HEADLINNEWS.ID – Di bumi yang sama, manusia bersujud kepada Tuhan yang sama, namun darah tetap mengalir di antara mereka.
Ayat-ayat dibaca dengan suara bergetar. Doa-doa dilangitkan dengan penuh harap. Tetapi tangan yang menengadah itu pula yang kadang menggenggam senjata.
Lalu pertanyaan itu muncul, pelan namun menghantui: jika Tuhan mengajarkan kebaikan, mengapa manusia masih saling membunuh?
Hari ini, dunia menyaksikan dengan mata terbuka – bagaimana Amerika Serikat, Israel, dan Iran saling meluncurkan rudal. Seolah langit bukan lagi tempat doa, tetapi jalur lintasan kehancuran.
Serangan udara menghantam kota-kota. Pangkalan militer dibalas dengan dentuman yang sama. Gelombang rudal melintasi batas negara tanpa membawa nurani.
Dalam hitungan detik, satu tombol dapat mengirimkan kematian ke ribuan kilometer jauhnya.
Tidak ada lagi tatap muka. Tidak ada lagi suara manusia. Yang ada hanya angka korban yang terus bertambah.
Dan di tengah semua itu, manusia masih menyebut nama Tuhan… sambil saling menghancurkan.
Setelah pertanyaan itu menggantung di udara, manusia sering mencari jawaban pada ayat-ayat yang dianggap membenarkan tindakan mereka.
Padahal, jika dibaca dengan hati yang jernih, ayat-ayat itu justru datang dengan peringatan.
Dalam Al-Qur’an, perang tidak pernah dilepas tanpa batas:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
Kalimat itu sederhana, namun berat untuk dijalankan.
Karena dalam kenyataan, yang sering terjadi justru sebaliknya—batas itu dilupakan ketika amarah mengambil alih.
Padahal ayat lain masih berbicara dengan lembut: “Jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.”
Sebuah ajakan yang hampir tenggelam di tengah riuhnya teriakan perang. Seolah-olah damai dianggap kalah sebelum diperjuangkan.
Dalam tradisi Alkitab pun, suara itu tidak berbeda: “Berbahagialah orang yang membawa damai…”
Bukan yang menang perang. Bukan yang paling kuat. Tetapi yang mampu menghentikan pertumpahan darah—itulah yang disebut berbahagia.
Namun… mengapa darah masih tumpah?
Barangkali karena manusia lebih mudah membela keyakinannya daripada mengendalikan egonya.
Lebih berani mengangkat senjata daripada menahan amarah. Dan lebih sering merasa dirinya benar, tanpa sempat bertanya:
apakah Tuhan benar-benar menghendaki ini?
Jika kita mau jujur, perang yang paling sulit bukanlah melawan musuh di depan mata, melainkan melawan dorongan di dalam dada – yang ingin membalas, menghancurkan, dan menang sendiri.
Di sanalah sesungguhnya ayat-ayat itu diuji. Bukan di medan tempur, tetapi di dalam hati manusia.
Barangkali Tuhan tidak pernah keliru dalam menurunkan ayat.
Yang sering keliru adalah manusia – yang membaca dengan amarah, bukan dengan nurani.
Ayat dijadikan alasan. Padahal ia seharusnya menjadi rem.
Ayat dijadikan pembenar. Padahal ia diturunkan sebagai pengingat – bahwa bahkan dalam perang, kemanusiaan tidak boleh hilang.
Dan mungkin, pada akhirnya… jawaban dari pertanyaan itu bukan terletak pada langit, melainkan pada diri kita sendiri.
Selama manusia masih memelihara kebencian, selama ego lebih tinggi dari kasih, maka darah akan terus menemukan jalannya untuk tumpah di bumi.
Maka di dunia yang lelah oleh konflik ini, barangkali yang paling dibutuhkan bukan lagi pahlawan perang, melainkan penjaga-penjaga damai – yang berani menahan tangan ketika dunia mendorongnya untuk memukul.
Karena pada akhirnya, yang membuat manusia dekat dengan Tuhan bukanlah seberapa banyak ia mengalahkan musuh, melainkan seberapa mampu ia menjaga kehidupan.
Dan di sanalah, peperangan benar-benar berakhir – bukan di medan tempur, tetapi di dalam hati manusia.
Sudadi, yang akrab disapa Dadik, adalah wartawan senior, veteran Pasukan Perdamaian PBB Kontingen Garuda VIII/UNEF yang bertugas di Sinai, Timur Tengah, pada 1978–1979, serta veteran perdamaian. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Pengurus Pusat LVRI dan Pemimpin Perusahaan Headlinenews.id.

