Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Prabowo – Gibran, Duet atau Duel?! (4)

Jayanto Arus Adi
By
Jayanto Arus Adi
Jayanto Arus Adi adalah wartawan senior, Ahli Pers Dewan Pers, asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta alumni Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan...
5 Min Read
Jayanto Arus Adi

HEADLINNEWS.IDUntung ada tontonan Piala Dunia. Andai tidak ada (Piala Dunia), kasus penggeledahan rumah/kediaman Jampidsus (FA) dan di belasan lokasi lain akan membuat suhu politik jadi mendidih. Apakah ini reality show, atau drama penegakan hukum. Akankah terjadi lagi drama, seperti ‘Cicak versus Buaya’ atau publik akan melihat episode lain yang lebih seru?!

Indonesia hari-hari ini gegap gempita, riuh, penuh warna. Untung ada Piala Dunia, jadi tsunami nestapa yang begitu ‘ngeri-ngeri sedap’ tak lantas membuhul duka lebih dalam. Simak saja, kayak di film Bollywood, masak dua institusi penegak hukum, Korps Bhayangkara dan Korps Adhyaksa berselip langkah. Miris, FA tokoh yang digadang-gadang menjadi Jaksa Agung, sebelumnya Jampidsus dibebes operasi senyap.

Mission full possible, publik dibuat termehek-mehek, dan keluarga besar Korps Adhyaksa tercekat, tak bisa berkata apa-apa lagi, persis gol Spanyol di menit akhir saat meladeni (anak emas FIFA) Argentina. Andai tidak lagi demam Piala Dunia, kasus FA pasti viral membahana menyihir warga negeri ini.

Maaf, atau bisa jadi, sang mastermind malah sudah menghitung ikhwal aspek. Sikat, momentum emasnya tidak bisa diundur, begitu kalkulasinya, maka cuzz eksekusi senyap dituntaskan tanpa menunggu ba bi bu.

Konon Presiden Prabowo meradang dan marah! Wajarlah beliau begitu, karena operasi menjagal FA sama sekali tidak dilapori terlebih dulu. Sebegitu dramatisnya, sebegitu rapinya, aneh bin ajaib orang nomor satu di Republik ini ‘ditelap.’

Apa benar ada pembangkangan, siapa dalang yang memicu pagebluk di palagan Kurusetra ini. Spekulasi liar berseliweran, FA ditarget lantaran berpindah ke lain hati. Nah hati siapakah, dan hati yang manakah, yang tak jadi benci, jika di depan mata dia berubah, kita harus sabar menunggu.

Kasus Febrie mengingatkan tragedi yang menimpa Budi Gunawan (BG) ketika dinominasikan jadi Kapolri. Tiba-tiba KPK yang ketika itu dinahkodai Abraham Samad menetapkan jadi TSK. Sangkaannya waktu itu soal rekening gendut.

Ikhwal ini yang mencuatkan geger Cicak vs Buaya. Andai tidak ada ontran-ontran di atas, bisa jadi Budi Gunawan mulus melenggang menjadi Tribrata Satu. Tapi apa boleh buat, bisa jadi tragedi FA mirip-mirip peristiwa yang dialami BG, ketika itu.

Dinamika yang menyalak hari-hari ini, seperti kasus FA, apakah berelasi atau beririsan dengan seri tulisan ini ‘Prabowo – Gibran, duet atau duel?!’. Dalam terminologi Jawa ada istilah ‘otak-atik gathuk.’ Apa benar patron-patron negeri ini sedang dilanda sengkarut sikap.

Bisik-bisik di Pos Ronda dan berita liar di media sosial, operasi senyap terhadap FA adalah titah sang patron satu. Patron satu adalah tokoh yang mendukung patron dua untuk menjadi nahkoda ‘kapal besar’ ini. Selain dua patron tersebut, siapa lagi patron-patron yang lain, info bisik-bisik dari Pos Ronda juga, termasuk jadi patron adalah Mak Banteng.

