HEADLINNEWS.ID – PURWOREJO – Generasi muda dinilai harus berani keluar dari zona nyaman, memperluas pengalaman, serta membangun kemandirian ekonomi sebelum mengambil peran lebih besar di tengah masyarakat maupun dunia politik.
Pesan tersebut disampaikan Presiden Indonesian BRICS Youth Forum sekaligus Founder & President Indonesian Entrepreneur Club, Syafii Efendi, M.M., saat berdiskusi bersama sejumlah tokoh muda, aktivis organisasi, dan mahasiswa di Pendopo Khasnu, Bayan, Kabupaten Purworejo, Jumat (8/8/2026).
Pertemuan yang digelar di kediaman Ketua DPD KNPI Kabupaten Purworejo, Musyafa, tersebut menjadi ruang dialog mengenai kepemudaan, kepemimpinan, ekonomi, hingga tantangan generasi muda dalam menghadapi masa depan.
Dalam kesempatan itu, Syafii menegaskan bahwa pemuda tidak cukup hanya memiliki idealisme dan keberanian berbicara. Menurutnya, keberanian untuk bertindak, mengambil risiko, mencari pengalaman baru, dan membangun kekuatan ekonomi juga menjadi bagian penting dari proses menuju kepemimpinan.
Ia mengibaratkan anak muda seperti sebuah kapal.
“Anak muda itu seperti kapal. Kapal memang terlihat indah di pinggir pantai, tetapi bukan untuk itu kapal diciptakan. Kapal diciptakan untuk memecah gelombang di lautan,” tegas Syafii.
Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk tidak takut meninggalkan kenyamanan dan mencoba peruntungan di tempat lain.
Menurutnya, pengalaman di luar daerah dapat memperluas wawasan sekaligus menguji kemampuan seorang pemuda dalam menghadapi persaingan.
“Anak muda yang tidak berani merantau, ada masalah dengan keberaniannya. Di usia muda, mengapa mau bertahan dan terikat di kampung halaman saja? Kau harus berani bertarung di skala nasional atau Jakarta,” ujarnya.
Syafii bahkan mengingatkan agar pemuda tidak puas hanya menjadi sosok yang dikenal hebat di tingkat lokal.
“Jangan cuma jadi pemuda hebat di tingkat lokal. Kampung halaman ini nanti saja kita rawat bersama saat sudah memasuki masa pensiun,” katanya.
Kemandirian Ekonomi Jadi Modal Penting
Selain keberanian, Syafii menekankan pentingnya kemandirian ekonomi bagi generasi muda, khususnya mereka yang aktif dalam organisasi dan gerakan sosial.
Ia mengingatkan agar idealisme tidak membuat seorang aktivis mengabaikan kebutuhan pribadi maupun keluarga.
Menurutnya, seseorang harus mampu menyelesaikan persoalan hidupnya sendiri sebelum memiliki kapasitas yang lebih besar untuk membantu orang lain.
“Save yourself, prepare yourself for others,” ungkapnya.
Syafii kemudian mengingatkan para peserta agar tidak melupakan keluarga, khususnya orang tua.
“Sebelum Anda menyelamatkan orang lain, selamatkan diri sendiri terlebih dahulu. Bahagiakan kedua orang tua. Jangan sibuk ‘berperang’ di luar sana, tapi orang tua sendiri malah tidak makan,” tuturnya.
Ia menilai, kemandirian ekonomi bukan berarti meninggalkan idealisme. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang kuat justru dapat membuat seseorang memiliki kebebasan lebih besar dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan.
Ideologi Kuat, Ekonomi Kuat
Syafii juga mengaitkan kemandirian ekonomi dengan dunia politik dan kepemimpinan.
Menurutnya, seorang pemimpin yang tidak memiliki fondasi ekonomi yang kuat akan lebih rentan terhadap intervensi kepentingan lain.
Ia menyebut terdapat dua kekuatan utama yang dapat digunakan untuk menggerakkan masyarakat, yakni ideologi dan ekonomi.
“Menggerakkan orang dalam dunia politik itu cuma ada dua cara: ideologi dan ekonomi. Yang paling ideal adalah gabungan keduanya. Ideologinya kuat, ekonominya juga kuat,” jelasnya.
Menurut Syafii, perpaduan antara kekuatan ideologi dan ekonomi akan melahirkan pemimpin yang memiliki prinsip sekaligus kemandirian dalam menentukan arah perjuangan.
“Itulah sosok yang akan memimpin Indonesia di masa depan, yaitu pemimpin mandiri yang tidak bisa dikendalikan oleh sponsor di belakangnya,” tegasnya.
KNPI: Pemuda Jangan Sekadar Jadi Penonton
Sementara itu, Ketua DPD KNPI Kabupaten Purworejo, Musyafa, menyambut positif gagasan yang disampaikan Syafii Efendi.
Menurut Musyafa, pertemuan tersebut memberikan perspektif baru bagi para aktivis dan generasi muda Purworejo untuk melihat kepemudaan tidak hanya dari sisi organisasi, tetapi juga dari aspek ekonomi dan kapasitas kepemimpinan.
Ia berharap pemuda Purworejo mampu mengambil peran lebih besar, baik sebagai penggerak sosial maupun pelaku ekonomi.
“Kedatangan Bung Syafii memberikan wawasan strategis bagi kami di daerah. Pemuda Purworejo harus mengambil peran sebagai pelaku ekonomi dan pemimpin yang berintegritas, bukan sekadar penonton di daerahnya sendiri,” pungkas Musyafa.
Pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa masa muda bukan waktunya terlalu lama berada di zona nyaman. Pemuda dituntut berani mencoba, berani gagal, membangun kapasitas, sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi sebagai bekal untuk mengambil peran lebih besar di masa depan.

