Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

HUT KE-67 TSS Indonesia, Rawat Persatuan Lewat Pencak Silat dan Tiga Susila

Achmad Luthfi Khakim
By - Achmad Luthfi Khakim
7 Min Read
HUT KE-67 TSS Indonesia, Rawat Persatuan Lewat Pencak Silat dan Tiga Susila

HEADLINNEWS.IDPURWOREJO – Pencak silat tidak selalu identik dengan pertarungan. Bagi Perguruan Seni Bela Diri Pencak Silat Tri Susila Indonesia (TSS Indonesia), pencak silat justru menjadi jalan untuk membentuk karakter, mengendalikan diri, sekaligus merawat persatuan di tengah masyarakat.

Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam peringatan HUT ke-67 TSS Indonesia yang digelar sederhana di Padepokan TSS Indonesia, Kelurahan Cangkrep Kidul, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, Sabtu (8/8/2026) malam.

Di usia yang telah melewati enam dekade, TSS Indonesia berupaya mempertahankan nilai-nilai yang menjadi dasar berdirinya perguruan. Salah satunya adalah bagaimana kemampuan bela diri tidak digunakan untuk menunjukkan kekuatan, tetapi justru menjadi sarana membangun pribadi yang mampu mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Penasihat TSS Indonesia, Lasiman, mengungkapkan, perjalanan perguruan tersebut tidak bisa dilepaskan dari sejarah lahirnya Tri Susila pada Minggu Legi, 9 Agustus 1959, di Dusun Joho, Cangkrep Kidul.

Perguruan tersebut diprakarsai almarhum Tugino, BA, yang saat itu prihatin terhadap berbagai persoalan yang terjadi di kalangan pemuda. Perbedaan politik dan kepentingan pada masa tersebut turut memunculkan kesalahpahaman hingga perselisihan antarkelompok.

“Gagasan tersebut tidak terlepas dari keprihatinan almarhum Pak Tugino, BA, terhadap berbagai kesalahpahaman dan perselisihan yang pernah terjadi di kalangan pemuda,” ungkap Lasiman.

Dari kondisi itulah kemudian lahir sebuah perguruan yang membawa semangat persatuan. TSS Indonesia tidak hanya mengajarkan teknik pencak silat, tetapi juga menanamkan falsafah Tri Susila, yakni Susila Pikir, Susila Perkataan, dan Susila Perbuatan.

Ketiga nilai tersebut menjadi pedoman agar setiap anggota mampu mengendalikan dirinya sebelum mengendalikan keadaan di sekitarnya.

Susila Pikir mengajarkan agar seseorang menjaga pikirannya dari niat buruk. Sebab, pikiran akan menjadi awal dari lahirnya perkataan dan tindakan.

Kemudian Susila Perkataan, yakni menjaga ucapan agar tidak menyakiti orang lain. Dalam kondisi emosi sekalipun, seseorang dituntut tetap mampu mengendalikan diri dan berpikir sebelum berbicara.

Sementara Susila Perbuatan mengajarkan bagaimana kemampuan yang dimiliki harus digunakan secara bijaksana. Seorang pesilat tidak dibenarkan menggunakan ilmu bela diri untuk kesombongan, intimidasi, maupun merendahkan orang lain.

“Susila Pikir yaitu menjaga pikiran dari niat buruk. Pikiran baik melahirkan kata dan aksi baik. Susila Perkataan yaitu menjaga lisan agar tidak menyakiti. Bahkan saat marah, tetap berpikir sebelum bicara. Susila Perbuatan yaitu mengendalikan jurus. Kemampuan silat tidak untuk sombong atau merendahkan,” tegas Lasiman.

Menurutnya, ketika tiga susila tersebut benar-benar diamalkan, seorang anggota TSS tidak hanya memiliki kemampuan bela diri, tetapi juga memiliki pengendalian diri dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Kalau tiga susila itu bisa dilaksanakan, insya Allah pemuda akan lebih terkendali, aman, dan mampu menjaga lingkungannya. Walaupun kita benar, walaupun kita bisa pencak, gerak pencak pun harus tetap sopan,” imbuhnya.

Lasiman menjelaskan, puncak dari pengamalan tiga susila tersebut adalah kemampuan seseorang mencapai kondisi netral atau nol. Artinya, seseorang tidak mudah dikendalikan oleh emosi, hawa nafsu, maupun pengaruh negatif dari luar.

