Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Tradisi Bersih-Bersih Mangkunegaran, Warga Tionghoa dan Jawa Bersatu Sambut Imlek 2577

HL-News
By
HL-News
4 Min Read
Oleh: HL-News

HEADLINNEWS.IDNuansa berbeda terasa di lingkungan Pura Mangkunegaran menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Ratusan warga Tionghoa memenuhi kawasan istana dengan membawa berbagai alat kebersihan, mulai dari sapu lidi, sapu ijuk, pengki, kain lap, hingga komeceng.

Bukan sekadar kegiatan kerja bakti, aksi tersebut merupakan bagian dari tradisi membersihkan lingkungan Mangkunegaran sebagai simbol menyambut datangnya tahun baru. Menariknya, kegiatan ini juga diikuti langsung oleh KGPAA Mangkunegara X bersama komunitas masyarakat Tionghoa Solo.

Dengan mengenakan pakaian identitas komunitas masing-masing, para peserta bersama-sama membersihkan berbagai sudut kawasan Pura Mangkunegaran. Suasana gotong royong terlihat ketika masyarakat, komunitas budaya, hingga para abdi dalem berbaur dalam satu kegiatan.

Tradisi bersih-bersih menjelang Imlek ini telah berlangsung untuk ketiga kalinya di Mangkunegaran. Dalam budaya Tionghoa, membersihkan rumah atau lingkungan menjelang tahun baru memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar menjaga kebersihan.

Tradisi tersebut menjadi simbol membersihkan diri dari hal-hal buruk di masa lalu sekaligus menyambut keberuntungan dan harapan baru. Catatan mengenai tradisi ini telah muncul sejak masa Dinasti Song melalui karya Wu Zimu, Mengliang Lu, dengan pepatah “Làyuè èrshísì, dǎn chén sǎo fángzi” yang mengajarkan membersihkan rumah pada hari ke-24 bulan ke-12 kalender lunar.

Kegiatan di Mangkunegaran melibatkan berbagai unsur masyarakat Tionghoa Solo, di antaranya Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Pemuda Khong Hu Cu (PAKIN), perwakilan Kelenteng Tien Kok Sie, Tripusaka, serta Junior Chamber International (JCI).

Tidak hanya komunitas Tionghoa, kegiatan ini juga melibatkan para abdi dalem dan abdi muda Mangkunegaran. Keterlibatan generasi muda menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan budaya sekaligus mengenalkan nilai-nilai tradisi kepada generasi berikutnya.

Dalam sambutannya, KGPAA Mangkunegara X menyampaikan bahwa perayaan Imlek di Kota Solo menjadi gambaran bagaimana keberagaman dapat berjalan dalam suasana kebersamaan.

“Tahun baru Imlek tentu momen yang sangat spesial untuk kita semua. Hari ini kita melihat bahwa perayaannya sangat besar, tetapi yang paling penting adalah penuh dengan kebersamaan. Inilah yang membuat Kota Solo menjadi spesial, karena banyak latar belakang yang berbeda tetapi tetap bisa bersatu,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan bersama seperti ini menunjukkan bahwa budaya tidak berdiri sendiri, melainkan saling memperkaya. Tradisi Jawa dan Tionghoa dapat bertemu melalui nilai yang sama, yakni gotong royong, rasa hormat, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Perwakilan komunitas Tionghoa Solo, Liliek Setiawan, mengatakan kegiatan tersebut memiliki makna spiritual yang lebih luas. Membersihkan Mangkunegaran tidak hanya dimaknai sebagai membersihkan lingkungan fisik, tetapi juga sebagai pengingat untuk memperbaiki diri.

“Jadi bukan hanya diundang untuk bersih-bersih secara fisik, tetapi sebenarnya kita diminta membersihkan jiwa kita. Karena hati yang gembira adalah obat yang terbaik,” tuturnya.

Usai kegiatan, Pura Mangkunegaran juga menyuguhkan berbagai hidangan yang menjadi simbol pertemuan budaya Jawa dan Tionghoa. Sajian seperti onde-onde, kue lapis, arem-arem, kueku, jeruk, hingga wedang secang buatan abdi dalem menjadi bagian dari jamuan kebersamaan.

Beragam makanan tersebut bukan hanya pelengkap acara, tetapi juga memiliki makna simbolis tentang keberuntungan, keharmonisan, dan hubungan baik antarbudaya.

Melalui tradisi bersih-bersih menjelang Imlek ini, Mangkunegaran kembali menunjukkan perannya sebagai ruang pertemuan berbagai budaya. Semangat gotong royong dan penghargaan terhadap keberagaman menjadi pesan utama bahwa identitas budaya dapat tetap terjaga sekaligus berjalan bersama perkembangan zaman.

Di Kota Solo, keberagaman bukan hanya dirayakan dalam acara besar, tetapi juga tumbuh melalui kegiatan sederhana yang mempertemukan masyarakat dalam kebersamaan.

Editor: HL-News
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!