMKG.
Gempa terjadi pada pukul 05.58 WITA dengan kedalaman 15 kilometer. Pusat gempa berada 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT.
BMKG kemudian merilis rekomendasi “evakuasi menyeluruh” bagi pemerintah daerah di wilayah terdampak.
Di sejumlah tempat, tsunami terdeteksi. Di Bakalang, Alor, NTT, tsunami tercatat setinggi 0,14 meter pada 05.41 WIB.
Di Dompu, NTB, tsunami tercatat setinggi 0,17 meter. Sementara di Flores Timur, Labuan Bajo, dan Sikka, ketinggian air tercatat 0,19 hingga 0,36 meter.
Di Maurole, Ende, NTT, ketinggian air hampir satu meter pada 05.27 WIB.
BMKG kemudian mengakhiri peringatan tsunami. Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan pengakhiran peringatan telah diterbitkan.
“Pengakhiran telah diterbitkan,” kata Nelly dalam konferensi pers daring.
Meski peringatan tsunami sudah dicabut, BMKG tetap memantau kondisi laut dan aktivitas gempa susulan di sekitar wilayah terdampak.
Berdasarkan data sementara BNPB hingga Minggu (16/8) dini hari, tercatat 341 kali gempa susulan dengan magnitudo 3,7 sampai 6,2.
BNPB juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan serta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa.

