HEADLINNEWS.ID – Sekarang ini tahun ke-empat saya tinggal di kampung, setelah hengkang dari mamakota. Hidup di sebuah pedesaan asri, dekat pesisir pantai selatan yang menghadap Samudera Hindia. Secara rutin saya lari atau bersepeda nyaris tiap pagi, menyusuri jalan-jalan yang berbeda setiap harinya.
Saat di perjalanan itulah saya selalu memotret atau memvideokan keelokan alam desa juga keeksotisan wajah-wajah akamsi (anak kampung sini) yang sinematik. Foto video itu saya unggah ke beberapa akun media sosial yang saya punyai, termasuk diunggah di status WhatsApp.
Respon orang-orang kota? Kebanyakan mereka termehek-mehek, terpukau dengan foto video yang aku unggah. Mereka merasa iri dengan kehidupanku di ibudesa dengan mengatakan aku beruntung.
Asumsi di kepala mereka, desa identik dengan gambaran yang selama ini dihembus-hembuskan para selebgram yang hanya lewat atau menginap sehari-dua hari di kampung. Bagi para urban, kehidupanku sudah sampai pada level yang mereka inginkan, yaitu slow living.
Padahal kenyataanya tidak. Slow living tidak identik dengan hidup di suatu wilayah, khususnya di desa. Karena kehidupan di desa dan di kota sama-sama mempunyai tantangan hanya saja bentuknya yang berbeda.
Asumsi Soal Kampung
Di kampung yang tampak aman dan tenteram itu sebenarnya mempunyai permasalahan yang cukup pelik. Kita bisa dibuat stress dengan kebiasaan, norma dan mindset yang kadang bertolak belakang dengan yang berlaku di mamakota.
Sejujurnya saya sebagai akamsi yang menghabiskan masa bocah dan masa abege di kampung saja harus beradaptasi ulang.
Di balik glorifikasi kampung yang indah nyaman dan sehat, tersimpan sisi kelam yang susah berubah sejak aku belum aqil baliq. Kebanyakan warga masih memiliki kedisiplinan yang rendah, belum bisa antre, belum bisa tepat waktu.
Yang paling parah menurutku adalah gaya berkomunikasinya. Sebagai lawan bicara, selain mengerti kata-kata atau kalimat yang diucapkan, kita harus memahami apa makna sebenarnya di balik kata-kata yang diucapkan sesuai gestur dan ekspresinya.
Belum lagi dalam menyampaikan hal yang sebenarnya sederhana dan jelas harus berputar-putar, melipir-melipir lewat pinggiran. Tidak to the point, tidak efektif efisien, menghabiskan waktu.
Masih banyak sebenarnya daftarnya. Sayangnya mereka menikmati zona nyaman, enggan berubah. Saya sangat berharap mereka tidak mengidap sindrom katak rebus.
Kota Identik dengan Serba Cepat
Sebaliknya di mamakota dan kota-kota besar lainnya banyak orang yang mengidentik-kan dengan kehidupan yang riuh, serba cepat dan selalu dikejar-kejar waktu.
Beberapa pekerja yang kurang beruntung nyaris tak punya kehidupan lain selain kantor rumah kantor rumah setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, sependek hidupnya. dan bahkan sampai level tertentu, tidak manusiawi.
Seorang teman tinggal di Cikarang dan tempat kerjanya di Jakarta Selatan harus berangkat jam 3 dinihari setelah shalat tahajud untuk menghindari kemacetan. Sampai di tempat kerja dia memarkirkan kendaraannya lalu tidur sampai jam kerja di mulai.
Bagi pemakai kendaraan umum, kondisinya lebih tragis. Pada jam-jam kerja nyaris semua kendaraan umum penuh, harus-berdesakan di dalam bus. Jalanan macet, apalagi Senin pagi. Mereka harus berjibaku melawan keletihan, copet dan para predator seksual hanya untuk bekerja.
Bagi warga yang belum pernah tinggal di Jakarta tidak akan bisa memahami ini.
Belum lagi permasalahan di kantor. Punya bos demanding, raja tega ditambah politik kantor dengan segala dinamikanya. Juga masalah domestik rumah tangga yang kadang lebih dramatis dibanding dracin.
Lelah, jenuh? Pasti.
Namun apakah di kota besar tidak bisa menerapkan gaya hidup lambat (slow living)?
