Buru Pasar Baru dan Inovasi AI di CAEXPO 2026, UMKM hingga Teknologi Indonesia Dibawa ke Nanning

HL-News
By
HL-News
8 Min Read
Oleh: HL-News

HEADLINNEWS.ID – Indonesia membawa misi ganda ke China-ASEAN Expo (CAEXPO) 2026 di Nanning, Tiongkok. Bukan hanya mengejar pasar baru bagi produk ekspor, pemerintah dan pelaku usaha Indonesia juga membidik investasi serta kemitraan teknologi, khususnya di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

CAEXPO ke-23 berlangsung pada 17–21 September 2026 di Nanning International Convention and Exhibition Center (NICEC), Guangxi. Pameran tahun ini mengusung tema “CAFTA 3.0 Opportunities, Better Life”, seiring mulai bergulirnya fase baru kerja sama perdagangan China-ASEAN.

Lebih dari 3.400 perusahaan dari lebih dari 70 negara dan wilayah dijadwalkan berpartisipasi. Selain perdagangan konvensional, CAEXPO 2026 juga memberi ruang besar bagi komunikasi digital, logistik cerdas, pembangunan hijau, AI, hingga pengembangan kawasan industri.

Bagi Indonesia, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk menggeser pola ekspor dari sekadar menjual komoditas menuju produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Konsul Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou, Arianto Surojo, mengatakan hubungan perdagangan Indonesia dan China terus berkembang. Pada 2025, nilai perdagangan kedua negara disebut mencapai US$154,58 miliar, sementara periode Januari–Juni 2026 telah mencapai US$100,04 miliar.

Menurut Arianto, arah ekspor Indonesia ke depan perlu semakin bertumpu pada produk hasil hilirisasi.

“Indonesia bukan hanya pasar tapi ekspor produk bernilai tinggi. Tegasnya, arah ke depan ekspor Indonesia tidak lagi fokus barang mentah, tapi produk hilirisasi, seperti besi, baja, feronikel, dan lain-lain,” ujarnya.

Dari UMKM hingga Produk Hilirisasi

Paviliun Indonesia menempati area sekitar 2.000 meter persegi di Hall D5. Kemendag sebelumnya menyebut partisipasi Indonesia di CAEXPO 2026 diarahkan untuk memperkenalkan produk unggulan sekaligus memperkuat kerja sama perdagangan, investasi, pariwisata, dan industri dengan China.

Produk yang dibawa tidak hanya komoditas besar. Indonesia juga mendorong penetrasi makanan olahan, produk halal, sarang burung walet siap konsumsi, perhiasan, furnitur, hingga berbagai produk UMKM.

Strategi tersebut penting karena pasar China bukan hanya dilihat sebagai tujuan penjualan, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk memperluas jejaring bisnis Indonesia di kawasan Asia.

Data transaksi CAEXPO dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan besarnya peluang tersebut. Pada 2022, transaksi Indonesia tercatat sekitar US$54,2 juta. Angka itu kemudian meningkat menjadi Rp106,45 miliar pada 2023 dan Rp479,4 miliar pada 2024.

Pada CAEXPO 2025, nilai transaksi yang dicatat Indonesia mencapai US$132,07 juta atau sekitar Rp2,17 triliun.

Tahun ini, targetnya bukan sekadar mengulang capaian tersebut, tetapi memperluas jenis kerja sama yang dibangun.

CAFTA 3.0 dan Persaingan Rantai Pasok

Implementasi CAFTA 3.0 menjadi salah satu konteks penting dalam perhelatan tahun ini.

Wakil Perdana Menteri Pertama China Ding Xuexiang menyebut fase baru kerja sama perdagangan China-ASEAN tidak hanya berkaitan dengan tarif, tetapi juga diarahkan pada liberalisasi perdagangan jasa dan investasi lintas batas.

Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn juga menekankan pentingnya memanfaatkan CAFTA 3.0 untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus memastikan peluang tersebut dapat dimanfaatkan pelaku usaha, termasuk UMKM.

Bagi Indonesia, peluang tersebut sekaligus menghadirkan tantangan: bagaimana produk dalam negeri tidak hanya masuk ke pasar China, tetapi mampu menjadi bagian dari rantai pasok regional.

Wakil Ketua Umum Bidang Diplomasi Multilateral KADIN Indonesia, Andi Anzhar Cakra Wijaya, mengatakan implementasi perdagangan bebas fase ketiga perlu diikuti upaya mengurangi hambatan perdagangan.

“Implementasi perdagangan bebas fase ketiga ini membuka ruang bagi rantai pasok industri manufaktur dan UMKM kita untuk sejajar. Kami mendorong kolaborasi investasi yang memperkuat struktur industri domestik secara bilateral,” ujarnya.

