Moto Mlorok Nora Nde’delok: Filsafat Mata, Laku Rasa, lan Kemanungsan Jawa

Sebab dunia tidak membutuhkan manusia yang hanya pandai berbicara, tetapi manusia yang mampu menghadirkan terang bagi sesamanya.

HL-News
4 Min Read

Oleh: Djoko TP

Dalam filsafat Jawa, mata bukan sekadar alat untuk melihat bentuk, warna, dan rupa. Mata adalah lawanging rasa — pintu batin untuk memahami hidup. Sebab wong Jawa percaya, manusia sejati bukan hanya yang mampu memandang, tetapi yang mampu ngrasa. Maka lahirlah pitutur:

“Mlorok, nanging aja mung ndelok.” (melihatlah, tetapi jangan hanya memandang permukaan).

Di zaman kini, banyak mata terbuka tetapi hati tertutup. Banyak yang melihat kemiskinan, namun tidak tergerak. Banyak yang menyaksikan ketidakadilan, namun memilih diam.

Maka “Moto Mlorok Nora Nde’delok” sesungguhnya adalah tamparan halus bagi manusia modern yang matanya hidup, tetapi nuraninya mati.

Falsafah Jawa mengajarkan bahwa hidup tidak cukup nganggo cipta, tetapi juga rasa dan karsa. Mata hanyalah awal dari kesadaran.

Setelah melihat, manusia wajib mengolahnya menjadi welas asih, lalu menjadikannya tindakan nyata. Sebab ilmu tanpa laku hanyalah kesombongan, dan penglihatan tanpa kepedulian hanyalah kekosongan.

Dalam laku kebatinan Jawa dikenal ungkapan:

“Urip iku urup.” (hidup itu menyala dan memberi terang bagi sesama).

Maka ketika mata melihat penderitaan rakyat kecil, fakir miskin, janda terlantar, korban bencana, atau orang yang tersisih oleh kerasnya zaman, sejatinya Tuhan sedang mengetuk batin manusia agar jangan berubah menjadi makhluk yang hanya hidup untuk dirinya sendiri. Sebab sifat kebinatangan hanya mengenal lapar dan kuasa, sedangkan sifat kemanusiaan mengenal empati dan gotong royong.

Di situlah makna terdalam Mlorok Nora Nde’delok:

bergerak melihat kenyataan agar jiwa tidak membeku oleh egoisme.

Filsafat Jawa juga mengenal konsep memayu hayuning bawana — memperindah dan menjaga harmoni dunia. Artinya manusia tidak lahir hanya untuk menikmati hidup, tetapi ikut merawat keseimbangan semesta. Maka gotong royong bukan sekadar budaya, melainkan jalan spiritual bangsa. Ketika orang saling membantu, sesungguhnya mereka sedang menyempurnakan hakikat kemanusiaannya.

Pandangan ini selaras dengan jiwa Pancasila. Bahwa manusia Indonesia bukan individu yang berdiri sendiri, melainkan makhluk monopluralis — pribadi yang hidup karena hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Karena itu, melihat realitas sosial harus melahirkan tindakan etis: musyawarah, solidaritas, toleransi, dan keadilan sosial.

Secara epistemologis, orang Jawa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari kehidupan. Dari sawah, pasar, langgar, musyawarah desa, hingga tangisan rakyat kecil. Pengetahuan sejati lahir dari pengamatan yang dipadukan dengan kebijaksanaan hati. Inilah yang disebut ngelmu kasunyatan — ilmu tentang kenyataan hidup.

Namun zaman modern sering melahirkan paradoks. Banyak orang sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun nurani. Banyak yang tenggelam dalam post-truth, hoaks, dan budaya playing victim. Mata dipakai untuk mencari kesalahan orang lain, bukan untuk menemukan kebenaran dalam dirinya sendiri.

Karena itu, filsafat “Moto Mlorok Nora Nde’delok” mengajak manusia kembali pada kesadaran asli:

bersyukur tanpa sombong, bekerja tanpa pamrih berlebihan, membantu tanpa menunggu dipuji,

berkumpul untuk mencari solusi, bergerak bersama dengan ilmu, akal, iman, dan rasa kemanusiaan.

Sebab bangsa besar tidak dibangun oleh kebencian, melainkan oleh hati yang mau saling melihat dan saling menjaga.

Dan wong Jawa selalu mengingatkan:

“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”

Sedikit kepentingan pribadi, banyak bekerja untuk sesama.

Pada akhirnya, mata yang sejati bukan mata yang tajam melihat kesalahan orang lain, melainkan mata yang mampu melihat penderitaan sesama sebagai panggilan jiwa. Karena manusia yang masih bisa tergerak oleh penderitaan orang lain berarti hatinya masih hidup.

Maka tetaplah tersenyum. Tetaplah bahagia.

Tetaplah menjadi manusia yang ndelok nganggo rasa.

Sebab dunia tidak membutuhkan manusia yang hanya pandai berbicara, tetapi manusia yang mampu menghadirkan terang bagi sesamanya.

#SalamSatuJiwa

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!