IHSG Melemah, Investor Cermati Dolar AS dan Tekanan Emas

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
6 Min Read
- Ilustrasi

HEADLINNEWS.IDJAKARTA, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Tekanan indeks terjadi saat investor mencermati aksi jual saham berkapitalisasi besar serta perkembangan pasar global yang dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data IDX Mobile pukul 09.01 WIB, IHSG turun 0,31% atau 18,83 poin ke level 6.097,86. Nilai transaksi awal tercatat Rp447,1 miliar dengan volume perdagangan 517,9 juta saham.

Sebanyak 203 saham bergerak menguat, 214 saham melemah, dan 542 saham stagnan pada pembukaan perdagangan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu pemberat indeks setelah turun 1,20% ke level Rp6.150. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melemah 3,79% ke Rp12.700.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga terkoreksi 1,66% ke Rp4.150. Sementara saham PT Astra International Tbk (ASII) turun 0,21% ke Rp4.720.

Di sisi lain, beberapa saham berkapitalisasi besar masih mencatat penguatan. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 0,27% ke Rp3.680, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 0,35% ke Rp2.880, dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) naik 0,40% ke Rp2.520.

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat kenaikan 6,47% ke Rp905. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga meningkat 1,55% ke Rp1.960.

Pada perdagangan sebelumnya, Senin (22/6/2026), IHSG ditutup melemah 0,98% ke level 6.116,69. Pelemahan tersebut diikuti aksi jual bersih investor asing sebesar Rp1,11 triliun.

Secara akumulasi sejak awal tahun, nilai jual bersih asing di pasar saham Indonesia telah mencapai Rp69,36 triliun.

Tim riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada area resistance 6.220 dan support 6.000. Analis Phintraco Sekuritas menyebut investor masih menunggu sejumlah agenda global dan domestik yang dapat menentukan arah pasar.

Salah satu perhatian investor adalah pengumuman Annual Market Classification Review oleh MSCI pada 24 Juni 2026 terkait status Indonesia dalam kelompok Emerging Market.

Selain itu, pasar menunggu hasil peninjauan peringkat Indonesia oleh S&P Global.

Tekanan Emas dan Penguatan Dolar Jadi Perhatian Pasar

Sentimen global juga dipengaruhi pergerakan emas terhadap dolar AS atau XAUUSD yang masih berada dalam tekanan jual. Berdasarkan analisis KJFX yang disampaikan analis A. Agustino pada 23 Juni 2026, pergerakan XAUUSD masih menunjukkan tren bearish akibat penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi, dan dominasi tekanan jual pelaku pasar.

Analisis KJFX, A. Agustino menyebut harga emas berada di sekitar area 4.139 pada timeframe harian dan 4.135 pada timeframe mingguan. Level tersebut turun signifikan dibandingkan puncak harga yang sempat mencapai area 5.400 pada awal 2026.

Menurut KJFX, A. Agustino menyebut pola harga emas membentuk lower high dan lower low yang menunjukkan setiap kenaikan masih menghadapi tekanan jual. Investor global juga mengurangi eksposur terhadap emas ketika dolar AS menguat dan imbal hasil instrumen berbasis dolar tetap menarik.

Secara teknikal, KJFX melihat harga emas berada di bawah MA20 EMA pada timeframe harian dan mingguan. Indikator Bollinger Band yang mengarah turun serta MACD bearish crossover memperkuat sinyal bahwa tekanan jual masih mendominasi.

Area resistance emas saat ini berada di kisaran 4.200 hingga 4.500, sementara support terdekat berada di sekitar 4.050 dan level psikologis 4.000. Jika area tersebut ditembus, risiko penurunan lanjutan masih terbuka.

Risiko Kebijakan Domestik Tekan Sentimen Investor

Dari dalam negeri, investor mencermati ketentuan dalam UU Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

Analis Phintraco Sekuritas menyebut aturan yang mewajibkan Bank Indonesia memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam penyusunan anggaran tahunan menimbulkan perhatian investor terkait independensi bank sentral.

Ketentuan tersebut mencakup anggaran operasional serta anggaran pelaksanaan kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan kebijakan makroprudensial.

Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menyatakan IHSG masih berada di bawah MA5, tetapi bertahan di atas MA10 dan MA20. Histogram MACD masih positif, sementara Stochastic RSI menunjukkan pembalikan menuju area pivot.

“Jika IHSG ditutup di bawah level 6.100, maka berpeluang menguji level psikologis 6.000. Namun jika masih bertahan di atas 6.100, konsolidasi diperkirakan berlanjut pada kisaran 6.050-6.220,” ujar analis Phintraco Sekuritas.

Pergerakan IHSG saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi faktor domestik dan global. Arus keluar asing yang mencapai Rp69,36 triliun sejak awal tahun menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap aset Indonesia.

Penguatan dolar AS dan tekanan harga emas menjadi indikator bahwa pasar global masih mencari arah terkait kebijakan moneter Amerika Serikat. Kondisi ini dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar berkembang.

Dalam jangka pendek, level 6.100 menjadi batas teknikal penting bagi IHSG. Sementara keputusan MSCI terkait klasifikasi pasar Indonesia akan menjadi katalis utama yang dinantikan investor pada perdagangan berikutnya.

Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *