Bencana Birokrasi: Menggugat Pemborosan APBN di Balik Panggung Seremonial

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
5 Min Read
Sebuah gedung pemerintahan baru selesai dibangun. Esok paginya, ruas jalan di depannya ditutup separuh. Tenda VIP berpendingin ruangan berdiri megah, jajaran karangan bunga menutupi trotoar, dan meja prasmanan menyajikan hidangan setara hotel bintang lima. Seorang kepala daerah datang dengan pengawalan berlapis, menyampaikan pidato 30 menit, menggunting pita sepanjang dua meter, berfoto, lalu pergi.
Untuk pertunjukan berdurasi tiga jam tersebut, puluhan hingga ratusan juta rupiah uang pembayar pajak hangus. Jika diakumulasikan dari tingkat kabupaten hingga kementerian pusat dalam satu tahun anggaran, angkanya menembus triliunan rupiah.
Sebagai pembayar pajak, kita berhak menggugat kewarasan tata kelola ini. Mengapa setiap pembangunan, peresmian, peluncuran program, hingga sekadar pergantian nama instansi harus selalu dirayakan dengan parade atau seremoni? Opini ini bukan sekadar luapan rasa frustrasi, melainkan kritik struktural terhadap inefisiensi anggaran dan hilangnya sense of crisis (nalar krisis) dalam birokrasi kita.
Sebab: Mengapa Obsesi Seremonial Ini Dipelihara?
Praktik ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari kecacatan sistemik dalam birokrasi kita yang berakar pada dua hal utama:
  1. Indikator Kinerja Berbasis Optik (Visual). Dalam sistem Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) birokrasi, penyerapan anggaran sering kali membutuhkan “bukti fisik” berupa dokumentasi acara. Bekerja didefinisikan sebagai “terlihat bekerja oleh atasan”. Proyek infrastruktur atau kebijakan publik yang beroperasi diam-diam meski dampaknya langsung dirasakan warga dianggap tidak bernilai politis jika tidak ada panggung peresmiannya. Pejabat butuh panggung, dan APBD/APBN dipaksa menjadi sponsornya.
  2. Sisa Feodalisme Birokrasi. Ada kebutuhan hierarkis untuk “menyanjung” pejabat yang meresmikan. Seremoni, penyambutan dengan tarian adat, dan pengalungan bunga adalah sisa-sisa feodalisme yang dibungkus dengan alasan melestarikan kearifan lokal. Tata krama memang penting, tetapi menempatkannya di atas efisiensi anggaran negara adalah sebuah kekeliruan fatal.
Akibat: Mengorbankan Substansi demi Sensasi
Hukum ekonomi tentang opportunity cost (biaya peluang) berlaku keras di sini. Uang yang dihamburkan untuk membayar event organizer peresmian adalah uang yang secara langsung dirampas dari sektor esensial.
Sebagai contoh spesifik: Anggaran Rp 300 juta untuk satu kali acara peresmian rumah sakit daerah sebenarnya setara dengan biaya subsidi gizi untuk ratusan balita stunting selama setahun. Membiayai parade penyambutan pejabat setara dengan memperbaiki atap tiga sekolah dasar yang bocor. Pemerintah secara sadar memilih membiayai tenda VIP hari ini, ketimbang berinvestasi pada masa depan warganya.
Akibat terburuk dari mentalitas “serba-seremoni” ini adalah kelumpuhan penanganan krisis. Nalar birokrasi kita terlanjur terprogram untuk mendahulukan protokoler dibandingkan urgensi keselamatan.
Bukti paling memalukan baru saja terekam bulan ini. Merujuk pada laporan HeadlineNews.id (13/9/2026), Indonesia kedatangan 180 personel ahli dari Jepang untuk membantu penanganan darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan.
Apa yang terjadi ketika mereka tiba? Alih-alih langsung diarahkan ke titik api dengan mentalitas tanggap darurat, kedatangan mereka justru diwarnai dengan penyambutan seremonial oleh pejabat lokal. Hal ini memicu kritik keras di media sosial, dan bahkan disorot oleh warga Jepang sendiri yang keheranan. Di saat langit Kalimantan pekat oleh racun dan warga kesulitan bernapas, birokrasi kita masih menuntut para relawan asing ini untuk berdiri mendengarkan pidato dan mengikuti protokoler.
Ini bukan lagi sekadar pemborosan uang, melainkan hilangnya empati kemanusiaan. Seremoni telah bertransformasi dari sekadar tradisi mubazir menjadi penghambat operasional di lapangan. Jepang, negara yang sangat ketat dengan efisiensi waktu, harus melihat langsung betapa birokrasi kita menyandera tindakan penyelamatan demi sebuah formalitas.
Menuntut Penghentian Total
Sudah saatnya praktik ini dilarang secara institusional. Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan harus menerbitkan aturan tegas yang memangkas atau menghapus nomenklatur anggaran untuk seremonial, peresmian, atau parade penyambutan yang tidak berkaitan langsung dengan fungsi pelayanan publik.
Sebuah jembatan tidak akan rubuh hanya karena tidak ada menteri yang menggunting pitanya. Sebuah program pengentasan kemiskinan tidak akan gagal hanya karena tidak diluncurkan di hotel berbintang.
Masyarakat sudah terlalu lelah melihat uang pajaknya dibakar menjadi kembang api dan panggung peresmian, sementara kualitas jalan yang diresmikan hancur dalam hitungan bulan. Birokrasi yang sehat bekerja dalam senyap, membuktikan dirinya lewat perbaikan data statistik dan kualitas hidup warganya, bukan lewat panjangnya daftar tamu VIP di bawah tenda peresmian.

HEADLINNEWS.ID – Profil Penulis:

Michael Ivan adalah seorang Jurnalis Junior yang memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya. Meskipun lebih nyaman bekerja dan menyusun berita di balik layar, ia memiliki komitmen kuat untuk memastikan dirinya selalu mendapatkan informasi terkini dan akurat mengenai peristiwa serta tren yang sedang terjadi di dunia luar.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!