AS-Iran Mulai Gencatan, Selat Hormuz Kembali Dibuka

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
5 Min Read

HEADLINNEWS.IDAmerika Serikat (AS) dan Iran resmi memulai pelaksanaan kesepakatan damai sementara yang membuka jalur perundingan baru terkait program nuklir Teheran. Kesepakatan itu juga mengakhiri blokade terhadap Selat Hormuz sehingga lalu lintas kapal dagang mulai kembali berjalan.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan masa negosiasi selama 60 hari dalam nota kesepahaman (MoU) kedua negara telah dimulai. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan Bloomberg, Jumat (19/6/2026).

Vance menyebut keterbukaan Selat Hormuz menjadi syarat utama agar pembicaraan lanjutan dapat berjalan menuju kesepakatan final.

“Jika selat itu tidak terbuka, maka tidak akan ada kesepakatan final,” ujar Vance.

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur tersebut menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.

Vance juga menegaskan kapal internasional harus dapat melintas tanpa pungutan tambahan. Menurut dia, negara-negara kawasan akan membahas kerangka keamanan baru untuk menjaga jalur pelayaran tersebut.

“Kami percaya jalur perairan internasional harus bebas dari pungutan,” kata Vance.

Kesepakatan AS-Iran langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent yang sempat mendekati 95 dolar AS per barel setelah eskalasi konflik, turun dan ditutup di bawah 80 dolar AS per barel.

Meski mengalami penurunan, harga minyak masih sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan awal 2026. Pelaku pasar memperkirakan normalisasi pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz membutuhkan waktu beberapa bulan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan risiko gangguan pasokan energi global menjadi salah satu alasan Washington menyetujui kesepakatan sementara tersebut.

Trump memperingatkan penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama dapat memicu tekanan besar terhadap ekonomi dunia.

“Kita tidak akan memiliki pasokan minyak selama berbulan-bulan. Selama bom masih dijatuhkan, jalur itu otomatis tertutup,” ujar Trump dalam wawancara dengan media Axios.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan pencabutan blokade terhadap kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran.

Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut pasukan AS tidak lagi menghambat pergerakan kapal di Teluk Persia dan Teluk Oman.

Data pelayaran menunjukkan kapal yang membawa hampir 10 juta barel minyak mulai keluar dan melintasi Selat Hormuz. Salah satunya kapal tanker milik Arab Saudi yang kembali beroperasi setelah lebih dari tiga bulan konflik.

Pemerintah Kuwait juga menyatakan akan meningkatkan produksi minyak setelah kondisi keamanan kawasan mulai membaik.

Iran menyatakan aktivitas perdagangan di pelabuhan-pelabuhan selatan negaranya telah kembali normal sejak awal pekan.

Namun, perusahaan pelayaran dan energi masih menunggu kepastian keamanan terkait potensi ranjau laut serta aturan baru bagi kapal yang melintas.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mempublikasikan salinan nota kesepahaman melalui media sosial X. Dokumen itu menyebut Iran memberikan akses gratis bagi kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz selama 60 hari.

Dalam dokumen tersebut, pemulihan penuh lalu lintas pelayaran ditargetkan selesai dalam 30 hari.

Iran dan Oman akan membahas pengelolaan layanan maritim di Selat Hormuz berdasarkan hukum internasional dan hak negara-negara pesisir Teluk Persia.

Selama periode negosiasi 60 hari, AS dan Iran akan membahas pembatasan program nuklir Iran, termasuk pengelolaan cadangan uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi.

Kesepakatan sementara tersebut mendapat kritik dari sejumlah anggota Partai Republik di AS dan pejabat Israel.

Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS Roger Wicker menilai pelonggaran sanksi dan pencairan dana Iran berpotensi memberikan keuntungan ekonomi besar bagi Teheran.

Wicker menyebut nilai dana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran yang disebut mencapai 300 miliar dolar AS dapat menjadi keuntungan besar bagi pemerintah Iran.

Sejumlah pejabat Israel juga menilai kesepakatan tersebut belum membatasi kemampuan rudal balistik Iran.

Menanggapi kritik tersebut, Vance mengatakan AS tetap menjadi sekutu utama Israel dan meminta pemerintah Israel mempertimbangkan hubungan strategis kedua negara.

“Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di dunia,” ujar Vance.

Kesepakatan sementara AS-Iran membuka peluang penurunan ketegangan di kawasan Timur Tengah, tetapi hasil akhirnya masih bergantung pada negosiasi selama 60 hari ke depan.

Isu utama yang akan menentukan keberhasilan kesepakatan adalah pembatasan program nuklir Iran, mekanisme pengawasan internasional, serta bentuk pelonggaran sanksi ekonomi.

Pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan ruang bagi stabilitas pasar energi, tetapi perusahaan minyak dan pelayaran masih akan berhati-hati sampai kepastian keamanan kawasan benar-benar terbentuk.

Jika perundingan gagal, risiko gangguan pasokan energi dan kenaikan harga minyak kembali terbuka.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!