HEADLINNEWS.ID – Nusa Tenggara Timur, Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA. Gempa berpusat di 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Guncangan kuat membuat warga di sejumlah wilayah berhamburan keluar rumah. Sebagian warga memilih menuju perbukitan karena khawatir terjadi gempa susulan dan kenaikan air laut.
Di Sikka, jurnalis Arnold Welianto mengaku langsung mengevakuasi keluarganya setelah merasakan guncangan.
“Saya kaget dan bangun, langsung menuju ke kamar anak, langsung tarik anak keluar dari rumah, istri ikut dari belakang. Rumah kami pinggir pantai,” ujar Arnold.
Arnold mengatakan warga lain juga berlari menuju perbukitan dan memenuhi jalan raya. Kondisi itu terjadi setelah gempa besar disusul gempa susulan dan air laut sempat surut cukup lama.
“Karena setelah gempa besar itu masih terjadi gempa susulan dan air laut sempat surut agak lama,” tambah Arnold.
PERINGATAN TSUNAMI
Setelah gempa utama, BMKG menerbitkan peringatan dini tsunami. Peringatan tersebut dikeluarkan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang NTT.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG merilis rekomendasi “evakuasi menyeluruh” bagi pemerintah daerah di wilayah terdampak.
Di sejumlah tempat, tsunami kemudian terdeteksi. Di Bakalang, Alor, NTT, tercatat tsunami setinggi 0,14 meter pada 05.41 WIB.
Di Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), tsunami tercatat setinggi 0,17 meter. Sementara itu, di Flores Timur, Labuan Bajo, dan Sikka, ketinggian air berada pada 0,19 hingga 0,36 meter.
Di Maurole, Ende, NTT, ketinggian air hampir satu meter pada 05.27 WIB.
BMKG juga melaporkan status siaga hingga waspada tsunami di sejumlah wilayah NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan, dengan ketinggian 0,5 hingga tiga meter.
WARGA MENGUNGSI
Peringatan tsunami membuat warga di sejumlah daerah melakukan evakuasi. Di Kabupaten Nagekeo, BNPB menyebut sekitar 2.000 warga melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri.
Di Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, sejumlah warga berbondong-bondong menuju perbukitan untuk mencari perlindungan setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan jurnalis Kompas.com di lapangan, warga mengungsi ke dataran lebih tinggi karena khawatir terjadi gempa susulan serta kenaikan air laut.
“Saya pun berlindung bersama warga di perbukitan di Kelurahan Watu Nggene, untuk menghindar dari gempa susulan dan air lain naik,” lapor jurnalis Kompas.com di lapangan.
Di Sikka, para pasien di puskesmas juga dievakuasi ke luar bangunan. Aktivitas belajar mengajar di sekolah dihentikan sementara.
Sementara di Kota Mataram, NTB, warga yang sedang beraktivitas langsung berhamburan ke tengah jalan.
“Gempa itu bikin kaget karena terjadi saat jam sibuk menyiapkan anak ke sekolah,” kata salah seorang warga bernama Veronika saat ditemui di Mataram, NTB, Sabtu.
TSUNAMI BERAKHIR
BMKG kemudian mengakhiri peringatan tsunami setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang NTT.
“Pengakhiran telah diterbitkan,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam konferensi pers daring.
Meski peringatan tsunami sudah dicabut, BMKG tetap memantau kondisi laut dan aktivitas gempa susulan di sekitar wilayah terdampak.
Gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama. Berdasarkan data sementara BNPB hingga Minggu (16/8) dini hari, tercatat 341 kali gempa susulan dengan magnitudo 3,7 sampai 6,2.
BNPB juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan serta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa.
PENYEBAB GEMPA
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan sumber gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif di bagian utara Pulau Flores.
Menurut Arief, aktivitas sesar serupa juga pernah berkaitan dengan gempa yang terjadi pada 1992.
“Jadi memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 1992. Jadi ini penyebabnya adalah sesar yang di utara Pulau Flores,” kata Arief.
Arief juga meminta masyarakat menjauhi kawasan pesisir untuk sementara waktu.
“Untuk saat ini tapi tetap untuk masyarakat jangan jangan mendekati pantai,” katanya.

