HEADLINNEWS.ID – Keberadaan Tourism Information Centre (TIC) di Kabupaten Demak bisa dibilang menyimpan potensi besar.
Berada di kawasan Pujasera, tidak jauh dari Alun-Alun dan Masjid Agung Demak, TIC memiliki posisi strategis sebagai pintu masuk informasi sekaligus etalase pariwisata daerah.
Bangunannya sendiri didirikan pada 2014 di bawah naungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak. Memasuki 2017, barulah pengelolaannya ditangani oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Demak.

Sesuai fungsinya, TIC menjadi pusat layanan informasi potensi pariwisata sekaligus showroom produk kerajinan dan kuliner khas pelaku UMKM Kabupaten Demak.
Namun, jangan buru-buru membayangkan TIC di Demak sebagai pusat informasi pariwisata yang ideal. Pasalnya, bangunan dua lantai ini belum dioptimalkan sebagaimana layaknya pusat informasi.
“Bangunan ini selain menjadi pusat informasi, idealnya juga menjadi wahana edukasi dan ruang pamer ekonomi kreatif. Itu yang menjadi visi kami di Dinas Pariwisata,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Dra. Endah Cahya Rini, MM, beberapa waktu lalu.
Persoalan optimalisasi TIC mendapat perhatian dari penggiat pariwisata dan tokoh MICE Jawa Tengah, Solichoel Soekaemi. Menurutnya, cukup disayangkan fasilitas yang berada di lokasi strategis tersebut belum diberdayakan secara maksimal.
“TIC itu mestinya jadi jujugan, wisatawan yang butuh informasi dapat menggali informasi di sini,” katanya.
Menurut Solichoel, TIC semestinya tidak berhenti sebagai tempat pelayanan informasi biasa. Keberadaannya perlu dikembangkan lebih luas, terlebih Demak memiliki positioning yang kuat sebagai kota wisata religi.
“Potensi wisata religi yang dimiliki Demak sangat besar, dan ke depan masih bisa dikembangkan lebih maksimal lagi. Peran TIC menjadi sentral dan vital,” ujar akademisi dari STIEPARI Semarang tersebut.

Di tengah arus wisatawan yang datang ke kawasan wisata religi Demak, TIC dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai etalase pariwisata daerah.
Penggiat pariwisata dan perhotelan, Benk Mintosih, melihat peluang tersebut masih sangat terbuka. Menurutnya, TIC jangan sampai hanya menjadi pelengkap di tengah kawasan wisata yang sebenarnya memiliki potensi besar.
“Sayang dan eman-eman kalau sekadar menjadi pelengkap saja. Saya mendorong semua pemangku kebijakan memiliki concern dengan prioritas tinggi untuk menata dan mengembangkan TIC,” ujar Benk.
Dalam pandangannya, salah satu modal utama TIC adalah lokasi. Berada dekat Alun-Alun dan kawasan Masjid Agung Demak, fasilitas tersebut memiliki posisi yang “emas” untuk menangkap arus wisatawan yang datang.
Namun, keberadaan bangunan dua lantai itu belum sepenuhnya diikuti dengan optimalnya operasional pelayanan informasi.
Aktivitas yang menonjol saat ini masih cenderung bersifat pelayanan administrasi, belum menjadi ujung tombak kepariwisataan itu sendiri.
Di sisi lain, pengembangan TIC juga tidak lepas dari persoalan aset. Endah menjelaskan, lahan yang ditempati TIC merupakan aset Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sedangkan bangunannya merupakan aset Pemerintah Kabupaten Demak.
Karena itu, menurut Endah, evaluasi terhadap keberadaan TIC tidak semestinya berhenti pada persoalan mempercantik atau merenovasi gedung. Yang lebih penting adalah menentukan fungsi dan masa depan fasilitas tersebut.
Harapan ke depan, pemangku kebijakan di Demak perlu berani memikirkan ulang masa depan TIC, bukan sekadar merenovasinya.
Apakah tetap dikembangkan di lokasi sekarang dengan kepastian pemanfaatan aset jangka panjang, ditata bersama Pujasera dan Wisma Hasanah menjadi tourism hub, atau bahkan dikaji lokasi baru yang memungkinkan TIC berkembang lebih maksimal.
Demak tidak kekurangan wisatawan dan tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah TIC yang benar-benar bekerja membuat wisatawan berhenti, masuk, mengenal Demak, membelanjakan uangnya, menjelajah lebih jauh, dan punya alasan untuk tinggal lebih lama.

