Sistem Hidup Dajjal
Dajjal sebuah sosok mitologis yang terdapat dalam beberapa ajaran agama Abrahamik merupakan tokoh yang akan dihadirkan Allah untuk menguji keimanan manusia di akhir zaman. Dalam ajaran Islam kehadiran Dajjal tertera dalam hadits Rasulullah Saw, seperti:
“Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan, keriting, buta sebelah, mata yang terhapus tidak terlalu menonjol, tidak pula terlalu ke dalam, maka jika dia melakukan kerancuan (mengaku sebagai Rabb) kepadamu, maka ketahuilah sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah” (HR. Abu Dawud).
Dajjal dalam keterangan Nabi Muhammad Saw berdasar hadits di atas adalah sosok makhluk yang memiliki cici-ciri tertentu, antara lain buta sebelah matanya.
Dalam perspektif lain, Dajjal, tidak sekedar dimaknai sebagai sosok makhluk melainkan sebuah sistem hidup manusia. Ia adalah sistem yang menyelimuti kehidupan manusia tetapi ia telah jauh dari jalur Tuhan. Ia adalah sistem yang telah memporakporandakan segenap nilai dan norma. Kebaikan beralih menjadi keburukan, demikian sebaliknya keburukan adalah kebaikan dalam sistem hidup seperti ini.
Hal ini tampak jelas dalam hadits Rasulullah Saw yang menyatakan:
“Diantara fitnah-fitnah (Ad-Dajjal) adalah, bahwa bersamanya ada surga dan neraka. Padahal sesungguhnya nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka. Barangsiapa mendapatkan cobaan dengan nerakanya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan hendaklah ia membaca ayat-ayat di awal surah Al Kahfi.” (HR Ibnu Majah)
Hadits tersebut adalah bentuk dari dekonstruksi tatanan hidup manusia yang kini tengah dirasakan umat manusia. Kebaikan dan keburukan menjadi bertumpang tindih sehingga sulit untuk dibedakan mana yang dianggap baik dan buruk, bahkan sulit untuk dibedakan antara benar dan salah.
Postmodernisme: Simulakra & Hiperrealitas
Salah seorang filsuf Perancis Jean Baudrillard (1929-2007), menjelaskan tentang konsep simulakra dan hiperrealitas. Realitas dan ilusi menjadi bercampur aduk sehingga batas antara yang nyata dan yang tidak nyata menjadi kabur dan tidak jelas (Azwar, 2014). Manusia kehilangan pandangan yang objektif ketika ia berada di tengah dunia yang telah tersimulasi (simulakra) ini.
Antara realitas sungguhan dan kenyataan yang telah dibentuk atau disimulasikan secara sengaja menjadi campur baur: tidak lagi bisa ditentukan mana yang sesungguhnya realitas dan yang bukan. Kondisi ini berakhir dengan kemunculan hiperealitas. Dunia digital mengaburkan segenap kebenaran, sehingga fakta yang ditampilkan menjadi samar, kabur, sulit untuk dibedakan antara benar dan salah.
Jika di masa lalu nilai-nilai tradisional mampu membedakan antara baik dan buruk, salah dan benar, kini semua menjadi kabur dan samar. Dunia digital mendekonstruksi, hingga meluluhlantakkan nilai-nilai yang selama ini digenggam dan diyakini.
Keberadaan hiperrealitas ini membingungkan nalar manusia, karena realita yang sesungguhnya dengan yang tampak dalam pandangan mata semakin kabur akibat adanya simulasi atas realita (realita yang disimulasi). Nilai-nilai dan norma hidup manusia pun mengalami dekonstruksi, ia diobrak-abrik sehingga nilai dan norma menjadi kabur. Aritifcial Intelegence atau Akal Imitasi hadir mendekonstruksi segenap tatanan nilai hidup manusia. Keburukan menjadi kelaziman, kebenaran perlahan menjadi asing dalam perilaku manusia.
