HEADLINNEWS.ID – PURWOREJO – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI, Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd., mengajak masyarakat untuk kembali menguatkan peran keluarga, khususnya figur ayah, sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter generasi muda di tengah tantangan era digital.
Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan Kemendukbangga/BKKBN Goes to Pesantren di Institut Agama Islam An Nawawi (IAIAN) Berjan, Purworejo, Kamis (18/6/2026).
Menurut Wihaji, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk kepribadian anak. Karena itu, kehadiran ayah tidak cukup dimaknai sebagai sosok pencari nafkah, tetapi juga harus hadir dalam proses pengasuhan, pendidikan, hingga pendampingan anak menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Anak membutuhkan sosok yang memberi perhatian, menjadi teladan, dan membimbing mereka mengambil keputusan yang benar. Itulah makna kehadiran ayah yang sesungguhnya,” ujarnya.
Tema Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026, “Ayah Wajib Hadir”, lanjut Wihaji, menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan keluarga sangat bergantung pada keterlibatan kedua orang tua dalam mendidik anak.
Ia menjelaskan, bagi para santri yang menjalani pendidikan di pesantren, nilai-nilai tersebut tetap dapat dirasakan melalui peran para kiai, ustaz, dan pengajar yang setiap hari membimbing, mengarahkan, sekaligus menjadi teladan dalam kehidupan.
Selain menekankan pentingnya keluarga, Wihaji juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi harus disikapi secara cerdas. Generasi muda dituntut mampu memanfaatkan kemajuan digital untuk hal-hal yang produktif tanpa kehilangan nilai moral dan agama.
“Jangan sampai teknologi justru mengendalikan kehidupan kita. Yang harus mengendalikan adalah manusia dengan bekal nilai agama dan pendidikan keluarga,” katanya.
Di hadapan para santri dan anggota Generasi Berencana (GenRe) Jawa Tengah, Wihaji mengajak mereka terus mempersiapkan masa depan melalui pendidikan, penguatan karakter, dan penerapan delapan fungsi keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kolaborasi antara keluarga, pesantren, dan pemerintah menjadi modal penting untuk melahirkan generasi yang sehat, tangguh, berakhlak mulia, dan siap menghadapi perubahan zaman menuju Indonesia Emas 2045.

