Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Besar Tinggalannya, Kecil Tulisannya: Tanggungjawab Kita pada Sejarah Kudus

KH Muh Aslim
4 Min Read

HEADLINNEWS.IDBerkali-kali saya ditanya, mengapa Pak Aslim tidak pernah meneliti Sunan Muria. Bahkan, tokoh masyarakat Dawe pernah sangat berharap agar situs Sunan Muria diteliti dan ditulis sejarahnya. Karena, mungkin hanya Sunan Muria saja yang tidak ada buku sejarahnya.

Bagi yang sangat berkepentingan, saya jawab bahwa situs Sunan Muria sudah banyak berubah. Bahkan, nisan asli Sunan Muria sendiri sudah tidak ada. Di sisi lain, susah sekali menemukan catatan sezaman yang menulis tentang Sunan Muria yang dapat dijadikan rujukan. Satu-satunya buku cerita yang mengisahkan Sunan Muria hanya Serat Babad Tanah Jawi. Itu pun oleh para peneliti dianggap fiksi.

Sejarah Sunan Kudus yang data-datanya lengkap, baik yang primer maupun sekunder saja, sangat minim buku sejarahnya. Satu-satunya sejarawan lokal yang pernah menulis sejarah Sunan Kudus adalah Bp. Solihin Salam, seorang wartawan dan anggota Muhammadiyah. Beliau sangat getol meneliti dan menulis sejarah Kudus dan Sunan Kudus.

Ada dua judul buku yang saya ketahui dari hasil penulisannya. Itu pun, bagi saya, tidak sepadan dengan kebesaran Sunan Kudus dan Negeri Kudus. Seharusnya, pemerintah Kabupaten Kudus-lah yang sangat berkepentingan menerbitkan buku monumental tentang sejarah Kudus dan Sunan Kudus.

Sejak awal tahun 2023, saya diajak oleh Bp. H. Teungku Sariat Arifia (Jakarta) untuk melacak sejarah Kudus. Beliau menjelaskan bahwa Sunan Kudus memiliki peranan sangat penting dalam sejarah perkembangan di masa Kerajaan Demak dan Jepara. Beliau menyodorkan beberapa buku yang harus saya baca untuk memahami penjelasannya itu.

Salah satu buku yang berisi catatan sezaman di era Sunan Kudus adalah Suma Oriental, tulisan Tome Pires (mata-mata Portugis yang menyamar sebagai apoteker). Atas dasar penjelasannya, kami mulai berjalan meneliti, dan kami memulai dengan meneliti nisannya. Karena nisan adalah paling pokok bagi penelitian kami.

Tanggal 4 Januari 2023, kami menghadap kepada pengurus YM3SK, Bapak KH. Em. Najib Hassan (alm.), untuk mohon izin masuk cungkup makam guna melihat, meraba, mendokumentasikan, dan melakukan analisis.

Baru kali ini saya melihat nisan Sunan Kudus yang megah dan penuh wibawa. Kami berdiskusi panjang tentang nisan Sunan Kudus. Kami juga meneliti cungkup yang meliputi unsur bahan dan ornamennya. Bapak H. Teungku Sariat Arifia sudah memiliki pengetahuan cukup mendalam tentang tipologi nisan, karena lima tahun sebelumnya sudah meneliti dan menulis sejarah Fatahilah.

Setelah meneliti situs Sunan Kudus, kami melanjutkan dengan penelitian teritorial (wilayah) kekuasaan Sunan Kudus. Karena Sunan Kudus adalah pendiri atau pembangun Negeri Kudus sekaligus sebagai rajanya.

Penelitian ini berlangsung sangat lama, karena kami menerapkan grounded research atau penelitian yang bersifat komprehensif, termasuk verifikasi di lapangan.

Salah satu yang kami lakukan adalah menyusuri sungai hingga muara laut Jepara. Dengan perahu yang kami sewa, kami ditemani beberapa pegiat sejarah dari Jepara. Kami seharian memetakan wilayah Negeri Kudus.

Baru kali ini kami melakukan penelitian yang begitu melelahkan.

Sejarah Kudus dan Sunan Kudus, dibanding wali-wali lainnya, secara arkeologis adalah satu-satunya bangunan Islam terbesar di Pulau Jawa. Sekali lagi, tinggalannya besar, namun tulisan sejarahnya kecil. Ini sungguh ironi.

Kami sudah sering menyampaikan gagasan penulisan Sejarah Kudus dan Sunan Kudus kepada beberapa stakeholders Kudus, tetapi nampaknya belum ada respons (political will) dari mereka. Entah kapan mereka sadar akan pentingnya buku sejarah tersebut.

Wallahu a’lam bish-showab.

(Hasil Grounded Research Nisan, Wilayah Kekuasaan, dan Catatan Suma Oriental Tome Pires)

Editor: HL-News
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!