Oleh: DR. Prasetyo Utomo
Hari ke dua perjalanan ke Jepang, saya menyempatkan diri melihat-lihat pembelajaran di Tokyo Metropolitan Ogawa High School.
Saya diperkenankan mengamati pembelajaran logika, seni, dan politik. Takjub saya menyaksikan betapa kreatif dan imajinatif para siswa, mengembangkan logika dan estetika yang diekspresikan di ruang kelas.
Anak-anak sekolah di Jepang selalu terlihat optimis, mandiri, cerdas, dan tak tercerabut dari akar kebudayaan mereka. Cara guru mengajar yang demokratis, mengembangkan imajinasi, kreativitas, dan perkembangan logika, menyebabkan mereka siap menghadapi dunia kerja.
Yang menarik, 43% sekolah-sekolah di Jepang menyelenggarakan kyushoku, program makan siang bergizi. Proram ini telah diterapkan selama 135 tahun.
Para siswa mendapatkan menu yang seimbang antara nasi, protein, dan susu yang disiapkan tim ahli gisi. Tentu makanan ini disajikan dengan nutrisi yang lengkap.
Program makan siang ini bertujuan mengembangkan pendidikan nilai. Siswa belajar menghargai makanan. Mereka menikmati makan dengan rasa syukur, dan praktik etika makan di dalam kelas.
Tumbuhlah rasa kebersamaan siswa saat makan siang. Mereka mengembangkan rasa tanggung jawab, karena mesti terlibat dalam pembersihan peralatan makan secara terstruktur.
Hikmah yang dipetik dari program kyushoku bisa diterapkan untuk kegiatan makan siang gratis di Indonesia.
Program ini tak dapat diterapkan untuk semua sekolah di Indonesia, terutama dari kalangan siswa yang berlatar belakang keluarga mampu.
Program ini hendaknya diselenggarakan untuk sekolah-sekolah yang para siswanya berasal dari kalangan miskin.
Prinsip kyushoku yang bisa diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia adalah menghindari makanan berlebihan. Dengan filosofi harai hachi bu, para siswa disajikan makan yang tidak berlebihan.
Mereka disajikan menu makan yang diperkikirakan mencapai 80% kenyang. Karena itu, program makan bergizi ini berpengaruh terhadap perasaan siswa, bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan kalori.
Sekolah-sekolah di Jepang menyajikan makanan sehat. Mereka berupaya memilih makanan yang segar seperti buah, sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan membatasi makanan olahan.
Ragam makanan yang disajikan pun diperhatikan untuk memenuhi asupan nutrisi yang bervariasi
Apakah kyushoku diselenggarakan secara gratis? Ternyata tidak, orang tua siswa berkewajiban menanggung biaya makan siang. Pemerintah lokal memberi subsidi untuk menutup sebagian biaya makan siang.
Sumbangan orang tua tetaplah diperlukan untuk melaksanakan program makan bergizi. Besar biaya yang ditanggung orang tua siswa berbeda-besa bergantung kebijakan pemerintah daerah di masing-masing kota.
Biaya makan siang di Jepang dipertimbangkan dengan kemampuan ekonomi orang tua siswa, sehingga mereka sanggup membayar.
Kalau sekolah-sekolah di Indonesia menerapkan program makan bergizi, terapkan pula filosofi di balik program itu. Program makan siang bergizi ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kebersamaan, sopan santun, kedisiplinan dan etika makan.
Dengan demikian, meningkatlah kesehatan dan gizi anak sejak dini, sesuai dengan standar nutrisi. Di samping itu, program ini membentuk pola makan siswa secara sehat dan seimbang (shokuiku).
Kalau beberapa hari ini yang terjadi di sekolah justru para siswa keracuman makanan, itu karena kita baru pada tahap awal melakukan program ini. Mengapa kita tidak mengembangkan program kyushoku dengan segala filosofinya?.

