Sejarah (kita) di Persimpangan Jalan, Berkiblat pada Sumber (mata air) yang Salah

Sejarah perlu dikaji kritis agar tidak terjebak mitos, propaganda, dan kepentingan penguasa semata.

Jayanto Arus Adi
7 Min Read

Oleh: Jayanto Arus Adi

Bangsa yang merawat sejarahnya adalah bangsa bijak, mereka tidak akan tersesat. Bangsa yang melupakan sejarahnya adalah bangsa yang sakit. Mereka akan tersesat dan terjerumus di belantara zaman. Ada pepatah begini, Nation without history is blind, no memory, and crazy!!

Sejarah itu ibarat cermin zaman. Namanya cermin mestinya menampakkan siapa dan apa adanya yang di depannya. Ketika yang tampak itu berbeda, itu ajaib, bukan cermin, tapi kotak sulap. Sayang kita seringkali memaknai sulap tanpa rasio, sehingga larut dan terbuai, seperti lirik lagu Pance Pondag.

Hari hari ini kita menikmati arus informasi begitu terbuka, bebas nyaris membanjir. Tak sedikit korban hanyut oleh informasi sampah, dana berita hoaks atau palsu. Tetapi hal positif yang bisa dipetik sejarah tidak lagi hadir secara tunggal, sakral dan menjadi dogma.

Karena publik mudah mengonfirmasi, atau mendapat asupan informasi sandingan yang sangat dimungkinkan. Media sosial adalah mata air dengan segala warna menghadirkan informasi. Ihwal ini menyadarkan pemangku kebijakan mesti hati-hati.

Pepatah sloganis, sejarah dibuat atau ditulis oleh pemenang seperti mendapat gugatan. Simak Sejarah Nasional kita (Indonesia), sejumlah fakta lama (klasik) yang dipahami menjadi sebuah kebenaran tak luput dikoreksi. Dr Sariat Arifia, peneliti senior sejarah Islam Nusantara misalnya, menjadi tokoh yang nyaring mengartikulasikan hal ini. ‘’Sejarah, persisnya Hari Jadi kota-kota di Pantura Jawa. perlu dikurasi, diuji lagi, dibedah lebih ekstrem diluruskan karena sumbernya (maaf) sangat minim, prematur, bukan arkeologis, tidak akademis (ilmiah) tetapi (hanya) memijakkan pada cerita (babad),’’ ujarnya dalam beberapa kesempatan di Semarang, Kudus, Demak dan Jakarta.

Sariat Arifiat tidak sedang berhipotesis, tetapi membeber sejumlah fakta.

Apa itu babad? Yang jelas bukan jenis makanan khas yang menggugah selera, seperi Soto Babat, atau nasi goreng babat Babad di sini adalah terminologi salah satu bentuk historiografi tradisional yang dominan di nusantara, khususnya di Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok.

Sebagai karya sastra diracik dalam bentuk tembang maupun prosa, babad mencatat peristiwa masa lalu, silsilah raja, hingga pendirian suatu wilayah. Sebuah karya sastra, karya fiksi untuk apa jadinya ketika menjadi pondasi sebuah sejarah. Bisa saja ada linimasa sejarah, namun bobotnya kecil, pantas meniupkan kontroversi.

Aspek menonjol yang telak menjadi pemicunya adalah perbedaan mendasar antara cara pandang sejarah modern yang menuntut rasionalitas, dan historiografi tradisional yang cenderung subyektif, meski memiliki fungsi sosial-politik tersendiri.

Hal lain yang tidak bisa dipungkiri adalah babad mencampuradukkan antara Fakta dan Mitos (Magis-Religius)

Babad sering kali mencampurkan peristiwa historis yang nyata dengan unsur mitologi, kesaktian, dan intervensi kekuatan gaib.

Digambarkan, dipersonifikasikan raja lahir dari dalam kawah, jadi memiliki kesaktian tiada tara. Mereka (raja) bukan manusia biasa karena titisan dewa, penguasa lautan, seperti penguasa laut selatan (Nyai Roro Kidul) dan tokoh yang ada dalam mitos belaka.