AI Mulai Masuk ke Agenda Dagang Indonesia

Jika perdagangan dan investasi menjadi wajah lama CAEXPO, maka AI menjadi salah satu wajah baru yang semakin menonjol.

Penyelenggara CAEXPO 2026 menyediakan area khusus AI yang memperlihatkan ratusan produk dan aplikasi kecerdasan buatan. Secara keseluruhan, pameran tahun ini juga menempatkan AI, smart logistics, manajemen perkotaan, dan pengembangan kawasan industri sebagai bagian dari peluang kerja sama baru.

Indonesia mencoba menangkap peluang tersebut.

Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) mendorong kerja sama dengan China-ASEAN AI Application Cooperation Center, terutama untuk melihat kemungkinan penerapan AI dalam sistem logistik dan rantai pasok.

Ketua Umum MASTEL Sarwoto Atmosutarno menilai AI tidak lagi hanya berkaitan dengan produk teknologi konsumen.

“Kecerdasan buatan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan infrastruktur inti masa depan,” kata Sarwoto.

Menurut dia, penerapan teknologi tersebut dapat diarahkan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan logistik di pelabuhan dan kawasan industri Indonesia.

Di sisi lain, Bappenas membawa kepentingan yang lebih luas, yakni mempelajari perkembangan arsitektur AI untuk mendukung pengembangan kota pintar dan berkelanjutan di Indonesia.

Dengan demikian, teknologi yang diburu Indonesia di Nanning bukan hanya untuk dijual kembali. Ada kepentingan untuk memperoleh pengetahuan, membangun kemitraan, dan mengadopsinya ke dalam kebutuhan industri nasional.

FTZ Bintan dan Diplomasi Investasi

Peluang investasi daerah juga ikut dibawa ke Nanning.

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (FTZ) Bintan-Karimun menjadi salah satu potensi yang dipromosikan kepada investor China.

Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad hadir dalam rangkaian kegiatan dan melakukan pendekatan dengan sejumlah pemangku kepentingan serta investor China.

Strateginya jelas, perdagangan tidak berhenti pada transaksi barang, tetapi diarahkan menjadi investasi yang menghasilkan aktivitas ekonomi di dalam negeri.

Pola serupa juga terlihat dari keterlibatan perusahaan besar dan BUMN yang membawa mitra UMKM maupun menawarkan peluang kerja sama industri.

Pertamina hadir dengan UMKM binaannya. Sementara Maspion, Pelindo, dan Krakatau Sarana Infrastruktur turut mengambil bagian dalam agenda promosi Indonesia.

Transaksi Digital hingga Kerja Sama Satelit

Perubahan lain terlihat pada cara transaksi dan kerja sama bisnis dilakukan.

Ekosistem pembayaran lintas negara melalui jaringan Alipay+ ikut mendukung transaksi selama pameran, sementara berbagai teknologi digital diperkenalkan sebagai bagian dari transformasi perdagangan dan industri.

Pada hari pertama CAEXPO 2026, kerja sama teknologi juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Danadyaksa Patangga Nusantara dan Jiangsu Navston Technology/Galaxy Link.

Kerja sama tersebut diarahkan pada pengembangan infrastruktur telekomunikasi berbasis satelit N-GSO di Indonesia dan kawasan regional.

Artinya, agenda Indonesia di Nanning semakin jauh dari sekadar pameran produk.

Ada tiga lapisan kepentingan yang berjalan bersamaan: mencari pembeli, mencari investor, dan mencari teknologi.

Tantangan Setelah Pameran

Besarnya peluang CAFTA 3.0 pada akhirnya tetap bergantung pada kemampuan Indonesia memanfaatkan akses tersebut setelah pameran selesai.

Produk yang dipamerkan harus mampu memenuhi standar pasar dan persyaratan impor. Pelaku UMKM membutuhkan kapasitas produksi yang konsisten. Investasi harus menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Sementara transfer teknologi perlu benar-benar berujung pada peningkatan kemampuan industri nasional.

Karena itu, ukuran keberhasilan CAEXPO 2026 tidak hanya terletak pada besarnya nilai transaksi yang tercatat selama lima hari pameran.

Yang lebih menentukan adalah apa yang terjadi setelah para delegasi pulang: berapa banyak kontrak yang terealisasi, investasi yang masuk, produk UMKM yang berkelanjutan menembus pasar China, serta teknologi yang benar-benar diterapkan di Indonesia.

CAFTA 3.0 membuka pintu yang lebih besar. Tantangan Indonesia adalah memastikan pelaku usaha nasional tidak hanya menjadi penonton di dalam pasar yang semakin terintegrasi, tetapi mampu mengambil posisi di dalam rantai perdagangan dan teknologi kawasan.

Editor: HL-News
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!