AS-Iran, Damai!

Meski demikian, proses menuju perdamaian masih menghadapi tantangan dari kelompok garis keras di Iran. Mereka menolak kerangka kesepakatan tersebut dan menyerukan penolakan terhadap kompromi dengan Washington.

Mugi Imaning Tyas
2 Min Read
Donald Trump. Istimewa

HEADLINNEWS.ID – Headlinnews.id – Konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, akhirnya berakhir. Sinyal itu disuarkan Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social miliknya, Minggu (15/6/2026).

“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak. Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan, secara bersamaan, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut AS. Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir,” tulis Trump, dikutip pada Senin (15/6/2026).

Meski rincian final kesepakatan belum dipublikasikan, namun kabar ini memastikan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang selama berbulan-bulan terdampak konflik bakal kembali dibuka.

“Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!” tulis Trump, merujuk pada potensi normalisasi arus perdagangan energi global.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang berperan sebagai mediator dalam perundingan mengatakan pakta tersebut mencakup penghentian permanen operasi militer di seluruh front konflik.

“Penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon,” tulis Sharif dalam unggahannya di platform X.

Menurut Sharif, upacara penandatanganan kesepakatan secara resmi dijadwalkan akan berlangsung di Swiss pada 19 Juni mendatang.

Sementara itu, menukil sumber Reuters draf kesepakatan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade maritim AS, serta perpanjangan gencatan senjata.

Adapun isu program nuklir Iran akan dibahas lebih lanjut dalam perundingan tambahan selama 60 hari ke depan.

Terlepas dari itu, konflik antara AS dan Iran telah menelan ribuan korban jiwa sejak serangan pertama terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Eskalasi perang juga berdampak luas terhadap pasar energi global setelah Iran memblokade Selat Hormuz dan menyerang sejumlah target yang terkait dengan AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!