Digitalisme sebuah Ideologi
Masuknya zaman Postmodernisme yang mengantikan era moderen semakin memperkukuh kondisi simulakra ini. Postmodernisme yang dicirikan oleh kekuatan digital semakin mengukuhkan proses kehadiran simulakra melalui teknologi digital.
Dengan teknologi digital ini manusia membentuk sebuah sistem hidup yang berbeda dengan era moderen sebelumnya melalui sistem industrialisasi. Jika sebelumnya industri menuntut manusia untuk membentuk nilai-nilai tertentu, maka dalam sistem yang terdekonstruksi melalui digital, teknologi mendobrak nilai-nilai.
Melalui teknologi digital manusia tidak mengunjungi pasar, tetapi pasar yaang hadir ke dalam ruang privat manusia. Jika sebelumnya manusia yang berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu, kini ilmu yang datang ke ruang privat melalui teknologi digital. Tidak perlu lagi ruang-ruang kelas dan sejumlah siswa yang duduk di dalamnya.
Teknologi digital ini semakin maju dengan hadirnya artificial intelegence (AI), dan semakin mendobrak segenap tatanan nilai yang ada. Akal Imitasi menjadi perdebatan nilai dan norma karena ia yang tadinya alat menjadi semakin cerdas bagai manusia yang berfikir. Sebuah objek teknologi perlahan berkembang menjadi subjek yang berfikir dan mungkin saja kelak ia memiliki kesadaran bertindak.
Jika kesadaran mulai bertumbuh, apakah ia akan menggantikan kedudukan manusia? Bagaimana ia membangun sistem moral dan etika yang selama ini dibangun oleh manusia yang berakal? Lalu bagaimanakah eksistensi agama di tengah eksistensi teknologi yang semakin cerdas dan berpotensi menggantikan manusia? Satu hal yang tengah terjadi dengan hadirnya akal imitasi adalah semakin kaburnya kebaikan dan keburukan, semakin sulit membedakan antara mana yang benar dan mana yang salah.
Aplikasi teknologi menawarkan segala hal yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kehadiran teknologi digital kini telah berubah menjadi digitalisme, sebuah konsep manusia yang tak dapat lepas dari teknologi digital. Teknologi bukan lagi alat, ia telah menjadi sistem hidup dan ideologi. Segenap relasi sosial telah dihimpun melalui teknologi ini. Sistem hidup Dajjal mulai bergerak untuk menunjukkan antara surga (kebaikan-kebenaran) dan neraka (keburukan-kesalahan) yang sulit dibedakan. Kebaikan dengan keburukan, kebenaran dengan kesalahan telah bertumpang-tindih melalui digitalisme.
Jika Dajjal tiba Rasulullah Saw menjelaskan:
“Barangsiapa mendengar kedatangan Dajjal, maka hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, sesungguhnya seseorang mendatanginya padahal dia menganggap bahwa dirinya adalah seorang mukmin, lalu dia mengikutinya karena banyaknya syubhat yang menyertainya, atau tatkala syubhat menyertainya.” (HR. Abu Daud & al-Hakim).
Jika Dajjal diinterpretasi sebagai sebuah sistem hidup, bagaimana manusia dapat menghindarinya? Manusia telah menyatu dengan dunia digital, sulit untuk menjauh darinya bahkan ia telah menjadi ideologi. Sebuah paradigma yang diterima sebagai sesuatu yang benar, dan manusia sangat sulit dan seakan tak kuasa untuk menghindar darinya.
Penutup
Kini saatnya manusia keluar dari sistem hidup Dajjal yang mengaburkan realitas. Sejatinya perlahan manusia meletakkan teknologi kembali sebagai objek benda alat & bukan sebagai ideologi dan sistem hidup yang selama ini telah terbukti menimbulkan ketergantungan.
Nabi Muhammad Saw meminta manusia mencontoh perilaku para pemuda Ashabul Kahfi yang menghindar dari dekonstruksi kaumnya, menuju sebuah gua menghilang dari kehidupan yang mengaburkan segenap kebenaran. Kita membangun gua kita sendiri, sebuah ruang sosial yang dibangun sebagai benteng atas hadirnya dekonstruksi nilai.
“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]: 10)

