HEADLINNEWS.ID – Tim peneliti menyebut kecanduan video pendek berkembang menjadi masalah perilaku dan sosial seiring meluasnya penggunaan platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.
“Kecanduan video pendek telah muncul sebagai masalah perilaku dan sosial yang semakin berkembang, didorong oleh meluasnya penggunaan platform digital yang menyediakan konten video singkat, personal, dan sangat menarik,” tulis tim peneliti dalam studi berjudul Neuroanatomical and Functional Substrates of the Short Video Addiction and Its Association with Brain Transcriptomic and Cellular Architecture.
Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi gejala kecanduan video pendek seseorang, semakin besar perbedaan yang ditemukan pada sejumlah area otaknya.
Secara struktural, peneliti menemukan peningkatan volume pada orbitofrontal cortex (OFC) dan cerebellum atau otak kecil di kedua sisi otak.
“Secara struktural, kami menemukan hubungan positif antara gejala kecanduan video pendek dengan peningkatan volume pada orbitofrontal cortex dan cerebellum bilateral,” tulis peneliti dalam publikasi tersebut.
OFC merupakan bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, pengendalian impuls, pemrosesan penghargaan, dan pengaturan emosi. Menurut peneliti, perubahan pada area ini dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap rangsangan dan penghargaan dari konten video pendek sehingga mendorong keinginan untuk terus menonton.
Selain perubahan struktur, penelitian juga menemukan peningkatan aktivitas spontan pada dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC), posterior cingulate cortex (PCC), cerebellum, dan temporal pole (TP).
“Area DLPFC, PCC, cerebellum, dan temporal pole menunjukkan aktivitas spontan yang lebih tinggi, yang berkorelasi positif dengan tingkat keparahan kecanduan video pendek,” tulis tim peneliti.
DLPFC diketahui berperan dalam pengendalian diri dan perhatian, sedangkan PCC berkaitan dengan memori dan refleksi diri. Sementara itu, temporal pole berhubungan dengan pemrosesan emosi dan interaksi sosial.
Penelitian juga menemukan hubungan antara kecanduan video pendek dan sifat iri hati (dispositional envy). Individu yang lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami gejala kecanduan video pendek.
Meski demikian, tim peneliti menegaskan studi ini tidak membuktikan bahwa TikTok atau platform video pendek secara langsung menyebabkan perubahan pada otak. Penelitian hanya menemukan hubungan antara gejala kecanduan video pendek dan karakteristik otak yang diamati pada responden.
Para peneliti menyatakan temuan tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan dengan jumlah responden yang lebih besar dan pengamatan jangka panjang untuk mengetahui apakah perubahan pada otak menjadi penyebab atau justru akibat dari kebiasaan menonton video pendek.
Temuan ini menambah bukti ilmiah bahwa konsumsi video pendek berlebihan berkaitan dengan fungsi otak yang mengatur pengendalian diri, perhatian, dan sistem penghargaan. Bagi pengguna, kondisi ini dapat meningkatkan kecenderungan untuk terus mencari konten baru dan menghabiskan lebih banyak waktu di platform digital.
Di sisi lain, penelitian ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa platform video pendek menyebabkan kerusakan otak. Hubungan yang ditemukan masih bersifat korelasional sehingga diperlukan studi lanjutan untuk memastikan dampak jangka panjang penggunaan video pendek terhadap kesehatan mental dan fungsi kognitif.

