HEADLINNEWS.ID – Harga minyak mentah berpotensi bertahan di atas level psikologis USD100 per barel hingga akhir Juli seiring berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah, memicu kekhawatiran terhadap inflasi baru dan meningkatnya volatilitas pasar global. Pada saat yang sama, pelaku pasar juga mencermati kebijakan tarif baru Amerika Serikat serta rilis data ekonomi penting dari Inggris dan Eropa.
Risiko gangguan pasokan energi global dinilai masih tinggi selama konflik di Timur Tengah belum mereda. Kondisi tersebut menjaga premi risiko di pasar komoditas dan mendorong harga minyak tetap berada di level tinggi.
Kenaikan harga energi dikhawatirkan memicu tekanan inflasi di berbagai negara. Jika inflasi kembali meningkat, ruang bagi bank-bank sentral utama, terutama Federal Reserve, untuk memangkas suku bunga diperkirakan semakin terbatas.
“Selama harga minyak tetap tinggi akibat faktor geopolitik, pasar akan kembali mempertanyakan seberapa cepat bank sentral dapat mulai melonggarkan kebijakan moneternya. Inflasi energi merupakan salah satu faktor yang paling cepat memengaruhi ekspektasi suku bunga.”
Selain pasar energi, aliran investasi juga bergerak ke saham-saham industri pertahanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Dalam beberapa bulan terakhir, indeks saham perusahaan pertahanan mencatat kinerja yang relatif lebih baik dibanding sejumlah sektor siklikal.
Dari Asia, perhatian investor tertuju pada kemungkinan intervensi Bank of Japan (BOJ) di pasar valuta asing apabila pergerakan yen dinilai terlalu ekstrem. Langkah tersebut diperkirakan dapat dilakukan menjelang penutupan perdagangan pekan ini maupun pada awal pekan depan.
Jika intervensi dilakukan, pasangan mata uang USD/JPY, EUR/JPY, GBP/JPY, dan AUD/JPY diperkirakan mengalami peningkatan volatilitas.
Sentimen global juga dipengaruhi kebijakan perdagangan terbaru Amerika Serikat. Pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan tarif baru sebesar 10 persen hingga 12,5 persen terhadap impor dari sekitar 60 mitra dagang, termasuk Uni Eropa, setelah berakhirnya tarif sementara sebesar 10 persen.
Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari pengawasan terhadap produk yang diduga berasal dari praktik kerja paksa dengan menggunakan dasar hukum berbeda dari kebijakan tarif sebelumnya yang sempat dibatalkan Mahkamah Agung AS. Langkah itu berpotensi meningkatkan ketegangan perdagangan apabila negara mitra menerapkan tarif balasan.
Pada perdagangan hari ini, investor juga menanti sejumlah indikator ekonomi yang diperkirakan memengaruhi pergerakan pasar valuta asing.
Pukul 13.00 WIB, Inggris dijadwalkan merilis data Retail Sales bulanan. Konsensus memperkirakan penjualan ritel mengalami kontraksi 0,3 persen setelah pada periode sebelumnya tumbuh 1,2 persen. Realisasi di bawah ekspektasi berpotensi menekan nilai tukar poundsterling.
Selanjutnya pada pukul 14.15 hingga 15.30 WIB, Prancis, Jerman, dan Inggris akan merilis data Flash PMI.
Di Prancis, PMI manufaktur diproyeksikan berada di level 51,0 dan PMI jasa 47,5. Sementara di Jerman, PMI manufaktur diperkirakan mencapai 50,4 dan PMI jasa 49,0.
Inggris diproyeksikan membukukan Flash Manufacturing PMI sebesar 52,0 serta Flash Services PMI di level 49,4. Deviasi signifikan dari proyeksi pasar berpotensi memicu pergerakan tajam pada pasangan EUR/USD, GBP/USD, maupun indeks dolar AS.
Di pasar komoditas, emas diperkirakan masih mendapat dukungan selama ketegangan geopolitik bertahan, meski pergerakannya tetap dipengaruhi imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Pergerakan pasar hari ini dipengaruhi kombinasi beberapa faktor sekaligus, yakni harga minyak yang bertahan tinggi, risiko inflasi, kebijakan tarif baru Amerika Serikat, potensi intervensi Bank of Japan, serta rilis data Retail Sales Inggris dan PMI Eropa. Kombinasi faktor tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar valuta asing, komoditas, dan indeks saham global sepanjang perdagangan.

