HEADLINNEWS.ID – SEMARANG – Teknologi informasi dan cyber yang terus berkembang pesat memunculkan kejahatan di internet berupa penyadapan alias pencurian data. Permasalahan ini mendorong dosen Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip) untuk menciptakan sebuah alat yang memanfaatkan aplikasi dalam menjaga kerahasiaan informasi penting maupun pesan di ruang digital.
Ialah Dr. Nikken Prima Puspita, S.Si., M.Sc., akademisi yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kajian Aljabar di Himpunan Matematika Indonesia (Indonesian Mathematics Society/IndoMS).l, berhasil mengembangkan aljabar matriks dan vektor untuk menjadi sistem pengamanan data dalam bentuk Kriptografi Hill Cipher.
Fungsinya untuk merahasiakan pesan melalui proses enkripsi (mengubah pesan asli menjadi bentuk acak) dan dekripsi (mengembalikan pesan acak ke bentuk semula).
Menurut pembuatnya, aplikasi yang dikembangkan tersebut, konsep awal mulanya merupakan penerapan Metode Kriptografi Hill Cipher, tetapi disesuaikan untuk dikembangkan karena cocok menjadi sebuah sistem yang mampu mencegah penyadapan di dunia maya.
“Saat ini jauh lebih kompleks memerlukan karakter berupa huruf, angka, dan tanda baca, yang menerapkan metode menggunakan operasi bilangan bulat untuk mengamankan informasi agar kerahasiaannya terjaga,” jelas Dr Nikken, melalui keterangan resmi kampus, Selasa (28/7).
Sebelumnya metode yang dikembangkan, pertama kali diperkenalkan oleh Lester Hill pada tahun 1929. Namun hingga kini, sistem ini terus mengalami perkembangan terhadap kebutuhan zaman, meskipun selama ini dinilai menjadi metode klasik.
Penelitian kemudian berlanjut, bersama ahli informatika Undip, Nurdin Bahtiar, M.T., konsep diwujudkan menjadi sebuah aplikasi perangkat lunak. Inovasi untuk mencegah penyadapan informasi tersebut, kini juga telah mendapatkan pengakuan resmi yakni sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor EC00202319591, dengan judul “Aplikasi Perangkat Lunak Kriptografi Hill-Cipher Modulo 95 Dengan Kode ASCII”.
Dr Nikken yang mengembangkan inovasi tersebut menjelaskan bahwa aplikasi sangat membantu pengguna, khususnya masyarakat awam, berguna dalam pengamanan data tidak harus dilakukan dengan perhitungan matematis manual. Melainkan, proses merahasiakan data menjadi lebih praktis dan efisien.
“Data yang tersimpan dapat terlindungi dan bila diakses harus dibutuhkan kunci rahasia (Private Key) untuk menjaga sistem. Maka dari itu, setiap kali akan membuka selalu memasukkan matriks sandi kemudian menekan menu “Hitung Invers”, yang nantinya digunakan dalam proses untuk masuk,” jelas dia.

