HEADLINNEWS.ID – Suasana perayaan Cap Go Meh di Kota Solo kembali semarak dengan hadirnya kirab barongsai yang menyusuri sejumlah ruas jalan kota, Selasa (3/3/2026). Tidak hanya menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, kegiatan ini juga menjadi simbol keberagaman yang terus hidup di tengah masyarakat Solo.
Sebanyak empat kelompok barongsai ikut ambil bagian dalam kirab tersebut, yakni Barongsai Tripusaka, Barongsai Macan Putih, Barongsai Budi Dharma, dan Barongsai Singa Mutiara. Masing-masing kelompok bergerak menuju jalur yang telah ditentukan untuk menyapa masyarakat di berbagai kawasan Kota Solo.
Rombongan Barongsai Tripusaka memulai perjalanan dari Klenteng Coyudan sekitar pukul 09.46 WIB. Sebelum bergerak, para pemain mengikuti prosesi doa pemberkatan sebagai bagian dari tradisi sebelum kirab dimulai.
Dengan iringan tabuhan musik, kibaran bendera, atraksi barongsai, hingga gerakan liong, puluhan pemain membawa kemeriahan Imlek ke ruang publik. Sekitar 80 orang terlibat dalam kirab tersebut, mulai dari pemain hingga pendukung kegiatan.
Pembina Utama Perkumpulan Liong dan Barongsai Tripusaka Surakarta, Adjie Chandra, mengatakan kirab barongsai menjadi bagian dari tradisi Cap Go Meh yang diperingati setiap tanggal 15 bulan pertama dalam kalender Tionghoa.
“Cap Go Meh menjadi penutup rangkaian perayaan Imlek. Pada hari ini masyarakat banyak melakukan sembahyang di klenteng maupun rumah masing-masing. Sementara bagi perkumpulan barongsai, kegiatan dilakukan dengan berkeliling ke berbagai wilayah,” jelasnya.
Menurut Adjie, keberadaan barongsai di jalanan memiliki makna spiritual dan sosial. Dalam tradisi Tionghoa, perjalanan barongsai dipercaya sebagai simbol membersihkan lingkungan dari energi negatif sekaligus membawa keberuntungan bagi masyarakat yang menyaksikannya.
“Barongsai yang melewati suatu tempat dipercaya membawa kebaikan. Masyarakat juga tidak harus datang ke klenteng, karena mereka bisa ikut merasakan suasana perayaan ketika rombongan melewati lingkungan mereka,” katanya.
Kirab Barongsai Tripusaka sendiri mengambil rute dari Klenteng Coyudan menuju Kalilarangan, Pasar Klewer, Jalan Rajiman, Singosaren, Jalan Slamet Riyadi, Nonongan, Notosuman, hingga berakhir di Sraten.
Di balik kemeriahan tersebut, ada pesan kuat tentang keberagaman. Adjie menyebut mayoritas pemain Barongsai Tripusaka justru berasal dari masyarakat Jawa.
“Sekitar 97 persen pemain kami adalah anak-anak Jawa. Mereka mampu memainkan barongsai, berprestasi, dan menjaga tradisi ini bersama-sama,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa budaya tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu, tetapi dapat dipelajari dan dirawat bersama.
Melalui kirab Cap Go Meh, Kota Solo kembali menunjukkan wajahnya sebagai kota yang mampu merawat keberagaman. Tradisi Tionghoa, budaya lokal, dan partisipasi masyarakat berpadu menjadi satu perayaan yang terbuka bagi semua kalangan.