Soal tempat atau lokasi sebenarnya hanyalah faktor pendukung. Untuk bisa menerapkan gaya hidup slow living diperlukan perubahan sudut pandang dan mindset baru.
Kebangkitan Kesadaran
Netizen perlu membangkitkan kesadarannya dengan memakai sudut pandang dan cara baru dalam melakukan kebiasaan hidup sehari-hari.
Untuk menerapkan gaya hidup lambat itu kita perlu mengubah cara memperlakukan waktu. Memang perusahaan menuntut para pekerjanya untuk menyelesaikan tugasnya secepat mungkin, memperoleh target setinggi-tingginya. Karena itu para pekerja bekerja secara “kurang berkesadaran” yang penting tugasnya selesai.
Padahal idealnya waktu bukan hanya untuk dihabiskan buat bekerja tapi sebagai ruang untuk memberi makna. Kita semua memahami sibuk bukan berarti lebih hidup dan produktif.
Di era digital ini nyaris semua warga metropolitan mempunyai rutinitas yang sama: scrol-scrol lini masa selama berjam-jam. Mereka terpapar informasi yang tidak dibutuhkan, bahkan informasi sampah: hoaks yang tidak penting sama sekali.
Para pengembang memahami kebiasaan user ini sehingga ia membuat strategi bagaimana caranya agar user menjadi budaknya secara suka rela. Sementara konten-konten edukasi yang inspiratif. tidak mendapat tempat.
Selektif Pilih Informasi
Slow living menyarankan kita memilih informasi atau hiburan apa yang benar-benar layak mendapat perhatian, karena hidup dibentuk oleh apa yang kita perhatikan setiap hari. Jika kita mengkonsumsi info atau hiburan yang positif kemungkinan mental kita juga akan sehat.
Agar tubuh sehat kita perlu memperlakukan tubuh bukan Sebagai mesin produksi. Tubuh kita membutuhkan tidur, makanan bergizi, gerak, dan jeda. Merawat tubuh bukan kemewahan, melainkan bentuk penghormatan terhadap kehidupan itu sendiri.
Saya dulu pernah dzolim pada tubuh sendiri waktu masih jadi buruh di sebuah company. Jam 12 malam ditelpon bos untuk datang ke kantor karena ada pekerjaan mendesak. Tentu saja tidak ada uang transport dan uang lembur.
Membangun jaringan atau networking tentu sangat penting. Namun persahabatan lebih penting daripada jaringan yang luas. Percakapan tulus dengan sahabat lebih berarti daripada seribu interaksi di media sosial. Kehadiran nyata adalah bentuk cinta yang paling sederhana.
Di kota besar memang agak susah menemukan hutan namun masih banyak taman-taman atau hutan kota yang bisa kita datangi untuk berinteraksi.
Dari alam kita menyadari bahwa semua kehidupan memiliki ritme. Seperti pepatah: “Alam semesta tak pernah terburu-buru namun semuanya tercapai”
Melihat matahari terbit, menyentuh tanah, atau berjalan di bawah pohon, menginjak rumput atau pasir dengan kaki telanjang, memeluk pohon membantu kita kembali menjadi manusia, bukan sekadar angka-angka statistik yang dicatat di kantor BPJS.
Cara Baru Memandang Kematian
Dan pada akhirnya, slow living mengajarkan cara baru memandang kematian. Kesadaran bahwa hidup ini sangat singkat membuat kita berhenti menunda kebahagiaan, mengurangi kesia-siaan, dan lebih berani memilih hal-hal yang benar-benar sesuai dengan diri sendiri, bukan karena tekanan lingkungan atau sosial media untuk memenuhi harapan orang lain.
Jadi slow living itu bukan soal tempat atau mindset. Keduanya hanya faktor pendukung. Selain soal tempat dan mindset tantangan utamanya adalah isi dompet.

Karmin Winata adalah pegiat media yang memiliki ketertarikan pada isu sosial, masyarakat, budaya, serta perkembangan dunia digital.
Ia mengawali karier sebagai Social Media Strategist di detik.com pada 2010–2012, kemudian bergabung dengan AsiaPR dan Liputan6.com, sebelum menjadi Editor di Trubus.id.
Saat ini, Karmin Winata sedang menjalani slow living di kampung halaman.

