HEADLINNEWS.ID – Hanacaraka merupakan Aksara dalam budaya Jawa yang telah ada sejak peradaban Jawa Kuno.
Hanacaraka sebagai aksara Jawa bermula dari kisah Aji Saka sebagai Raja Hindu India yang masuk ke Tanah Jawa dan mengintroduksi aksara-aksara Jawa yang terdiri atas 4 baris: hanacaraka, datasawala, padhajayanya, magabathanga.
Huruf aksara Jawa ini sudah diajarkan pada mata pelajaran Basa Jawa (bahasa Jawa) pada siswa-siswa sekolah dasar di Jawa.
Pelajaran aksara Jawa ini bagi siswa-siswi sekolah dasar di Jawa era 80-90an merupakan pelajaran yang tidak mudah dikuasai, karena bentuk huruf yang berbeda dengan huruf abjad aksara latin yang telah dikenal dan digunakan selama ini.
Kisah Aji Saka merupakan kisah popular bagi masyarakat tradisional masyarakat Jawa yang menjelaskan terjadinya kesalahpahaman manusia yang berujung dengan adanya kematian karena terjadi perang tanding antara pihak yang salah paham.
Sembada dan Dora yang sama-sama mempertahankan pesan Sang Raja, dikisahkan harus tewas dalam perang tanding akibat mempertahankan pendiriannya masing-masing. Jika difahami lebih jauh, kisah ini dapat ditarik ke arah yang lebih mendalam tentang filosofi hakikat hidup manusia (Estiyanti & al-Masjid, 2021).
Hanacaraka sebuah Epistemologi Keislaman
Aksara-aksara ini bukan semata tulisan tetapi memiliki filosofi Ketuhanan dalam hidup manusia di dunia.
Baris pertama: ha-na-ca-ra-ka berarti ono caraka atau ada seorang utusan. Gagasan konsep manusia sebagai utusan ini diletakkan dalam konsep khalifah. Bahwa adanya manusia sebagai makhluk utusan Tuhan yang bertugas untuk membentuk dan mencipta kemakmuran bagi kehidupan manusia dan juga alam semesta.
Manusia sejatinya memahami bahwa eksistensi dan hadirnya adalah membangun nilai-nilai kemanusiaan yang mendasarkan pada keilahiahan. Sang Utusan membawa pesan dan juga hukum-hukum Tuhan untuk disampaikan kepada manusia.
Hanacaraka juga menjelaskan gagasan kenabian, bahwa Allah mengutus Nabi dan RasulNya kepada umat manusia sebagai petunjuk agar manusia selalu berada di dalam jalan Tuhan (Qs.9:128). Utusan Allah mengemban amanahNya untuk mengajak setiap umatnya kembali pada Allah.
Gagasan Kenabian ini menjadi penghubung utama antara manusia dengan Tuhan, tanpa adanya utusan (caraka) maka manusia tak akan mengenal Tuhannya (Qs. 10:101).
Baris kedua terdapat kalimat datasawala, kalimat ini bermakna adanya atau terjadinya pertentangan atau perdebatan. Ketika utusan itu hadir di tengah manusia, maka sebagian manusia akan menerima atau menolak apa yang diutus oleh Tuhan kepadanya.
Pertentangan untuk menerima atau menolak apa yang dibawa oleh caraka. Seperti halnya para Nabi yang mendapat penolakan dari kaumnya karena menganggap pesan yang dibawa bertentangan dengan apa yang diyakininya selama ini (Qs.4:54, 11:53).
Datasawala juga menunjukkan ide dan filosofi takdir. Data bermakna dipanggil, dalam hal ini kehidupan manusia tetap berjalan hingga saatnya ia harus siap ketika dipanggil pulang menghadapNya (Awalin, 2017).
Manusia tidak mampu sawala, tidak mampu menolak apa yang telah ditentukan oleh Allah. Manusia hanya menerima dan menjalankan apa yang telah ditentukan olehNya (Qs.89: 27-28).
