Arthur Hayes Prediksi Bitcoin Turun ke US$40.000

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
5 Min Read
- Ilustrasi

HEADLINNEWS.ID – Pendiri BitMEX Arthur Hayes memprediksi harga bitcoin (BTC) berpotensi turun ke level US$40.000 atau sekitar Rp715,7 juta dalam enam bulan ke depan. Prediksi itu muncul meski Hayes masih mempertahankan posisi investasi jangka panjang pada aset kripto terbesar dunia tersebut.

Harga bitcoin tercatat diperdagangkan di kisaran US$62.278 atau sekitar Rp1,11 miliar pada Selasa (23/6/2026). Berdasarkan data pasar, harga BTC melemah sekitar 3% dalam 24 jam terakhir dan masih bergerak dalam rentang yang bertahan selama beberapa pekan terakhir.

Hayes menyampaikan prediksi tersebut dalam wawancara bersama kreator konten EllioTrades pada 12 Juni 2026. Ia mengatakan telah menggunakan strategi lindung nilai melalui put spread untuk menghadapi potensi tekanan harga dalam jangka pendek.

“Saya akan tetap berpegang pada target saya. Jika saya salah, tidak masalah. Saya tetap memegang posisi beli, saya tetap senang apapun hasilnya,” ujar Arthur Hayes.

Jika prediksi tersebut terjadi, bitcoin akan mengalami penurunan sekitar 35% dari harga saat ini. Level US$40.000 juga akan menjadi koreksi besar setelah bitcoin sempat mencapai harga tertinggi sepanjang masa di sekitar US$126.080 atau Rp2,25 miliar pada Oktober 2025.

Bitcoin sempat mengalami pemulihan pada awal pekan setelah perusahaan pemegang bitcoin terbesar, Strategy, menambah kepemilikannya sebanyak 520 BTC.

Pembelian tersebut meningkatkan cadangan kas perusahaan sekitar US$300 juta menjadi US$1,4 miliar atau sekitar Rp25 triliun. Langkah itu juga memperpanjang cakupan pembayaran dividen perusahaan.

Analis QCP menyebut pembelian Strategy kemungkinan dilakukan melalui program saham at-the-market yang berpotensi menyebabkan dilusi saham. Meski demikian, pasar merespons positif karena likuiditas perusahaan kembali membaik.

Menurut analis QCP, bitcoin masih membutuhkan katalis positif untuk keluar dari pola perdagangan yang bergerak dalam kisaran terbatas.

“BTC kemungkinan akan membutuhkan gabungan katalis positif untuk secara tegas keluar dari kisaran saat ini,” kata analis QCP.

Di sisi lain, Wintermute menilai laju pembelian Strategy mulai melambat karena biaya pendanaan meningkat. Kondisi tersebut membuat dua sumber permintaan besar bitcoin, yakni dana ETF dan Strategy, tidak lagi memberikan tekanan beli sebesar sebelumnya.

Tekanan terbesar terhadap bitcoin datang dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Para pembuat kebijakan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% dan mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.

Proyeksi suku bunga median The Fed untuk 2026 naik menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,4% pada Maret 2026. Perubahan tersebut membuat pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.

Menurut Wintermute, peluang kenaikan suku bunga Desember meningkat menjadi sekitar 37% dari sebelumnya 24% sebulan lalu. Sebanyak 17 dari 18 pejabat The Fed juga melihat risiko inflasi masih cenderung meningkat.

Selain tekanan harga, minat publik terhadap bitcoin juga mengalami penurunan.

Data Google Trends menunjukkan pencarian global dengan kata kunci “bitcoin” pada periode 14-21 Juni 2026 turun menjadi 29% dari level tertinggi yang tercatat pada 1-8 Februari 2026.

Pada awal Februari 2026, harga bitcoin sempat turun dari sekitar US$78.000 menjadi US$63.000. Penurunan harga tersebut mendorong lonjakan pencarian investor terhadap aset kripto.

Sentimen pasar juga tercermin dari indeks ketakutan dan keserakahan kripto CoinGlass yang berada di level 21, masuk kategori “ketakutan”.

Bitcoin saat ini diperdagangkan hampir 50% di bawah harga tertingginya pada Oktober 2025. Dalam tiga bulan terakhir, BTC juga belum mampu menembus kembali level US$85.000.

Prediksi Arthur Hayes menunjukkan adanya kewaspadaan dari investor besar terhadap kemungkinan koreksi bitcoin dalam beberapa bulan ke depan. Meskipun tetap mempertahankan posisi beli, keputusan Hayes menggunakan instrumen lindung nilai menunjukkan risiko volatilitas masih tinggi.

Dari sisi fundamental, permintaan institusional melalui ETF dan Strategy masih menjadi faktor pendukung harga bitcoin. Namun, tekanan suku bunga tinggi dari The Fed dapat membatasi arus dana menuju aset berisiko seperti kripto.

Pergerakan bitcoin selanjutnya akan bergantung pada kombinasi kebijakan moneter Amerika Serikat, arus dana institusional, serta perubahan sentimen investor global.

Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *