HEADLINNEWS.ID β PURWOREJO β Pemerintah Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, menyiapkan terobosan baru dalam pengelolaan sampah dan pembiayaan irigasi pertanian. Sampah rumah tangga yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan akan dikumpulkan, dijual, kemudian hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung biaya operasional irigasi.
Konsep tersebut dibahas dalam rapat koordinasi persiapan musim tanam ketiga (MT III) 2026 bersama para petani, Selasa (4/8/2026) malam. Rapat dipimpin Kepala Desa Krandegan Dwinanto.
Bagi Pemerintah Desa Krandegan, inovasi ini menjadi upaya mencari sumber pembiayaan yang lebih berkelanjutan. Pasalnya, selama ini pelayanan irigasi bagi petani masih mengandalkan dukungan dana CSR.
Sejak 2013, biaya operasional pompa air, termasuk pompa bertenaga surya dan mesin diesel, ditanggung melalui CSR sehingga petani dapat menikmati layanan irigasi tanpa pungutan.
Namun, pemerintah desa menyadari bahwa dukungan CSR memiliki keterbatasan. Karena itu, desa mulai menyiapkan mekanisme agar masyarakat dapat ikut berkontribusi sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan yang dilakukan.
Setiap Rumah Tangga Didorong Memilah Sampah
Dalam mekanisme yang dirancang, setiap rumah tangga akan memilah sampah sejak dari sumbernya.
Sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual, seperti plastik, botol, kardus, kertas, besi dan berbagai barang bekas lainnya, akan dipisahkan dari sampah lainnya.
Setiap bulan, sampah tersebut kemudian dikumpulkan melalui titik pengumpulan yang telah ditentukan di masing-masing dusun.
Sampah yang terkumpul akan ditimbang dan dinilai berdasarkan harga pasar. Hasil penjualannya kemudian dicatat sebagai saldo tabungan warga melalui BMT atau lembaga keuangan yang ditunjuk oleh pemerintah desa.
Saldo tersebut nantinya tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi. Warga juga dapat memanfaatkannya untuk membayar biaya irigasi maupun Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Dengan mekanisme tersebut, masyarakat memiliki insentif untuk menjaga kebersihan sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari sampah yang mereka hasilkan sendiri.
Semua Dicatat melalui Aplikasi
Untuk menghindari pencatatan manual yang rawan kesalahan, Pemerintah Desa Krandegan juga menyiapkan sistem berbasis digital.
Tim IT desa telah mengembangkan aplikasi untuk mencatat jumlah sampah yang disetorkan, hasil penimbangan, nilai penjualan, serta saldo tabungan masing-masing warga.
Keberadaan aplikasi tersebut diharapkan membuat proses pengelolaan lebih transparan. Masyarakat dapat mengetahui berapa nilai sampah yang mereka setorkan dan bagaimana perkembangan saldo yang dimiliki.
Digitalisasi juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.
Tidak Sekadar Mengurus Sampah
Kepala Desa Krandegan Dwinanto menegaskan, program tersebut dirancang sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan berbagai kebutuhan desa.
βIni bukan sekadar program pengelolaan sampah. Kami mengintegrasikan ketahanan pangan, kemandirian energi, pengelolaan sampah, dan digitalisasi dalam satu ekosistem. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai kami ubah menjadi sumber pembiayaan irigasi, sehingga manfaatnya kembali kepada masyarakat,β ujarnya.
Menurut Dwinanto, kunci utama keberhasilan program berada pada partisipasi masyarakat.
Jika setiap rumah tangga konsisten memilah sampah, maka volume sampah bernilai ekonomi yang terkumpul akan semakin besar. Pada akhirnya, semakin besar pula potensi dana yang dapat digunakan untuk membantu pembiayaan irigasi dan kebutuhan warga.
Membangun Kemandirian dari Lingkungan Sekitar
Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya Desa Krandegan mengembangkan konsep ekonomi sirkular.
Barang yang sebelumnya dianggap sebagai limbah tidak langsung berakhir di tempat pembuangan. Sampah dipilah, dikumpulkan, dijual, kemudian hasilnya dikembalikan dalam bentuk manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Bagi sektor pertanian, keberadaan irigasi yang berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan bercocok tanam.
Karena itu, Pemerintah Desa Krandegan berharap skema baru tersebut dapat menjadi sumber pembiayaan alternatif yang tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendukung keberlanjutan pertanian.
Jika terlaksana secara konsisten, konsep tersebut dapat menjadi contoh bagaimana persoalan sampah di tingkat rumah tangga diubah menjadi peluang untuk memperkuat ekonomi masyarakat dan pembiayaan fasilitas pertanian.
Dari sampah lahir nilai ekonomi. Dari nilai ekonomi, irigasi tetap mengalir. Dan dari irigasi, sawah tetap produktif.

