HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Nusantara Centre menetapkan M.H. Thamrin sebagai tokoh pertama dalam program pengenalan pemikiran para pendiri republik yang digelar pada Juni-Juli 2026 untuk menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia. Program itu mencakup penyelenggaraan kelas, penerbitan buku, produksi film, serta penyebarluasan gagasan tokoh-tokoh pendiri bangsa.
Dalam naskah yang ditulis Mikhail Adam, Peneliti Ekopol di Nusantara Centre, M.H. Thamrin dipilih sebagai tokoh pembuka dari 17 tokoh yang akan diangkat dalam program tersebut. Thamrin dinilai memiliki peran penting dalam perjuangan kebangsaan melalui jalur politik, pendidikan, dan gerakan sosial pada masa kolonial.
Thamrin tercatat aktif di Gemeenteraad (Dewan Kota), Volksraad (Dewan Rakyat), Kaoem Betawi, dan Partai Indonesia Raya. Pada 1927, ia menjadi anggota Volksraad dan menggunakan forum parlemen kolonial itu untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat bumiputra.
Di Volksraad, Thamrin menyampaikan kritik terhadap kebijakan kolonial, termasuk menentang pajak yang dinilai memberatkan rakyat, memperjuangkan akses pendidikan, serta mendorong penggunaan nama Indonesia menggantikan sebutan Nederland-Indie dan inlander. Ia juga membentuk Fraksi Nasional sebagai wadah perjuangan kemerdekaan secara kolektif.
Naskah tersebut juga menyoroti pidato Thamrin mengenai poenali sanctie, sistem hukuman bagi buruh di Deli, Sumatra. Menurut sumber, pidato itu mendapat perhatian internasional hingga memicu kampanye penolakan pembelian tembakau Deli di Amerika Serikat, yang kemudian diikuti penghapusan kebijakan tersebut oleh pemerintah kolonial Belanda.
Selain bergerak di bidang politik, Thamrin disebut memanfaatkan sepak bola sebagai ruang konsolidasi masyarakat bumiputra. Pada 1928, ia berperan dalam pendirian Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) yang kemudian berganti nama menjadi Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ).
VIJ selanjutnya menjadi salah satu pendiri Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) pada 1930 dan dikenal sebagai cikal bakal Persija Jakarta. Karena keterlibatannya tersebut, Thamrin kerap dijuluki sebagai Bapak Persija Jakarta.
Naskah itu juga menyebut Thamrin menghadapi pengawasan politik dari pemerintah kolonial hingga menjalani tahanan rumah ketika kondisi kesehatannya menurun. Ia meninggal dunia pada 1941.
Saat ini, nama M.H. Thamrin diabadikan sebagai salah satu jalan utama di Jakarta. Dalam program Nusantara Centre, pemikiran dan perjalanan hidupnya menjadi materi pembuka dari rangkaian pengenalan 17 tokoh pendiri republik yang disiapkan untuk menyambut peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-81.
Data sumber menunjukkan bahwa program Nusantara Centre menempatkan M.H. Thamrin sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan kembali kontribusi tokoh-tokoh pendiri bangsa kepada publik. Fakta yang ditonjolkan dalam naskah berfokus pada peran Thamrin dalam memanfaatkan lembaga kolonial sebagai ruang perjuangan politik, memperjuangkan identitas nasional, membela hak masyarakat bumiputra, serta menggunakan sepak bola sebagai bagian dari gerakan kebangsaan. Seluruh penjelasan tersebut menjadi dasar pemilihan Thamrin sebagai tokoh pertama dalam rangkaian program yang disusun untuk menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia.
Program Nusantara Centre menempatkan M.H. Thamrin sebagai tokoh pertama dari 17 pendiri republik yang akan diperkenalkan dalam rangkaian kegiatan menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan naskah, pemilihan tersebut menunjukkan bahwa lembaga tersebut memulai program dengan menyoroti kiprah Thamrin di bidang politik, pendidikan, gerakan sosial, serta sepak bola.
Naskah juga memperlihatkan bahwa fokus pengenalan Thamrin tidak hanya pada aktivitasnya di Volksraad, tetapi juga pada upayanya memperjuangkan kepentingan masyarakat bumiputra, mendorong penggunaan nama Indonesia, serta perannya dalam organisasi sepak bola yang kemudian berkaitan dengan lahirnya PSSI. Dengan demikian, cakupan materi yang disiapkan dalam program mencerminkan pendekatan yang menggabungkan aspek politik, sosial, dan olahraga sebagaimana dipaparkan dalam naskah sumber.
Adapun implikasi program yang dapat disimpulkan dari naskah adalah upaya memperkenalkan kembali pemikiran dan peran tokoh pendiri republik melalui berbagai media, yakni kelas, buku, film, dan penyebarluasan gagasan. Dampak yang disebutkan dalam naskah terbatas pada pelaksanaan program tersebut; tidak terdapat keterangan mengenai respons publik maupun hasil pelaksanaannya.