Patron keempatnya bukan tunggal, tetapi terdiri dari beberapa ‘naga’, malah dijuluki sembilan naga. Sembilan naga ini bukan sembarang naga. Dalam bukunya, Prabowo Subianto mengidentifikasi ada 1% orang terkaya di negeri ini, tapi kekuatannya luar biasa. Kelompok kecil ini menguasai 36% sampai 38% total kekayaan/pendapatan Indonesia.

Artinya, sisanya (sekitar 90% populasi) hanya berbagi 34% kekayaan yang ada. Sebanyak 1% populasi terkaya Indonesia menguasai 67% tanah/lahan di Indonesia (berdasarkan rujukan data Rasio Gini Kepemilikan Tanah yang mencapai 0,67). Lebih dari 75% petani (sekitar 28 juta orang) tidak memiliki lahan sendiri dan hanya bekerja sebagai buruh tani.

Nah jika begini, ente mau bilang ape??

Seperti lampu petromaks kehabisan angin. Apalagi tiba-tiba ada peronda yang nimbrung, ‘’Loe tahu kagak ‘sembilan naga’ itu cuman nurut sama perintahnya patron satu?!”

Malam larut, sepi apalagi laga Piala Dunia sudah usai. Di tengah keheningan menjelang larut sayup-sayup terdengar berita yang diunggah dari gadget peronda yang lain. Entah distimulasi karena aksi Korps Bhayangkara mengobrak-abrik rumah atau kediaman FA, sang Jampidsus, pada Rapat Kabinet Terbatas (Ratas), Presiden dan Wakil Presiden tak duduk bersisihan.

Alakadabra, tobat-tobat, Prabowo dan Gibran tidak bersisihan, apakah ini pertanda perselisihan. Benarkah ini episode yang tak lagi bisa dipungkiri dan publik bisa menilai sendiri adanya duet rasa duel. Wallahu a’lam. (bersambung)

Jayanto Arus Adi, Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat, dan duduk sebagai Pengurus Pusat SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) dan Plt Ketua SMSI Jateng. SMSI adalah salah satu konstituen Dewan Pers.

Tahun 2025 mengikuti PPNK Lemhanas RI Angkatan 227. Selain tetap aktif sebagai praktisi media, juga berkiprah sebagai konsultan media dan komunikasi. Ikut berkontribusi di Satu Pena (organisasi penulis yang dipimpin Denny JA).

Mengajar jurnalistik di beberapa kampus, juga aktif di MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia) sebagai Ketua Umum Nasional. Saat ini tengah menempuh S3 (Program Doktoral) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bidang yang dipilih adalah Prodi Pertanian, Komunikasi Agribisnis, dan Ketahanan Pangan.

Headlinnews.id adalah media online yang didirikan dan dinahkodai langsung sebagai CEO sekaligus Pemimpin Redaksi. Dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”, media ini didedikasikan menjadi oase bagi informasi alternatif, sekaligus lokomotif penggiat civil society.

Editor: HL-News
Share This Article
Jayanto Arus Adi adalah wartawan senior, Ahli Pers Dewan Pers, asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta alumni Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (PPNK) Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia Angkatan 227 Tahun 2025. Selain aktif sebagai praktisi media, juga menjabat Pengurus Pusat Serikat Media Siber Indonesia (konstituen Dewan Pers) dan Pelaksana Tugas Ketua Umum SMSI Jawa Tengah. Turut berkiprah di Satu Pena, organisasi penulis yang dipimpin Deny JA. Mengajar jurnalistik di beberapa perguruan tinggi dan juga menahkodai Mobile Jurnalis (MOJO) Indonesia. Saat ini, Jayanto Arus Adi tengah menempuh Program Doktor (S3) di Universitas Jenderal Soedirman pada Program Studi Pertanian, dengan konsentrasi Komunikasi Agribisnis dan Ketahanan Pangan. Membidani dan terlibat langsung di Headlinnews.id sebagai Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi. Dengan tagline "Dari Jawa Tengah untuk Indonesia", media ini didedikasikan sebagai oase informasi alternatif sekaligus lokomotif bagi penguatan gerakan civil society.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!