“Kalau kita sudah bisa nol, bisa netral, di situlah sebetulnya ada unsur kekuatan ilahiyah yang luar biasa,” ujarnya.

Kondisi netral tersebut bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, seseorang dituntut mampu mengambil sikap secara bijaksana dan mengetahui kapan harus bertindak maupun menahan diri.

TSS Ingin Lahirkan Pesilat Berkarakter

Sementara itu, Ketua Umum TSS Indonesia, Eko Satyawan, SP, mengatakan perjalanan 67 tahun menjadi momentum bagi perguruan untuk terus melakukan evaluasi sekaligus memperkuat pembinaan generasi muda.

Menurutnya, pesilat yang hebat bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan teknik dan prestasi di arena pertandingan. Lebih dari itu, seorang pesilat harus memiliki etika, kemandirian, ketangguhan, serta rasa hormat kepada orang lain.

“Harapan saya dalam memperingati harlah kali ini adalah menjadikan pesilat yang tahu diri, tahu adab, serta tahu dan menghormati sesepuh atau gurunya. Menjadi pesilat itu bukan hanya tentang kemampuan bersilat sendiri. Tetapi bagaimana menjadi pesilat yang mandiri, tangguh, tanggap, tanggon, dan trengginas berdasarkan koridor Tri Susila,” ungkap Eko.

Untuk memperkuat persaudaraan, TSS Indonesia juga menyiapkan agenda Harlah pada September 2026 yang akan diisi dengan kegiatan longmarch.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarpesilat serta menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri dan sesepuh perguruan.

Di sisi lain, pembinaan prestasi olahraga juga terus dilakukan. Sejumlah atlet TSS Indonesia telah mengikuti berbagai ajang, mulai dari Popda, kejuaraan daerah hingga kompetisi di luar daerah.

Dalam waktu dekat, TSS Indonesia dijadwalkan mengirimkan atletnya untuk mengikuti kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Tengah di GOR Jatidiri.

Menariknya, pembinaan TSS Indonesia juga tidak mengenal batas usia. Mulai dari anak usia PAUD hingga orang dewasa dan sesepuh dapat belajar bersama dalam satu lingkungan perguruan.

“Mulai dari PAUD sampai dewasa atau sesepuh bisa bersama-sama saling mengisi dan belajar bagaimana cara bersilat yang baik,” kata Eko.

Dari Cangkrep Kidul untuk Persatuan

TSS Indonesia lahir dari keprihatinan terhadap konflik antarkelompok pemuda dan padepokan silat yang pada saat itu dipengaruhi oleh persoalan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak susila.

Nama Tri Susila kemudian menjadi identitas sekaligus falsafah perguruan. Tri Susila dimaknai sebagai Tiga Rahasia Individu, yaitu Suasana Silaturahmi Tiga Kunci Hidup Manusia.

Dalam perjalanan awalnya, guru besar almarhum Haji Wono Utomo dari Jaya Titis Setia Hati juga mengamanahkan agar Tri Susila masuk dalam IPSI Kabupaten Purworejo, sehingga perkembangan pencak silat dapat berjalan dalam koridor organisasi resmi.

Setelah almarhum Tugino wafat pada 2013, kepemimpinan perguruan kemudian diteruskan oleh Eko Satyawan hingga saat ini.

Bagi Lasiman, keberadaan TSS Indonesia tidak akan memiliki makna apabila nilai-nilai yang diajarkan hanya berhenti di padepokan. Karena itu, setiap anggota diharapkan mampu membawa falsafah Tri Susila dalam kehidupan sehari-hari.

“Semua anggota Tri Susila harus bisa mengamalkan dalam sikap hidup sehari-hari. Kalau tiga susila itu sudah dipegang, insya Allah diri kita aman dan lingkungan kita juga aman,” pungkasnya.

Memasuki usia ke-67, TSS Indonesia menunjukkan bahwa pencak silat dapat menjadi lebih dari sekadar seni bela diri.

Dari sebuah padepokan di Cangkrep Kidul, nilai berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik terus diwariskan kepada generasi demi generasi.

Sebab pada akhirnya, pesilat sejati bukan hanya mereka yang mampu menjatuhkan lawan, tetapi mereka yang mampu menaklukkan diri sendiri.

Editor: Achmad Luthfi Khakim
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!