HEADLINNEWS.ID – Medan, Nusantara Centre mengangkat peran negara sebagai penggerak utama inovasi dalam program Investasi, Inovasi, Hilirisasi, dan Industrialisasi (4i). Gagasan tersebut menjadi materi kertas kerja kedua yang disiapkan sebagai pengantar forum diskusi kelompok terarah (FGD) di Medan.
Program 4i dijalankan melalui rangkaian FGD, seminar, riset, dan penulisan buku untuk mempertajam diskursus mengenai kedaulatan ekonomi. Setelah pertemuan di Medan, agenda serupa dijadwalkan berlangsung di Bandung, Semarang, dan Denpasar.
Dalam kertas kerja yang ditulis Yudhie Haryono dan Agus Rizal dari Nusantara Centre, negara diposisikan bukan hanya sebagai regulator, melainkan sebagai pihak yang menanggung risiko terbesar dalam melahirkan inovasi.
Tulisan tersebut mencontohkan sejumlah teknologi yang kini digunakan secara luas, seperti internet, GPS, layar sentuh, hingga teknologi asisten suara, yang disebut berawal dari riset lembaga negara sebelum kemudian dikembangkan dan dipasarkan oleh perusahaan swasta. Pola serupa juga disebut terjadi pada pengembangan obat-obatan, vaksin, terapi kanker, energi terbarukan, panel surya, dan baterai lithium.
Menurut naskah itu, negara memiliki kemampuan membiayai riset berisiko tinggi dalam jangka panjang karena tidak dibebani tuntutan keuntungan jangka pendek sebagaimana perusahaan yang berorientasi pada pasar modal.
Kertas kerja tersebut juga membedakan dua pendekatan negara dalam pembangunan ekonomi, yakni “capitalism state” yang menempatkan negara sebagai regulator dan penyedia infrastruktur dasar, serta “entrepreneurial state” yang mendorong negara menjadi investor aktif untuk menciptakan pasar baru melalui investasi publik.
Selain menyoroti peran negara, penulis juga menilai sektor swasta tetap memiliki fungsi penting dalam penyempurnaan produk serta distribusi teknologi ke pasar. Namun, fondasi ilmiah dan teknologi disebut telah dibangun lebih dahulu melalui investasi publik.
Naskah itu turut mengusulkan agar negara memperoleh bagian yang lebih proporsional dari hasil inovasi yang lahir dari riset publik, antara lain melalui mekanisme royalti, kepemilikan saham, atau skema lain yang memberikan imbal hasil atas investasi negara.
Pada bagian akhir, kertas kerja tersebut mendorong penguatan ekosistem inovasi yang melibatkan warga, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha kecil. Ekosistem itu disebut dapat menjadi ruang lahirnya gagasan inovatif yang kemudian mendorong negara mengambil peran lebih aktif dalam pengembangan inovasi.
Kertas kerja Nusantara Centre menempatkan perubahan peran negara dalam kebijakan inovasi sebagai isu utama, bukan sekadar pembahasan mengenai teknologi. Fokus pembahasannya adalah bagaimana investasi publik dipandang sebagai fondasi berbagai inovasi strategis, sekaligus perlunya pembahasan mengenai mekanisme agar hasil ekonomi dari riset publik juga memberikan manfaat kembali kepada negara. Isu tersebut menjadi tema yang akan terus dibahas dalam rangkaian forum 4i di sejumlah kota.