Dimensi ini wajar kontroversi membelah, ada ahli yang menolak dan menerima. CC Berg sejarawan abad 19 keras menampik babad sebagai sumber sejarah. Babad adalah karya sastra, penuh mitos dan propaganda politik yang tidak memenuhi unsur sebagai sebuah fakta.

Menjadikan babad sebagai referensi kata CC Berg adalah sikap yang keblinger. Memang, ada pendapat moderat, seperti de Graaf, juga Sartono Kartodirjo. Mereka melihat babad dengan cara yang lebih proporsional. Mereka berargumen bahwa di balik lapisan mitos dan hiperbola babad, terdapat inti fakta (historical kernel) yang sangat valid.

Menghadapi dua kutub seperti itu, lalu bagaimana generasi sekarang mesti bersikap. Hari Ini, pandangan terhadap sejarah perlu lebih terbuka, apalagi mengacu pada jargon yang mengatakan sejarah dibuat atau ditulis oleh pemenang.

Sejarah Republik ini adalah produk yang masih kental nuansa kolonialnya. Sangat aneh memaknai sejarah tanpa kesadaran kritis untuk mengkoreksinya. Bukan hanya sejarah hari jadi, sejarah nasional kita adalah produk yang lahir atas nama kepentingan kepentingan rezim.

Orde lama menulis sejarah untuk mengukuhkan rezim ketika itu, begitu pun Orde Baru. Sejarah G30SPKI, Supersemar dan banyak catatan sejarah bangsa ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan besar yang masih menjadi misteri.

Tragis, naif, semprul dan sontoloyo, membuat sejarah, bukan seperti sedang bercermin. Buruk muka cermin dibelah, apa kata dunia. Hari hari ini kita dihadapkan pada warna-warni serupa dengan beragam dimensi yang membalutnya.

Setiap pemimpin, penguasa ingin kisahnya dimonumenkan dalam sejarah. Jika narasi yang ditulis dan dimonumenkan dimuarakan untuk menjadi aktor sejarah maka yang terjadi adalah kebenaran semu.

Sejarah ditulis oleh pemenang (History is written by the victors) adalah salah satu aforisme paling terkenal dalam dunia historiografi. Jika demikian adanya apa yang perlu dan bisa kita berbuat? Kita tetap tidak mudah mengibarkan bendera putih, atau menyerah.

Karena dimensi lain yang sifatnya dialektis adalah sejarah

Ditulis oleh “Orang yang Bertahan Hidup”. Perlu diketahui, tidak jarang, pihak yang kalah secara militer justru memenangkan perang narasi di kemudian hari karena mereka yang memegang pena.

Jayanto Arus Adi adalah Wartawan Senior sekaligus Ahli Pers Dewan Pers. Ia merupakan Alumni Program Pendidikan Penyelenggara Negara Kepemimpinan (PPNK) Lemhanas RI Angkatan 227 Tahun 2025.

Sejak 2022, ia aktif bergabung di Taruna Merah Putih Pusat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Karena kepiawaiannya menulis, ia juga berkontribusi di Satu Pena, organisasi penulis yang dipimpin Denny JA. Selain itu, ia mengajar Jurnalistik di beberapa perguruan tinggi.

Jayanto saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Nasional MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia). Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua JMSI Pusat (Jaringan Media Siber Indonesia), salah satu konstituen Dewan Pers. Sebagai jurnalis, ia juga aktif terlibat dalam Komite Publisher Rights.

Saat ini ia sedang menempuh program Doktoral (S3) di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dengan bidang studi Pertanian, Konsentrasi Komunikasi Agribisnis dan Ketahanan Pangan.

Ia mendirikan dan memimpin Headlinnews, media online yang berbasis di Jawa Tengah dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”. Headlinnews didedikasikan sebagai oase informasi alternatif sekaligus menjadi lokomotif bagi penggerak civil society.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!