Kehendak Allah dalam hukum adalah Kehendak Tertinggi, tak ada makhluk di alam semesta ini mampu menolak apa yang telah ditentukan olehNya.
Bahwa posisi manusia berada dalam ruang takdirNya, segenap akal yang menyelimuti manusia hakikatnya juga bagian dari takdir Allah pula.
Sehebat apapun rencana yang telah disusun oleh manusia, akan tetapi hasil akhir dari segala apa yang telah direncanakan telah ditentukan oleh Allah (Athoillah, t.t.).
Dalam baris ketiga terdapat kalimat padhajayanya, atau sama-sama meraih kejayaan, sama-sama kuat. Kalimat ini mengandung makna bahwa manusia harus mampu meletakkan Tuhan di dalam batinnya untuk meraih kemenangan (Susilo & Indira, 2021).
Bahwa Jaya atau keunggulan akan diraih oleh manusia ketika ia mampu memasukkan atau meletakkan Tuhan ke dalam hatinya (Qs.2:152).
Dalam tasawuf dikenal konsep manunggaling kawula Gusti, bahwa segenap raga dan rasa manusia adalah dimulai karena Allah, bersama Allah, dan untuk Allah semata. Konsep manusia yang tak terpisahkan antara jiwa dengan Tuhannya (Qs.50:16).
Kalimat terakhir adalah magabathanga, ia bermakna semua makhluk pada akhirnya akan menjadi bathang (jasad mati atau bangkai). Manusia bukanlah makhluk abadi, karena yang abadi hanyalah Allah semata (Qs.16:96).
Sehebat apapun, sekaya apapun, secantik apapun manusia pada akhirnya akan mengalami kematian (Qs.3:185). Dalam perspektif tasawuf terdapat kalimat: matilah engkau sebelum mati, maknanya adalah setiap manusia hendaknya mematikan dirinya dari segenap kehendak duniawi.
Syaikh Abdul Qadir Jilani menjelaskan bahwa hendaknya setiap manusia mematikan segenap hawa nafsu dan segera matikan dari mengikuti segala makhluk dan dari berbagai sebab (Baharuddin, 2024).
Magabathanga sejatinya menghendaki manusia yang mampu menjauhi segenap nafsu hewani dengan mematikan segala ego untuk menguasai dan menundukkan.
Manusia harus mampu melepaskan diri dari permainan dunia yang penuh kepalsuan yang seringkali meninabobokkan juga melenakan (Qs.6:32).
Magabathanga sejatinya mengajarkan bahwa manusia hanyalah bentuk dari ketiadaan, karena kematian (bathang) menunjukkan sebuah ketiadaan.
Manusia yang berasal dan berawal dari ketiadaan lalu diadakan oleh Allah, kemudian diwafatkan olehNya. Ia yang dulunya tidak ada, kemudian kembali menjadi tidak ada, lalu apa yang yang dapat disombongkan oleh manusia?
Para utusan (caraka) yaitu para Nabi dan Rasul telah hadir untuk mengingatkan perilaku manusia (Qs.2:119, 4:80), kini tidak ada jalan lain untuk kembali padaNya melalui pesan yang dibawa oleh para caraka yang telah menyampaikan ayat-ayat Tuhan.
Ketika ia tiada dalam kehidupan, ia pun kelak akan mempertanggungjawabkan segenap perbuatannya di hadapan Allah (Qs.74:38).
Penutup
Hukum-hukum Tuhan dalam kebudayaan manusia tidak selamanya dihadirkan dalam bentuk yang keras, ia acapkali diterjemahkan dalam beragam keindahan aksara.
Sejatinya aksara Ha-na-ca-ra-ka bukan semata difahami dalam bentuk kata dan huruf, ia adalah representasi hukum-hukum Tuhan yang syarat dengan nilai-nilai filosofi hidup manusia dalam budaya hukum masyarakat Islam Jawa.
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Qs. Adz-Dzariyat [51]: 56).

